09/02/2026
๐๐ข๐๐๐ก ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ข๐ฅ๐๐ง๐ ๐๐ข ๐๐๐ฃ๐ ๐๐๐ค๐๐ง
Saya sering mendengar orang tua berkata, โAnak sekarang lebih fasih bahasa Inggris daripada bahasa ibu.โ Kalimat itu terdengar sepele, tapi sesungguhnya adalah alarm.
Data Badan Bahasa (2024) menunjukkan dari 700 lebih bahasa daerah, hanya 120 yang direvitalisasi. Artinya, ratusan bahasa lain sedang sekarat, seperti piring nasi yang ditinggalkan di meja makanโada, tapi tak lagi disentuh.
Fenomena ini bukan sekadar soal gengsi. Cohn & Ravindranath (2014) menyebutnya ๐๐๐๐๐ข๐๐ ๐ก๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ข๐๐๐ก๐ฆ: rasa malu menggunakan bahasa daerah karena takut dicap kampungan.
Maka lahirlah bahasa campuran ala โAnak Jakselโโlebih mirip gimik identitas daripada warisan budaya. Padahal, pepatah Jawa โ๐๐๐๐-๐๐๐๐ ๐ค๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐โ atau Minang โ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐ขโ bukan sekadar kata-kata; ia adalah filosofi hidup yang tak bisa diterjemahkan begitu saja.
Bahasa ibu juga menyimpan fungsi kognitif. Hoff et al. (2025) menegaskan kualitas bahasa di rumah menentukan perkembangan anak. Jika bahasa ibu hilang, anak kehilangan kesempatan alami untuk melatih logika dan emosi. Kepunahan bahasa bukan hanya tragedi budaya, melainkan cacat generasi.
Namun teknologi bisa jadi penyelamat. Dalam ๐
๐๐ ๐๐๐โ ๐พ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ 7, ๐ด๐๐ข๐ ๐ก๐ข๐ 2024 berjudul โRevitalisasi Bahasa Daerah di Indonesia: Integrasi Teknologi AI dan Pendekatan Berbasis Komunitasโ, Riki Nasrullah menulis bahwa AI dapat menjadi jembatan antara generasi muda dan bahasa ibu.
Ia mengusulkan ๐โ๐๐ก๐๐๐ก krama inggil, sistem ๐๐๐๐ ๐ -๐๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ untuk dokumen hukum, hingga aplikasi interaktif di sekolah. Pendekatan ini bukan sekadar teknis, tetapi sosial: melibatkan komunitas agar bahasa tidak sekadar diawetkan di museum linguistik, melainkan hidup di percakapan sehari-hari.
Jika kita terus abai, โIndonesia Emasโ hanya akan jadi slogan kosong: negara maju yang kehilangan suara sejarahnya sendiri. Pertanyaannya: apakah kita rela membiarkan lidah ibu terkubur hanya demi gengsi semu globalisasi?
Baca selengkapnya: https://soalsial.com/bahasa-ibu-antara-gengsi-gimik-politik-dan-kepunahan/
Categories Begini Saja Bahasa Ibu: Antara Gengsi, Gimik Politik, dan Kepunahan Post author By Edy Suhardono Post date February 9, 2026 No Comments on Bahasa Ibu: Antara Gengsi, Gimik Politik, dan Kepunahan Di tengah gembar-gembor visi โIndonesia Emas 2045โ, sebuah pertanyaan senyap tetapi menoho...