13/09/2025
People won't change; Mengharap orang berubah adalah sia-sia?
Beberapa hari yang lalu melihat video seseorang di Tiktok berpesan kepada para wanita untuk jangan berharap (calon pasangan) akan berubah setelah menjalani siklus tertentu seperti menikah dan punya anak, ini terkait sifat dan tabiat orang tersebut. Contoh yang diberikan adalah ketika calon pasangan sebelum menikah orangnya gampang main tangan, setelah menikah orang tersebut masih akan cenderung mempertahankan sifat dan tabiat aslinya sehingga berharap orang lain berubah adalah suatu yang sia-sia.
Dengan analogi yang sama pada aspek urusan seksual seperti yang sudah diceritakan beberapa orang dalam diskusi di forum dewasa memperlihatkan bahwa memang orang (bisa diri sendiri dan ataupun pasangan) mungkin termasuk dalam kategori yang tidak mau dan sulit untuk berubah.
Ada salah satu thread di forum R luar seseorang bertanya dan mencari solusi karena pasangannya yang cantik tapi tidak pernah mau diajak berkomunikasi dan menghindar untuk membicarakan terkait seks. Singkatnya beberapa jawaban dari komentar yang mungkin menjelaskan perilaku pasangannya diantaranya adalah hormon, "lingkungan" tempat seseorang dibesarkan, serta cara pandang akan seks oleh seseorang itu sendiri.
Mengapa orang tidak mau berubah?
Berubah itu sangat berat, apalagi berubah dari sisi ekstrim rendah 1 ke ekstrim atas misal di level 9.
Dalam aspek lain perubahan itu cenderung lebih gampang karena perubahan itu sangat kelihatan keuntungan yang didapat misal orang yang umumnya kurang s**a bekerja di jam pagi. Ketika dia bisa berangkat sebelum jam 7 dari rumah dia akan menempuh perjalanan 30 menit. Tapi ketika dia sengaja/tidak sengaja ternyata berangkat lebih dari jam 7 maka ia butuh 1 jam setengah karena kemacetan jalan menuju kantor.
Meski dia tidak terlalu s**a bangun pagi, tapi karena dia mendapatkan benefit yang sangat "terasa" dengan waktu tempuh yang lebih cepat dia merasakan perubahan atas pilihan jam berangkatnya.
Kaitannya dengan yang terjadi pada beberapa perempuan, sebagian melihat bahwa urusan seks adalah urusan laki-laki dan cara pandang ini membuat mereka gagal untuk melihat manfaat lain dari kegiatan seksual misal dalam aspek pelepasan hormon yang menyebabkan orgasme, benefit untuk tubuh dsb. Kalaupun mereka tahu manfaat tersebut, sebagian tidak melihat bahwa manfaat tersebut memberi reward yang memuaskan bagi diri dan kehidupan pernikahan mereka.
Bersambung...