Apotek Rahmat

  • Home
  • Apotek Rahmat

Apotek Rahmat Pelayanan Obat Resep, Obat Bebas, Obat Herbal dan Alat Kesehatan

Urang Padang mambali ubek ka Bukiktinggi....😁
13/11/2020

Urang Padang mambali ubek ka Bukiktinggi....😁

21/09/2020

PENYAKIT REMATIK

# Pengertian Rematik
Rematik atau penyakit yang ditandai dengan nyeri sendi disebut juga rheumatoid arthritis. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun ketika sistem imun pada tubuh seseorang menyerang sel-sel tubuhnya sendiri.

Dalam hal ini, area persendian adalah area yang diserang oleh sistem imun pengidap rheumatoid arthritis. Akibatnya, peradangan kronik dan rasa nyeri yang hebat pada sendi-sendi yang terserang terjadi.

# Faktor Risiko Rematik
Sampai saat ini penyebab utama seseorang bisa mengidap penyakit rematik belum ditemukan, tetapi faktor genetik dipercaya memiliki peran dalam timbulnya penyakit ini. Faktor risiko yang meningkatkan seseorang mengalami penyakit ini, antara lain:

- Jenis kelamin yaitu wanita.

- Usia 40-60 tahun.

- Riwayat di keluarga (faktor genetik)

- Kebiasaan merokok.

- Obesitas.

Paparan dari lingkungan kerja seperti asbes maupun silika, meskipun sampai saat ini masih sulit untuk dijelaskan secara pasti.

# Penyebab Rematik
Rheumatoid arthritis disebabkan oleh adanya kesalahan pada sistem imun seseorang yang menyerang sinovium atau sebuah membran yang melapisi sendi-sendi dalam tubuh. Akibatnya, sinovium menjadi meradang dan menyebabkan kerusakan pada tulang rawan dan tulang di sekitar sendi. Tendon dan ligamen yang berada di sekitar sendi menjadi lemah dan merenggang. Seiring berjalannya waktu, sendi pun akan kehilangan bentuk dan mengalami perubahan posisi dari yang seharusnya.

# Gejala Rematik
Seseorang dengan penyakit rheumatoid arthritis biasanya memiliki tanda dan gejala berupa bengkak dan radang pada sendi, serta terdapat kekakuan pada sendi yang memburuk pada pagi hari dan setelah lama diistirahatkan. Selain gejala pada sendi, biasanya pengidap rheumatoid arthritis juga memiliki kondisi tubuh yang tidak prima, sering kelelahan, lesu dan lemas, sering mengalami demam yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, dan mengalami penurunan berat badan.

Pada perjalanan awal, penyakit biasanya yang diserang oleh penyakit ini adalah sendi-sendi kecil seperti pada jari-jari tangan maupun jari-jari kaki. Penyakit ini akan berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini menimbulkan pengaruh terhadap sendi-sendi yang lebih besar seperti pergelangan tangan, pergelangan kaki, bahu, siku, dan pinggul.

Kurang lebih 40 persen pengidap rheumatoid arthritis memiliki tanda dan gejala yang tidak menimpa persendian melainkan struktur lain seperti kulit, mata, paru-paru, jantung, ginjal, sel-sel saraf, sumsum tulang, dan pembuluh darah.

Tanda dan gejala dari rheumatoid arthritis sangat beragam dari tingkat keparahannya dan dapat datang dan pergi. Seiring berjalannya waktu, rheumatoid arthritis ini menyebabkan deformitas dan pergeseran poses sendi.

# Diagnosis Rematik
Penyakit rheumatoid arthritis ini cukup sulit untuk didiagnosis pada fase awal, karena tanda dan gejalanya menyerupai penyakit-penyakit yang lain. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan pada tulang dan sendi dan mencari adanya pembengkakkan pada area tersebut. Selain itu, penegakan diagnosis bisa dibantu dengan beberapa pemeriksaan penunjang, yaitu melakukan pemeriksaan melalui spesimen darah. Melalui pemeriksaan darah, dilakukan pengecekan ada atau tidaknya suatu rheumatoid faktor pada diri seseorang.

# Pengobatan Rematik
Penanganan dari penyakit ini adalah dengan menurunkan dan menghilangkan peradangan yang terjadi. Meski begitu, penyakit rheumatoid arthritis ini sendiri tidak dapat disembuhkan secara total. Obat-obatan yang dapat diberikan kepada pengidap rheumatoid arthritis, antara lain:

-Obat anti radang golongan nonsteroid.

-Obat anti radang golongan steroid.

-Vitamin dan suplemen lainnya.

Selain obat-obatan pengidap rheumatoid arthritis disarankan untuk menjalani fisioterapi untuk membantu mengembalikan kelenturan dari sendi-sendi yang sakit. Pada keadaan yang cukup parah, penanganan dengan jalan pembedahan pun menjadi suatu opsi bagi pengidap rheumatoid arthritis.

# Pencegahan Rematik
Penyakit rheumatoid arthritis ini sampai saat ini tidak dapat dicegah, karena penyebab pasti dari penyakit ini sendiri masih belum diketahui. Namun, tidak ada salahnya untuk menghindari faktor risiko yang dapat dihindari dan menjalani hidup yang sehat.

Sumber: halodoc

10/09/2020

JENIS-JENIS, MEREK DAGANG, serta DOSIS ANTIHISTAMIN

Ini adalah kelanjutan postingan Apotek Rahmat terakhir, agak telat update-nya, karena gonjang-ganjing berita Puan Maharani yang mempertanyakan kadar "kepanca-silaan" orang Minang....😁

Berikut ini dosis antihistamin berdasarkan jenis-jenis obatnya. Sebagai informasi, penggunaan masing-masing jenis obat ini dilarang bagi kelompok usia yang tidak disebutkan di bawah.

* BROMPHENIRAMINE
Merek dagang: Alco Plus, Alco Plus DMP, Ares Cold & Allergy, Ares Cold & Cough

Bentuk/Sediaan obat: Sirop
Dosis:
Anak usia 13 tahun hingga dewasa: 4 mg tiap 4-6 jam.
Anak usia 7-12 tahun: 2 mg tiap 4-6 jam.
Anak usia 2-6 tahun: 1 mg tiap 4-6 jam.

* CHLORPHENIRAMINE / CTM
Merek dagang Chlorpheniramine: Alpara, Alleron, Dehista, Brontusin, Ceteem, Chlorphenamine Maleate, Dextral, Etaflusin, Lodecon, Omecold, Pacdin Cough, Tilomix

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, sirop, suspensi

Dosis:
Dewasa: 4 mg tiap 4-6 jam, maksimal 24 mg per hari.
Anak usia 1-2 tahun: 1 mg, dua kali sehari.
Anak usia 2-5 tahun: 1 mg tiap 4-6 jam.
Anak usia 6-12 tahun: 2 mg tiap 4-6 jam.
(Dosis maksimal untuk usia 1-5 tahun adalah 6 mg per hari dan untuk usia 6-12 tahun adalah 12 mg per hari).

* CYPROHEPTADINE
Merek dagang Cyproheptadine: Pronicy, Bimatonin, Cydifar, Ennamax, Erphacyp, Graperide, Heptasan, Lexahist, Nebor, Poncohist, Pronam

Bentuk/Sediaan obat: Tablet

Dosis:
Dewasa: 12-16 mg per hari dibagi ke dalam 3-4 kali dosis. Dosis maksimal adalah 32 mg per hari.
Anak usia 2-6 tahun: 2 mg, 2-3 kali per hari. Dosis maksimal 12 mg per hari.
Anak usia 7-14 tahun: 4 mg, 2-3 kali per hari. Dosis maksimal 16 mg per hari.
Migrain
Dewasa: 4 mg, dapat diulang kembali setelah 30 menit. Dosis tidak melebihi 8 mg dalam kurun 4-6 jam. Dosis pemeliharaan adalah 4 mg tiap 4-6 jam.

* HYDROXYZINE
Merek dagang Hydroxyzine: Bestalin

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, sirop

Dosis:
Gatal-gatal (pruritus) dan urtikaria
Dewasa: Dosis awal adalah 25 mg yang dikonsumsi pada malam hari. Atau 25 mg, 3-4 kali per hari jika diperlukan.
Anak usia 6 bulan-6 tahun: Dosis awal adalah 5-15 mg per hari, ditingkatkan menjadi 50 mg per hari yang dibagi beberapa kali dosis.
Anak usia 7 tahun atau lebih: Dosis awal adalah 15-25 mg per hari, ditingkatkan menjadi 50-100 mg per hari yang dibagi dalam beberapa dosis.

* KETOTIFEN
Merek dagang Ketotifen: Astifen, Ditensa, Intifen, Profilas, Scanditen, Tosma, Zaditen

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, Sirop

Dosis:
Rinitis alergi
Anak usia 3 tahun hingga dewasa: 1 mg, 2 kali sehari, dapat ditingkatkan menjadi 2 mg, dua kali sehari jika diperlukan.

* PROMETHAZINE
Merek dagang Promethazine: Berlifed, Erpha Allergil, Halfilyn, Hufallerzine expectorant, Nufapreg, Phenerica, Prome, Promedex, Promethazine, Zenirex

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, sirop (promethazine hydrochloride)

Dosis:
Alergi
Dewasa: 25 mg yang dikonsumsi pada malam hari. Dapat ditingkatkan menjadi 25 mg, dua kali sehari jika diperlukan.
Anak usia 2-5 tahun: 5-15 mg per hari, dibagi menjadi 1-2 kali dosis.
Anak usia 6-10 tahun: 10-25 mg, dibagi menjadi 1-2 kali dosis per hari.

* CETIRIZINE
Merek dagang Cetirizine: Incidal OD, Cerini, Falergi, Berzin, Cetirizine, Cetirizine Hydrocholride, Esculer, Estin, Gentrizin, Intrizin, Lerzin, Ritez Simzen

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, tablet kunyah, sirop, Drops (Tetes oral)

Dosis:
Dewasa: 10 mg, sekali per hari atau 5 mg, 2 kali per hari.
Bayi usia 6-23 bulan: 2,5 mg, sekali per hari yang dapat ditingkatkan hingga dosis maksimal 2,5 mg, 2 kali per hari untuk bayi usia 12 bulan ke atas.
Anak usia 2-5 tahun: 5 mg, 1-2 kali per hari.
Anak usia 6 tahun atau lebih: 10 mg, 1-2 kali per hari.
Lansia: Dosis awal 5 mg, sekali per hari.

*DESLORATADINE
Merek dagang Desloratadine: Aerius, Aerius D-12, Aleros, Altera, Desdin, Desloratadine, Destavell, Eslor, Simdes

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, sirop
Dosis:
Dewasa: 5 mg, sekali per hari.
Bayi usia 6-11 bulan: 1 mg, sekali per hari.
Balita usia 1-5 tahun: 1,25 mg, sekali per hari.
Anak usia 6-11 tahun: 2,5 mg, sekali per hari.

*FEXOFENADINE
Merek dagang Fexofenadine: Foxofed, Fexoven OD, Telfast, Telfast BD, Telfast HD, Telfast OD, Telfast Plus

Bentuk/Sediaan obat: Tablet

Dosis:
Rinitis alergi
Anak usia 12 tahun hingga dewasa: 120 mg, satu kali per hari.
Anak usia 6-11 tahun: 30 mg, dua kali per hari.
Urtikaria
Anak usia 12 tahun hingga dewasa: 180 mg, satu kali per hari.

*LEVOCETIRIZINE
Merek dagang Levocetirizine: Avocel, Levocetirizine Dihydrochloride, L-Falergi, Xyzal

Bentuk/Sediaan obat: Tablet

Dosis:
Rinitis alergi
Dewasa: 2,5-5 mg, sekali per hari, dikonsumsi pada malam hari.
Anak usia 2-5 tahun: 1,25 mg, sekali per hari, dikonsumsi malam.
Anak usia 6-11 tahun: 2,5 mg, sekali per hari, dikonsumsi malam.
Anak usia 12 tahun atau lebih: 2,5-5 mg, sekali per hari, dikonsumsi malam.
Urtikaria
Dewasa: 2,5-5 mg, sekali per hari dikonsumsi malam.
Bayi usia 6 bulan-5 tahun: 1,25 mg, sekali per hari.
Anak usia 6-11 tahun: 2,5 mg, sekali per hari, dikonsumsi malam.
Anak usia 12 tahun atau lebih: 2,5-5 mg, sekali per hari, dikonsumsi malam.

* LORATADINE
Merek dagang Loratadine: Alernitis, Alloris, Klinset, Ckaritin, Aldisa SR, Miratadin, Rahistin, Rhinos SR

Bentuk/Sediaan obat: Tablet, sirop

Dosis:
Alergi
Anak usia 6 tahun hingga Dewasa: 10 mg, satu kali per hari atau 5 mg tiap 12 jam per hari.
Anak usia 2-5 tahun: 5 mg, satu kali per hari.

Sumber: Alodokter

Urang Bandung mambali ubek di Bukittinggi...😀
05/09/2020

Urang Bandung mambali ubek di Bukittinggi...😀

Urang Jakarta mambali ubek di Bukittinggi...😃
03/09/2020

Urang Jakarta mambali ubek di Bukittinggi...😃

03/09/2020

ANTIHISTAMIN

Antihistamin (masyarakat sering menyebut sbg ANTI ALERGI) adalah kelompok obat-obatan yang digunakan untuk mengobati reaksi alergi, seperti rinitis alergi, reaksi alergi akibat sengatan serangga, reaksi alergi makanan, urtikaria atau biduran. Tidak hanya alergi, antihistamin juga kerap digunakan untuk mengatasi gejala mual atau muntah yang biasanya diakibatkan oleh mabuk kendaraan.

Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin, pada dasarnya berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.

Ada dua jenis antihistamin, yaitu antihistamin Generasi Pertama dan Generasi Kedua. Antihistamin generasi pertama lebih menyebabkan rasa kantuk dibandingkan dengan generasi kedua.

Obat-obat antihistamin Generasi Pertama adalah:

- Chlorpheniramine (dikenal sbg CTM)
- Cyproheptadine
- Hydroxyzine
- Ketotifen
- Promethazine

Sedangkan obat-obat antihistamin Generasi Kedua adalah:

- Desloratadine
- Fexofenadine
- Levocetirizine
- Cetirizine
- Loratadine.

Peringatan:
Ibu hamil, ibu menyusui, atau wanita yang sedang merencanakan kehamilan, perlu menyesuaikan jenis dan dosis antihistamin menurut anjuran dokter.

Hati-hati jika ingin memberikan antihistamin pada anak-anak. Penggunaan tiap jenis obat antihistamin berbeda-beda dan disesuaikan dengan usia.

Harap berhati-hati dalam menggunakan obat ini jika menderita gangguan ginjal, gangguan hati, tukak lambung, obstruksi usus, infeksi saluran kemih, pembengkakan prostat, dan glaukoma.

Jika diresepkan obat antihistamin golongan pertama, hindari mengonsumsi zat alkohol atau minuman beralkohol karena dapat memperparah efek rasa kantuk.
Beri tahu dokter jika sedang menggunakan antihistamin bersama dengan obat-obatan lainnya, termasuk produk herba, karena dikhawatirkan dapat menyebabkan efek samping yang membahayakan.

Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Efek Samping Antihistamin

Sama seperti obat-obat lain, obat antihistamin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang umumnya terjadi setelah mengonsumsi obat antihistamin ini adalah:

Mengantuk
Mulut kering
Disfagia
Pusing
Sakit kepala
Nyeri perut
Sulit buang air kecil
Mudah marah
Penglihatan kabur.

Pada tulisan mendatang akan kita sampaikan Jenis-Jenis, Merek Dagang, serta Dosis Antihistamin

Sumber: Alodokter

31/08/2020

Terimakasih banyak kepada teman-teman Facebook dan WhatsApp yang telah menyukai dan mengikuti Apotek Rahmat.

Semoga update status yang walaupun cuma kami ambil dari berbagai sumber, dapat bermanfaat buat teman-teman sekalian.

Harapan kami, semoga silaturahmi kita melalui halaman Apotek Rahmat akan terjalin lebih erat. Terima kasih, salam sehat selalu.

BENARKAH OBAT GENERIK DAN OBAT PATEN BERBEDA KUALITAS ?Obat generik selalu dinilai memiliki kualitas lebih rendah diband...
29/08/2020

BENARKAH OBAT GENERIK DAN OBAT PATEN BERBEDA KUALITAS ?

Obat generik selalu dinilai memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan obat paten. Hal ini karena harganya yang dinilai murah.

Dilansir dari situs resmi Kementeri Kesehatan Republik Indonesia, pada dasarnya tidak ada perbedaan mengenai pembuatan dan registrasi obat generik dan obat paten.

Bahkan, kualitas, manfaat, dan standar keamanan obat generik maupun obat paten sama. Perbedaan hanya terletak dari obat bermerek yang dipromosikan oleh produsen obat, di mana obat tersebut dipatenkan. Hal tersebut membuat obat paten memiliki harga lebih mahal.

Sementara obat generik adalah obat yng telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi secara umum (farmasi) ataupun pemerintah tanpa perlu membayar royalti.

Obat generik merupakan obat yang memiliki zat aktif yang sama dengan obat paten atau obat bermerk lainnya.

Harga obat generik bisa lebih murah karena perusahaan farmasi yang memproduksi obat ini tidak perlu membayar royalti atas hak paten. Sehingga biaya yang dibebankan murni biaya produksi dari obat generik.

Untuk obat paten adalah jenis obat baru yang baru mulai diproduksi dan dipasarkan perusahaan farmasi. Melewatin berbagai riset, pengembangan, dan uji klinis.

Bahkan kemasannya juga terlihat menarik. Ini yang membuat harganya cukup mahal. Biasanya izin hak paten suatu obat adalah 20 tahun.

Selisih harga memang cukup jauh, antara obat paten dan obat generik. Bisa mencapai 50 hingga 200 persen.

Hal inilah yang membuat masyrakat memiliki anggapan masing-masing. Sebagian besar menganggap bahwa obat generik bukan obat bermerek, sehingga tidak begitu manjur dalam menangani penyakit.

Sebagian besar lainnya menilai bahwa obat bermerek belum tentu menyembuhkan lebih cepat dibandingkan obat generik.

Unsur yang membedakan obat paten dan obat generik hanya pada harganya saja. Namun, untuk komposisi (isi obat), kegunaan, dan tingkat keberhasilan relatif sama.

Untuk menjaga kualitas obat di pasaran, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan inspeksi rutin untuk menguji kualitas obat. Memenuhi syarat berarti zat aktif dalam kemasan obat sesuai dengan label, dosisnya harus sesuai.

Sumber:

Kompas.com - Berita Indonesia dan Dunia Terkini Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Teknologi, Otomotif, Bola

28/08/2020

ANTIBIOTIK

Salah satu golongan antibiotik adalah Penicillin
Golongan antibiotik ada beragam, bisa dipilih sesuai kebutuhan
Antibiotik memang ampuh untuk membasmi berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Namun, obat ini tidak bisa diminum sembarangan karena ada berbagai macam golongan antibiotik yang spesifik digunakan untuk penyakit tertentu. Sehingga, penggunaannya harus berdasarkan resep dokter.

Aturan penggunaan antibiotik berbeda dari obat kebanyakan. Sebab jika digunakan terlalu sering dan dengan cara yang tidak tepat, antibiotik bisa menimbulkan resistensi atau kekebalan bakteri terhadap obat. Jika bakteri di tubuh sudah resisten atau kebal terhadap obat, tentu akan lebih sulit untuk membunuhnya dan Anda pun akan semakin sulit sembuh. Maka dari itu, Anda perlu mengenali lebih jauh jenis atau golongan antibiotik yang ada beserta penggunaannya. Dengan begitu, Anda diharapkan tidak lagi menggunakan obat ini secara sembarangan tanpa resep dokter.

Sekilas Tentang Antibiotik

Antibiotik adalah obat untuk menyingkirkan infeksi bakteri. Jadi, penggunaan obat ini tidak akan ampuh untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu atau Covid-19.

Bakteri sendiri pun terdiri dari berbagai jenis, seperti aerob (bakteri yang hanya bisa hidup jika ada oksigen dan anerob (bakteri yang bisa hidup tanpa oksigen), serta gram positif maupun gram negatif.Perbedaan jenis ini membuat tidak semua obat efektif untuk membasminya. Karena itu, berbagai golongan antibiotik dibuat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Antibiotik tersedia dalam spektrum sempit dan luas. Antibiotik spektrum sempit menyasar bakteri spesifik, sedangkan antibiotik spektrum luas digunakan untuk membasmi banyak jenis bakteri sekaligus.Dalam aturan penggunaan antibiotik, obat spektrum sempit sebisa mungkin dipilih sebelum meresepkan antibiotik spektrum luas. Sebab, jika spektrum luas terlalu sering digunakan, maka resistensi bakteri akan semakin mudah terjadi.

Golongan antibiotik yang bermacam-macam, baik spektrum luas maupun sempit, memungkinkan dokter untuk meresepkannya sesuai kebutuhan. Selain itu, pilihan yang ada juga bisa dijadikan alternatif saat seseorang alergi terhadap jenis antibiotik tertentu.

MENGENAL JENIS ANTIBIOTIK

Berikut ini, golongan antibiotik yang dapat diresepkan oleh dokter.

1. Penicillin
Penicllin adalah salah satu golongan antibiotik yang paling sering digunakan. Beberapa obat yang masuk ke dalam golongan ini antara lain adalah Amoxicillin dan Ampicilin. Penicillin termasuk sebagai obat antibiotik spektrum luas dan merupakan antibiotik pertama yang ditemukan di dunia.

2. Tetracycline
Tetracycline juga termasuk sebagai obat antibiotik spektrum luas yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit, di antaranya:
Infeksi saluran kemih
Infeksi mata
Infeksi saluran pencernaan
Infeksi menular seksual
Penggunaan tetracycline dalam jangka waktu lama bisa membuat gigi mengalami perubahan warna menjadi gelap atau abu-abu. Sehingga, penggunaan obat ini sekarang sudah cukup dibatasi.Contoh obat yang masuk dalam golongan tetracycline antara lain:
Doxycycline
Minocycline
Omadacycline

3. Cephalosporin
Cephalosporin adalah antibiotik yang biasanya digunakan untuk membunuh berbagai jenis bakteri, termasuk bakteri gram negatif. Obat ini biasanya diresepkan untuk mengobati berbagai penyakit seperti:
Radang tenggorokan
Infeksi telinga
Infeksi kulit
Infeksi saluran kemih
Infeksi paru-paru
Meningitis bakteri
Contoh obat yang masuk dalam golongan cephalosporin antara lain:
Cefixime
Cefotaxime
Ceftazidime
Cefuroxime

4. Quinolon
Antibiotik golongan quinolone atau yang sering juga disebut sebagai fluoroquinone, merupakan antibiotik spektrum luas yang bisa digunakan untuk mengobat berbagai kondisi, seperti:
Pneumonia nosokomial
Prostatitis bakteri
Antraks
Contoh obat yang masuk dalam golongan quinolon antara lain:
Ciprofloxacin
Levofloxacin
Moxifloxacin

5. Lincomycins
Lyncomycin efektif untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif aerob dan anaerob, serta bakteri gram negatif anaerob. Obat ini dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang parah seperti:
Pelvic inflammatory disease (PID)
Infeksi intra-abdominal
Infeksi saluran pernapasan bawah
Infeksi tulang dan sendi
Contoh obat yang termasuk dalam golongan lyncomycin adalah clyndamycin dan lincomycin.

6. Macrolid
Golongan antibiotik macrolid dapat digunakan untuk mengatasi penyakit seperti:
Batuk rejan
Pneumonia nosokomial
Infeksi kulit ringan
Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain:
Azithromycin
Clarithomycin
Erythromycin

7. Sulfonamid
Sulfonamid efektif digunakan untuk mengobati bakteri gram positif maupun negatif. Namun resistensi bakteri akan obat ini sudah banyak terjadi. Obat ini dapat digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih, pneumonia pneumocystis, dan infeksi telinga.Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain sulfamethoxazole dan trimethoprim, serta sulfasalazine.

8. Glikopeptid
Obat yang masuk dalam golongan antibiotik ini dapat digunakan untuk mengatasi infeksi methicillin-resistant staphyloccus aureus (MRSA). Selain itu, glycopeptid juga dapat menyembuhkan infeksi kulit yang berat hingga endokarditis.Contoh obat yang masuk dalam golongan ini antara lain dalbavancin, oritavancin, telavancin, dan vancomycin.

9. Aminoglikosida
Berbeda dari antibiotik lain yang lebih sering dikonsumsi secara oral, aminoglikosida lebih sering diberikan secara injeksi atau suntikan, langsung ke pembuluh darah. Contoh obat yang masuk dalam golongan antibiotik ini antara lain gentamicin, tobramycin, amikacin.

10. Carbapenem
Carbapenem adalah antibiotik spektrum luas yang dapat digunakan untuk mengatasi infeksi parah yang sudah membahayakan nyawa, seperti infeksi lambung, infeksi ginjal, pneumonia, dan infeksi yang didapat dari rumah sakit yang resisten terhadap banyak jenis obat.Obat ini biasanya baru akan digunakan jika antibiotik lainnya benar-benar sudah tidak mampu membunuh bakteri penyebab penyakit. Yang termasuk obat golongan ini antara lain:
Imipenem dan cilastatin
Meropenem
Doripenem
Ertapenem

Sumber: SehatQ

27/08/2020

PARACETAMOL (Acetaminophen)

Acetaminophen atau Paracetamol adalah obat untuk penurun demam dan pereda nyeri, seperti nyeri haid dan sakit gigi. Paracetamol tersedia dalam bentuk tablet 500 mg dan 600 mg, sirup, drop, suppositoria, dan infus.

Paracetamol bekerja dengan cara mengurangi produksi zat penyebab peradangan, yaitu prostaglandin. Dengan penurunan kadar prostaglandin di dalam tubuh, tanda peradangan seperti demam dan nyeri akan berkurang.

PARACETAMOL

Belum ada laporan mengenai terjadinya cacat janin ketika paracetamol digunakan oleh ibu hamil. Untuk ibu menyusui, paracetamol dapat terserap ke dalam ASI, tetapi dalam jumlah kecil. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter untuk mengetahui manfaat dan risiko konsumsi paracetamol pada saat hamil atau menyusui.

Merk dagang paracetamol: Panadol, Naprex, Paramol, Mixagrip Flu, Hufagesic, Paramex SK, Sanmol, Sumagesic, Tempra, Termorex, dan Poro.

APA ITU PARACETAMOL?

PARACETAMOL adl golongan Obat penurun panas dan pereda nyeri (analgesik dan antipiretik)

Kategori : Obat bebas

Manfaat : Meredakan rasa sakit dan demam

Dikonsumsi oleh : Dewasa dan anak-anak
Paracetamol yg boleh dikonsumsi ibu hamil dan menyusui yaiitu Obat minum dan Suppositoria

Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.Infus dan suntik

Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. Paracetamol dapat terserap ke dalam ASI. Bila Anda sedang menyusui, lebih baik berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Bentuk obat : Tablet, kaplet, sirup, drop, infus, dan suppositoria.

Peringatan Sebelum Mengonsumsi

Paracetamol (Acetaminophen)
Jangan mengonsumsi dan menggunakan paracetamol jika memiliki riwayat alergi dengan obat ini.
Jangan memberikan paracetamol kepada anak berusia di bawah 2 tahun tanpa petunjuk dari dokter.
Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan paracetamol jika Anda menderita gangguan hati atau ginjal.
Jangan mengonsumsi alkohol bersama dengan parasetamol karena dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, seperti obat untuk epilepsi, tuberkulosis (TBC), obat pengencer darah, suplemen, atau obat herbal.
Segera ke rumah sakit jika demam tidak mereda, serta ketika muncul kemerahan pada kulit.
Segera ke dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau overdosis.

Dosis dan Aturan Pakai Paracetamol (Acetaminophen)

Dosis paracetamol disesuaikan dengan usia dan kondisi penderita. Berikut adalah penjelasan paracetamol dalam bentuk obat minum dan suppositoria untuk meredakan demam dan nyeri:

Dewasa
325–650 mg tiap 4–6 jam atau 1.000 mg tiap 6–8 jam. Paracetamol biasanya tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan 500 mg. Paracetamol 500 mg dapat diminum tiap 4–6 jam sekali untuk meredakan demam.

Anak < 2 bulan
10–15 mg/kgBB, tiap 6–8 jam sekali atau sesuai dengan anjuran dokter.
Anak 2 bulan–12 tahun
10–15 mg/kgBB, tiap 4–6 jam sekali atau sesuai anjuran dokter. Dosis maksimal 5 kali pemberian dalam 24 jam.

Anak > 12 tahun
325–650 mg per 4–6 jam atau 1.000 mg tiap 6–8 jam.
Khusus untuk paracetamol infus, dosis dan pemberiannya akan dilakukan langsung oleh dokter atau oleh petugas medis di bawah pengawasan dokter sesuai kondisi pasien.

Cara Menggunakan Paracetamol (Acetaminophen) dengan Benar

Pastikan Anda selalu menggunakan paracetamol sesuai aturan pakai yang tertera di kemasan obat atau anjuran dokter. Hentikan penggunaan paracetamol jika keluhan tidak reda setelah 3 hari mengonsumsi paracetamol.

Paracetamol Tablet dan Sirup

Gunakan segelas air putih untuk menelan tablet paracetamol. Untuk paracetamol sirup, gunakan sendok takar yang tersedia di dalam kemasan agar dosis yang dikonsumsi tepat. Sebelum itu, pastikan Anda mengocok sirup terlebih dahulu.

Simpanlah paracetamol dalam suhu ruangan, terhindar dari panas dan lembab, serta hindarkan dari jangkauan anak-anak.

Paracetamol Suppositoria

Paracetamol bentuk suppositoria digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam a**s. Pastikan Anda membuka plastik pembungkusnya terlebih dahulu kemudian masukkan obat bagian ujung yang lancip ke dalam dubur. Setelah obat masuk, duduk atau berbaring terlebih dahulu hingga obat terasa meleleh. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan sesudah memasukkan obat suppositoria. Paracetamol suppositoria perlu disimpan di dalam kulkas.

Paracetamol Infus

Paracetamol dalam bentuk infus hanya diberikan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter.

Sebelum menggunakan paracetamol dengan bentuk sediaan apa pun, pastikan Anda membaca petunjuk yang tertera di kemasan obat atau ikuti petunjuk dokter.

Penggunaan paracetamol untuk infeksi virus Corona
Paracetamol merupakan obat penurun demam yang dianjurkan untuk meredakan demam akibat infeksi virus Corona (COVID-19). Dosis yang digunakan sama dengan dosis yang sudah dijelaskan di atas.

Anda dapat menggunakan paracetamol sebagai pengobatan awal jika mengalami demam ringan. Namun, jika demam yang dialami tidak kunjung reda atau justru memburuk dan disertai sesak napas, segeralah periksakan diri ke dokter.

Interaksi Paracetamol (Acetaminophen) dengan Obat Lain

Paracetamol dapat berinteraksi jika digunakan dengan obat lainnya. Berikut ini beberapa interaksi yang dapat terjadi:

Meningkatkan risiko perdarahan, jika digunakan bersamaan dengan warfarin.
Menurunkan efek paracetamol, jika digunakan dengan carbamazepine, phenytoin, phenobarbital, cholestyramine, dan imatinib.
Meningkatkan efek samping obat busulfan.
Meningkatkan kemungkinan munculnya efek samping paracetamol, jika digunakan dengan metoclopramide, domperidone, atau probenecid.

Efek Samping dan Bahaya Paracetamol (Acetaminophen)

Paracetamol jarang menyebabkan efek samping. Namun, paracetamol bisa menimbulkan beberapa efek samping berikut jika digunakan secara berlebihan:

-Demam
-Muncul ruam kulit yang terasa gatal
-Sakit tenggorokan
-Muncul sariawan
-Nyeri punggung
-Tubuh terasa lemah
-Kulit atau mata berwarna kekuningan
-Timbul memar pada kulit
-Urine berwarna keruh atau berdarah
-Tinja berwarna hitam atau BAB berdarah

Jika dikonsumsi secara berlebihan, paracetamol bisa menyebabkan overdosis, dengan gejala berupa:
*Perut bagian atas terasa sakit
*Kehilangan nafsu makan
*Mual atau muntah
*Diare
"Keringat dingin

Sumber: Alodokter

26/08/2020

ANTALGIN

Antalgin atau Levorphanol (nama generik) adalah salah satu obat pengurang rasa sakit. Antalgin pertama kali diperkenalkan di Jerman th 1946. Dan pada tahun 1953 mulai dipakai secara luas di Amerika Serikat.

Antalgin juga dikenal sebagai Metampiron atau Metamizole ataupun Dipiron. Antalgin berupa sebuk hablur berwarna putih atau putih kekuningan.

Antalgin termasuk pada derivat metasulfonat dari amidopirin yang mudah larut dalam air dan cepat diserap kedalam tubuh. Ia bekerja secara sentral pada otak untuk menghilangkan nyeri, menurunkan demam, dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin memengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan termostat yang mengatur suhu tubuh. Obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala. Obat ini juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgetiknya lebih lemah dari efek analgetik opiat. Obat ini juga tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan. Pada pemakaian yang teratur dalam jangka waktu yang panjang, antalgin dapat menimbulkan kasus agranulositosis fatal. Untuk mendeteksi hal tersebut, pengujian darah secara teratur dianjurkan. Jika gejala tersebut timbul, penggunaan obat ini harus segera dihentikan.

EFEK SAMPING

Obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti infeksi lambung, hiperhidrosis, retensi cairan dan garam, reaksi alergi cukup sering berupa reaksi kulit dan edema angioneurotik. Efek samping yang berat ditunjukkan dengan adanya agranulositosis, pansitopenia, dan nefrosis.

Sumber: Wikipedia

26/08/2020

Fakta Penarikan Obat Ranitidin

Bagi Anda yang menderita gangguan lambung, seperti tukak lambung, gastritis, atau penyakit asam lambung, mungkin sudah tidak asing lagi dengan obat ranitidin. Namun belakangan ini, muncul banyak pemberitaan meresahkan terkait penarikan obat ranitidin. Mengapa obat tersebut kini ditarik dari pasaran?

Ranitidin adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala nyeri lambung atau nyeri ulu hati akibat peningkatan asam lambung. Jika tidak diobati, jumlah asam lambung yang berlebihan ini lama-kelamaan bisa menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari sakit maag, tukak lambung, penyakit asam lambung (GERD), hingga sindrom Zollinger-Ellison.

Fakta Penarikan Obat Ranitidin

Obat ranitidin bekerja dengan cara menghambat produksi asam lambung, sehingga luka pada lambung perlahan-lahan akan pulih. Selain mengobati, ranitidin juga berperan untuk mencegah munculnya gejala gangguan pencernaan akibat mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang dapat meningkatkan asam lambung.

Alasan Obat Ranitidin Ditarik dari Peredaran
Pada tanggal 17 September 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan instruksi kepada seluruh industri farmasi dan apotek yang memegang izin edar produk tersebut untuk menghentikan produksi, distribusi, serta menarik kembali seluruh produk obat ranitidin yang sudah beredar.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari peringatan yang dikeluarkan oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan European Medicine Agency (EMA) yang menemukan adanya kandungan berbahaya dalam ranitidin, yaitu senyawa N-nitrosodimethylamine (NDMA). Pada kadar tertentu, senyawa ini diketahui berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Sebenarnya, senyawa NDMA tidak berbahaya selama berada dalam batas aman, yaitu di bawah 96 nanogram per hari. Namun, hasil uji sebagian sampel merk obat ranitidin menunjukkan adanya jumlah NDMA yang melebihi batas tersebut. Apabila NDMA yang melebihi batas aman dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu lama, maka risiko terbentuknya sel kanker akan semakin tinggi.

Hingga kini, BPOM masih terus melakukan pengujian terhadap beberapa obat ranitidin yang beredar di Indonesia. Tindakan ini dilakukan untuk mengkaji lebih jauh dan memastikan keamanan dari obat ranitidin.

Bila Anda sudah terlanjur mengonsumsi ranitidin, Anda tidak perlu khawatir menanggapi hal ini, sebab risiko kanker hanya terjadi jika ranitidin digunakan secara terus menerus dalam jangka panjang.

Selain itu, kanker tidak hanya terjadi karena penggunaan ranitidin saja. Banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang terkena kanker, seperti kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, sering mengonsumsi minuman beralkohol, terpapar zat pemicu kanker dari lingkungan, bahkan faktor keturunan.

Meski BPOM sudah menarik obat ranitidin, namun masih ada beberapa pilihan obat dan penanganan yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan lambung.

Jika sebelumnya Anda diresepkan obat ranitidin oleh dokter dan merasa khawatir terhadap kemungkinan efek samping yang dapat ditimbulkan, Anda bisa berkonsultasi kembali ke dokter untuk mengganti obat tersebut dengan obat lainnya.

Address


26000

Opening Hours

Monday 09:00 - 22:00
Tuesday 09:00 - 22:00
Wednesday 09:00 - 22:00
Thursday 09:00 - 22:00
Friday 09:00 - 22:00
Saturday 09:00 - 22:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Apotek Rahmat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Apotek Rahmat:

  • Want your practice to be the top-listed Clinic?

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram