IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre

IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang terjadi alami keseharian. Namun bagi kami, tiada masalah yang tak terpecahkan untuk selamanya.

IISA Visi Waskita bergerak di bidang asesmen, riset, dan consulting masa depan berbasis multiple intelligences yang membantu individu dan institusi membaca perubahan, memahami potensi, dan menyusun road map strategis di tengah ketidakpastian zaman. Masalah mungkin justru menjadi sinyal dan peluang untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik dan lebih membahagiakan. Berangkat dan bersama Anda, kami berupaya membantu menemukan dan menentukan rute mana yang perlu ditempuh agar Anda tumbuh dalam pengetahuan, penalaran, dan pengomunikasian keyakinan, sikap, niatan dan tindakan terbaik dari diri Anda.

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. ...
19/03/2026

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Semoga hari kemenangan ini membawa kedamaian, kesejahteraan, dan berkah bagi kita semua. Mohon maaf lahir dan batin.

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru S...
19/03/2026

Segenap Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948. Semoga Catur Brata Penyepian membawa kedamaian dan pencerahan bagi kita semua. Rahajeng.

Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre

16/03/2026

๐’๐ญ๐จ๐ฉ ๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐๐จ๐๐จ๐ก!

Penasaran dengan isi buku di video ini? ๐Ÿ‘€ Buku "Jalan Pulang Menuju Kejeniusan" siap membongkar mitos IQ yang selama ini mengurung potensimu! ๐Ÿคฏ Temukan rahasia kecerdasan jamak dan temu-kenali kejeniusan dalam dirimu. Yuk, baca sekarang! ๐Ÿš€

๐ˆ๐ง๐ญ๐ž๐ฅ๐ž๐ค๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ: ๐ˆ๐ง๐ฏ๐ž๐ฌ๐ญ๐š๐ฌ๐ข ๐๐š๐ง๐ ๐ฌ๐š ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐๐ซ๐จ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข?Menyekolahkan anak bangsa adalah investasi, namun memperlakukan mereka bak b...
24/02/2026

๐ˆ๐ง๐ญ๐ž๐ฅ๐ž๐ค๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ: ๐ˆ๐ง๐ฏ๐ž๐ฌ๐ญ๐š๐ฌ๐ข ๐๐š๐ง๐ ๐ฌ๐š ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐๐ซ๐จ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข?

Menyekolahkan anak bangsa adalah investasi, namun memperlakukan mereka bak barang inventaris adalah tragedi kemanusiaan yang sunyi.

Saya kerap termenung melihat bagaimana narasi "balas budi" bergeser dari rasa syukur yang organik menjadi kewajiban yang mekanistik dan dingin. Apakah kita sedang memupuk tunas peradaban, atau sebenarnya sedang menyemai barisan aset yang hak miliknya telah berpindah tangan ke laci birokrasi?

Dalam ๐ธ๐‘ฅ๐‘โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘’ ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘ƒ๐‘œ๐‘ค๐‘’๐‘Ÿ ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘™ ๐ฟ๐‘–๐‘“๐‘’ (1964), Peter Blau membedah betapa ngerinya relasi kuasa ketika salah satu pihak merasa memiliki "utang" yang tak terukur.

Saat seorang sarjana pulang dengan kepala penuh mimpi namun kakinya dipasung kontrak kaku, ia berhenti menjadi subjek yang merdeka. Riset Marginson (2016) dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ท๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘š ๐ผ๐‘  ๐‘‚๐‘ฃ๐‘’๐‘Ÿ mengingatkan bahwa ambisi negara sering kali menelan kedaulatan individu, mengubah manusia menjadi sekadar instrumen pencapaian angka.

Kita merayakan keberhasilan mereka di podium, tapi abai pada sesak napas mereka saat dipaksa bekerja di ruang-ruang yang mematikan imajinasi. Investasi sejati seharusnya memberikan ruang bagi intelektual untuk menjadi oase, bukan sekadar menjadi baut kecil dalam mesin kekuasaan yang sering kali macet dan karatan.

Mengapa kita begitu ketakutan kehilangan kendali atas mereka, seolah-olah pengabdian hanya sah jika dilakukan di bawah ancaman denda dan sanksi administratif?

Sudah saatnya kita memanusiakan kembali kontrak-kontrak beasiswa dengan memberikan kepercayaan penuh pada integritas nurani setiap purna beasiswa.

Jika pendidikan gagal menumbuhkan kesadaran untuk berbagi tanpa dipaksa, bukankah itu berarti sistem pendidikan kita sendiri yang sebenarnya sedang mengalami kebangkrutan moral?

Masihkah kita sanggup menatap mata mereka dan menyebutnya sebagai "anak bangsa," jika di saat yang sama kita memperlakukan mereka layaknya properti yang bisa disita?

Selengkapnya: https://www.kompas.com/edu/read/2026/02/24/080255271/balas-budi-purna-beasiswa


Beasiswa seharusnya membuka jalan bagi kebebasan, bukan menutupnya dengan kewajiban yang timpang.

๐๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ ๐š๐๐š๐ข ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐ƒ๐ž๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ง๐š๐คSaya sering terenyuh melihat orangtua menangis terharu, rela menggadai sertifikat ruma...
23/02/2026

๐๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ ๐š๐๐š๐ข ๐Œ๐š๐ฌ๐š ๐ƒ๐ž๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ง๐š๐ค

Saya sering terenyuh melihat orangtua menangis terharu, rela menggadai sertifikat rumah demi menebus ijazah sarjana anaknya. Kita menabung mati-matian demi selembar tiket VIP Titanic, padahal es disrupsi sudah merobek lambung kapal. Inilah tragedi cinta buta, sebuah fetisisme jurusan yang rutin kita sembah dengan penuh kepasrahan.

Mengutip laporan ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐น๐‘ข๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘œ๐‘“ ๐ฝ๐‘œ๐‘๐‘  ๐‘…๐‘’๐‘๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ก 2023 dari World Economic Forum, daya resiliensi dan ๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘˜๐‘–๐‘™๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” kini jauh melampaui kemilau program studi. Jurusan favorit persis kereta kencana Cinderella; saat tengah malam, ia kembali menjadi labu di tengah brutalnya seleksi algoritma. Kasih kita justru kejam membelenggunya.

Dahulu, jas dokter diyakini sebagai jimat ajaib penolak kemiskinan. Kini, mengacu riset ๐บ๐‘™๐‘œ๐‘๐‘Ž๐‘™ ๐ธ๐‘š๐‘๐‘™๐‘œ๐‘ฆ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก ๐‘‡๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘  ๐‘“๐‘œ๐‘Ÿ ๐‘Œ๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž 2020 terbitan ILO, lulusan unggulan pun tergagap menahan gempuran otomasi. Kita ngotot mencetak gladiator untuk arena Colosseum, padahal peperangan zaman ini murni bergejolak pada ruang senyap dunia maya.

Kekeliruan masal ini menyayat hati, mengingatkan saya pada mitos Sisifus yang dikutuk mendorong batu ke puncak. Generasi muda terus didikte menghafal teori usang, lalu tergelincir jatuh ke jurang pengangguran karena gagal membaca zaman. Tangisan batin mereka adalah harga sangat mahal dari tingginya ego keras kita.

Masa depan tidak pernah digambar menggunakan penggaris lurus, melainkan lewat kanvas surealis yang menuntut kelenturan akal. Jika riset OECD dalam ๐น๐‘ข๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘œ๐‘“ ๐ธ๐‘‘๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘†๐‘˜๐‘–๐‘™๐‘™๐‘  2030 memuja inovasi lintas disiplin, mengapa kita tetap buta menyembah penyekatan jurusan? Mereka lebih butuh kompas, bukan sekadar peta mati.

Pada akhirnya, kemuliaan nasib manusia tidak akan pernah dikalkulasi dari stempel akreditasi pada selembar ijazah lapuk yang menipu. Lantas, masihkah kita tega menukar kemerdekaan anak dengan kebanggaan semu, ataukah kita akhirnya bersedia meruntuhkan ego guna membiarkan mereka melukis mahakarya kurikulum masa depannya tanpa paksaan lagi?

Baca selengkapnya: https://visiwaskita.com/main/blog/detail/37/fatamorgana-jurusan-kuliah

Apakah jurusan kuliah benar-benar menjamin masa depan? Pertanyaan ini adalah โ€œtop of public mindโ€ sekaligus fakta paling tidak pasti yang terus menghantui calon mahasiswa dan orangtua. Di . . .

Seluruh Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre dengan penuh s**acita mengucapkan: ๐ŸŽ‰ ๐‘ฏ๐’‚๐’‘๐’‘๐’š ๐‘ช๐’‰๐’Š๐’๐’†๐’”...
16/02/2026

Seluruh Direksi dan Staf IISA Assessment Consultancy & Research Centre dengan penuh s**acita mengucapkan: ๐ŸŽ‰ ๐‘ฏ๐’‚๐’‘๐’‘๐’š ๐‘ช๐’‰๐’Š๐’๐’†๐’”๐’† ๐‘ต๐’†๐’˜ ๐’€๐’†๐’‚๐’“ 2026! ๐ŸŒธโœจ

Semoga Tahun Baru Cina ini membawa keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi kita semua. ๆ–ฐๅนดๅฟซไน (Xฤซnniรกn kuร ilรจ), ๆญๅ–œๅ‘่ดข (Gลngxว fฤcรกi)! ๐Ÿงง๐ŸŽ Mari kita sambut Tahun Kuda dengan semangat baru, penuh harapan dan keberhasilan bersama.







๐•๐š๐ฅ๐ข๐๐š๐ฌ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ค๐ข๐ญ๐ค๐š๐งSaya masih terngiang suara Nyi Raras yang menolak formulir kotak-kotak itu, lalu memilih temban...
11/02/2026

๐•๐š๐ฅ๐ข๐๐š๐ฌ๐ข ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ค๐ข๐ญ๐ค๐š๐ง

Saya masih terngiang suara Nyi Raras yang menolak formulir kotak-kotak itu, lalu memilih tembang Dhandhanggula sebagai jalan rekonsiliasi.

Ironi ini menampar kita: cinta yang gagal justru lebih jujur daripada cinta yang dipoles algoritma. Sistem sosial kita kini menjadikan trauma sebagai utang dan validasi mantan sebagai aset. Bukankah ini parodi birokrasi rasa?

Dalam survei GoodStats (2025), sebanyak 70,2% publik optimis budaya Indonesia dikenal luas hingga global. Optimisme itu indah, tetapi sering dikomodifikasi menjadi angka statistik belaka. Sama halnya dengan riset Ismail Alviano & Gazi Saloom (2022) yang menunjukkan bagaimana pengukuran identitas bisa memengaruhi sikap dan perilaku. Di sini saya melihat absurditas: kejujuran yang seharusnya menjadi inti budaya malah dipaksa tunduk pada logika pasar jodoh.

Kisah Wiryo dan Raras mengingatkan saya pada film ๐ป๐‘’๐‘Ÿ (Spike Jonze, Warner Bros, 2013), di mana cinta dikalkulasi oleh sistem operasi. Bedanya, di Yogyakarta, sebagaimana dalam cerpen ini, cinta dikalkulasi oleh negara.

Artikel BINUS University berjudul โ€œAdat dan Algoritmaโ€ (2025) menulis tentang persimpangan adat dan teknologi, bagaimana AI mengubah cara hidup masyarakat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah kita rela membiarkan algoritma menentukan siapa yang layak dicintai?

Saya percaya, kejujuran tentang kegagalan adalah bentuk cinta paling radikal. Nyi Raras menyanyi bukan untuk menutup aib, melainkan untuk membuka luka agar cucunya bebas dari karma administratif. Bukankah ini pelajaran bahwa cinta tidak harus sempurna untuk layak dihormati?

Pertanyaannya kini: apakah kita akan terus membiarkan algoritma mengaudit emosi, atau berani menyanyikan kegagalan kita sendiri sebagai tembang kejujuran?

Selengkapnya: https://www.kompasiana.com/edysuhardono/698c4170ed641540b74115b2/cerpen-ingatan-di-alun-alun-ngayogyakarta











Tradisi dan teknologi bertarung di Alun-Alun Kidul. Tembang Macapat jadi senjata terakhir melawan sistem yang menilai cinta sebagai data.

๐‹๐ข๐๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐‡๐ข๐ฅ๐š๐ง๐  ๐๐ข ๐Œ๐ž๐ฃ๐š ๐Œ๐š๐ค๐š๐งSaya sering mendengar orang tua berkata, โ€œAnak sekarang lebih fasih bahasa Inggris daripa...
09/02/2026

๐‹๐ข๐๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐‡๐ข๐ฅ๐š๐ง๐  ๐๐ข ๐Œ๐ž๐ฃ๐š ๐Œ๐š๐ค๐š๐ง

Saya sering mendengar orang tua berkata, โ€œAnak sekarang lebih fasih bahasa Inggris daripada bahasa ibu.โ€ Kalimat itu terdengar sepele, tapi sesungguhnya adalah alarm.

Data Badan Bahasa (2024) menunjukkan dari 700 lebih bahasa daerah, hanya 120 yang direvitalisasi. Artinya, ratusan bahasa lain sedang sekarat, seperti piring nasi yang ditinggalkan di meja makanโ€”ada, tapi tak lagi disentuh.

Fenomena ini bukan sekadar soal gengsi. Cohn & Ravindranath (2014) menyebutnya ๐‘™๐‘–๐‘›๐‘”๐‘ข๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘–๐‘ ๐‘–๐‘›๐‘ ๐‘’๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘ฆ: rasa malu menggunakan bahasa daerah karena takut dicap kampungan.

Maka lahirlah bahasa campuran ala โ€œAnak Jakselโ€โ€”lebih mirip gimik identitas daripada warisan budaya. Padahal, pepatah Jawa โ€œ๐‘Ž๐‘™๐‘œ๐‘›-๐‘Ž๐‘™๐‘œ๐‘› ๐‘ค๐‘Ž๐‘ก๐‘œ๐‘› ๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘Ž๐‘˜๐‘œ๐‘›โ€ atau Minang โ€œ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘ก๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘—๐‘Ž๐‘‘๐‘– ๐‘”๐‘ข๐‘Ÿ๐‘ขโ€ bukan sekadar kata-kata; ia adalah filosofi hidup yang tak bisa diterjemahkan begitu saja.

Bahasa ibu juga menyimpan fungsi kognitif. Hoff et al. (2025) menegaskan kualitas bahasa di rumah menentukan perkembangan anak. Jika bahasa ibu hilang, anak kehilangan kesempatan alami untuk melatih logika dan emosi. Kepunahan bahasa bukan hanya tragedi budaya, melainkan cacat generasi.

Namun teknologi bisa jadi penyelamat. Dalam ๐‘…๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐พ๐‘’๐‘๐‘–๐‘—๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘œ๐‘š๐‘œ๐‘Ÿ 7, ๐ด๐‘”๐‘ข๐‘ ๐‘ก๐‘ข๐‘  2024 berjudul โ€œRevitalisasi Bahasa Daerah di Indonesia: Integrasi Teknologi AI dan Pendekatan Berbasis Komunitasโ€, Riki Nasrullah menulis bahwa AI dapat menjadi jembatan antara generasi muda dan bahasa ibu.

Ia mengusulkan ๐‘โ„Ž๐‘Ž๐‘ก๐‘๐‘œ๐‘ก krama inggil, sistem ๐‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘ ๐‘ -๐‘™๐‘–๐‘›๐‘”๐‘ข๐‘Ž๐‘™ ๐‘’๐‘š๐‘๐‘’๐‘‘๐‘‘๐‘–๐‘›๐‘” untuk dokumen hukum, hingga aplikasi interaktif di sekolah. Pendekatan ini bukan sekadar teknis, tetapi sosial: melibatkan komunitas agar bahasa tidak sekadar diawetkan di museum linguistik, melainkan hidup di percakapan sehari-hari.

Jika kita terus abai, โ€œIndonesia Emasโ€ hanya akan jadi slogan kosong: negara maju yang kehilangan suara sejarahnya sendiri. Pertanyaannya: apakah kita rela membiarkan lidah ibu terkubur hanya demi gengsi semu globalisasi?

Baca selengkapnya: https://soalsial.com/bahasa-ibu-antara-gengsi-gimik-politik-dan-kepunahan/


Categories Begini Saja Bahasa Ibu: Antara Gengsi, Gimik Politik, dan Kepunahan Post author By Edy Suhardono Post date February 9, 2026 No Comments on Bahasa Ibu: Antara Gengsi, Gimik Politik, dan Kepunahan Di tengah gembar-gembor visi โ€œIndonesia Emas 2045โ€, sebuah pertanyaan senyap tetapi menoho...

๐“๐ฎ๐ฆ๐›๐š๐ฅ ๐ƒ๐ข ๐€๐ฅ๐ญ๐š๐ซ ๐๐ซ๐ž๐ฌ๐ญ๐š๐ฌ๐ขElang, tokoh fiksi yang meleleh di panggung prestasi, sejatinya adalah cermin retak dari wajah r...
06/02/2026

๐“๐ฎ๐ฆ๐›๐š๐ฅ ๐ƒ๐ข ๐€๐ฅ๐ญ๐š๐ซ ๐๐ซ๐ž๐ฌ๐ญ๐š๐ฌ๐ข
Elang, tokoh fiksi yang meleleh di panggung prestasi, sejatinya adalah cermin retak dari wajah realitas pendidikan kita yang sedang sakit.

Kita tidak membangun taman belajar manusiawi, melainkan mendirikan pabrik perakitan robot bernyawa di mana ambisi liar orang tua menjadi bahan bakar utamanya.

Di berita, tragedi anak SD mengakhiri hidup bukan sekadar statistik, melainkan jeritan sunyi yang gagal ditangkap telinga tuli kita. Bak Icarus dalam mitologi Yunani yang jatuh karena lilin sayapnya dilelehkan matahari ekspektasi, anak-anak kita kini hangus oleh api ambisi kita sendiri.

Filsuf Byung-Chul Han dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ต๐‘ข๐‘Ÿ๐‘›๐‘œ๐‘ข๐‘ก ๐‘†๐‘œ๐‘๐‘–๐‘’๐‘ก๐‘ฆ (2010) menyebut fenomena tragis ini sebagai kekerasan neuronal yang mematikan secara perlahan. Kita memaksa mereka menjadi "subjek prestasi" hingga jiwa kering kerontang, menjadikan mereka bukan manusia utuh, melainkan hanya sekadar portofolio berjalan.

Tengoklah Pak Handoko yang menganggap anaknya sebagai aset saham ๐‘๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘–๐‘ โ„Ž; sebuah satire kejam yang nyata terjadi di meja makan kita setiap hari. Cinta suci terdegradasi menjadi transaksi dagang: "Papa sayang kamu, asalkan matematika nilaimu seratus dan pialamu berjejer rapi di lemari kaca."

Psikolog Alice Miller lewat buku ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ท๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘š๐‘Ž ๐‘œ๐‘“ ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐บ๐‘–๐‘“๐‘ก๐‘’๐‘‘ ๐ถโ„Ž๐‘–๐‘™๐‘‘ (1979) memperingatkan bahaya laten narsisme orang tua semacam ini. Anak dipaksa membunuh "diri sejati" demi memuaskan ego dewasa yang lapar validasi, menyisakan gumpalan hitam pekat di sudut jiwa mereka.

Kita sibuk memoles "casing" luar demi tepuk tangan tetangga, sementara "motherboard" mental anak hangus terbakar perlahan tanpa ada sisa sedikitpun. Kita tanpa sadar membunuh masa kecil purba demi masa depan fana yang bahkan belum pasti wujudnya nanti.

Maka, tataplah lekat mata anak Anda malam ini; apakah yang bernapas di sana adalah jiwa merdeka, atau sekadar aset investasi yang sedang Anda gadai pelan-pelan menuju kematiannya sendiri esok hari?

Perlu dibaca:
1. https://www.kompasiana.com/edysuhardono/6982f8c7c925c459cc042a02/cerpen-1-dari-3-gumpalan-hitam-di-sudut-kertas
2. https://www.kompasiana.com/edysuhardono/6982fbc3c925c4743a788d73/cerpen-2-dari-3-ikon-masa-depan
3. https://www.kompasiana.com/edysuhardono/6982fee8ed641560df37dcf2/cerpen-3-dari-3-festival-kematian-cahaya

Edy Suhardono Mohammad Fauzy Sylvia R Prasetyo

๐’๐š๐š๐ญ ๐๐ข๐š๐ญ ๐๐š๐ข๐ค ๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐ง๐ฎ๐ก ๐๐š๐ค๐š๐ญSebuah realitas yang sering tak terpikirkan: lapangan bola bisa jadi lebih tajam mengasah b...
04/02/2026

๐’๐š๐š๐ญ ๐๐ข๐š๐ญ ๐๐š๐ข๐ค ๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐ง๐ฎ๐ก ๐๐š๐ค๐š๐ญ

Sebuah realitas yang sering tak terpikirkan: lapangan bola bisa jadi lebih tajam mengasah batin daripada ruang kelas, sementara les musik yang dipaksakan justru mampu mematikan musikalitas anak selamanya.

Tanpa sadar, sistem sering membungkam "sidik jari jiwa" yang unik demi mencetak keseragaman.

Buku ๐ฝ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘› ๐‘ƒ๐‘ข๐‘™๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘€๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘—๐‘ข ๐พ๐‘’๐‘—๐‘’๐‘›๐‘–๐‘ข๐‘ ๐‘Ž๐‘› karya ๐——๐—ฟ. ๐—˜๐—ฑ๐˜† ๐—ฆ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ผ hadir menantang arus utama. Melalui 13 Dalil Kecerdasan Jamak, ia menyingkap rahasia bahwa keseimbangan diri tidak dicapai dengan menambal kelemahan, melainkan dengan memantik kekuatan dominan lewat cara-cara yang tak terduga.

Mari selamatkan potensi yang terabaikan sebelum terlambat. ๐“๐ž๐ฆ๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ง๐ฒ๐š.

Dengan s**a cita kami kabarkan: ๐“๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐“๐ž๐ซ๐›๐ข๐ญ ๐Ÿ๐Ÿ’ ๐…๐ž๐›๐ซ๐ฎ๐š๐ซ๐ข ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ”!

Silahkan order ke :

๐™‹๐™š๐™ฃ๐™š๐™ง๐™—๐™ž๐™ฉ ๐™•๐™ž๐™›๐™–๐™ฉ๐™–๐™ข๐™– ๐™…๐™–๐™ฌ๐™–๐™ง๐™– ๐™๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ ๐™‹๐™ค๐™ฃ๐™™๐™ค๐™  ๐™…๐™–๐™ฉ๐™ž, ๐™‚๐™š๐™ก๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ, ๐™†๐™š๐™˜. ๐™๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ, ๐™†๐™–๐™—. ๐™Ž๐™ž๐™™๐™ค๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ค, ๐™…๐™–๐™ฌ๐™– ๐™๐™ž๐™ข๐™ช๐™ง, 61257. ๐™๐™š๐™ก๐™ฅ: 0812-3548-5066 ๐™€๐™ข๐™–๐™ž๐™ก: ๐™ฏ๐™ž๐™›๐™–๐™ฉ๐™–๐™ข๐™–1@๐™œ๐™ข๐™–๐™ž๐™ก.๐™˜๐™ค๐™ข

https://www.tokopedia.com/zifatama-education/buku-jalan-pulang-menuju-kejeniusan-1734410282913596562?utm_source=salinlink&utm_medium=share&utm_campaign=pdp-twq7iq2ktkbw-103044701460-0

๐—ข๐˜๐—ผ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—š๐˜‚๐—ฟ๐˜‚ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฅ๐—ฎ๐—ฝ๐˜‚๐—ตKasus Bu Budi di Pamulang adalah api kecil yang menjilat wajah peradaban kita. Seorang guru dila...
30/01/2026

๐—ข๐˜๐—ผ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—š๐˜‚๐—ฟ๐˜‚ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฅ๐—ฎ๐—ฝ๐˜‚๐—ต
Kasus Bu Budi di Pamulang adalah api kecil yang menjilat wajah peradaban kita. Seorang guru dilaporkan ke polisi hanya karena menegur siswa yang abai pada temannya yang jatuh. Ironi ini menegaskan bahwa sekolah yang seharusnya menjadi kawah candradimuka kini direduksi menjadi pasar jasa transaksional.

Saya teringat Zygmunt Bauman dalam ๐ฟ๐‘–๐‘ž๐‘ข๐‘–๐‘‘ ๐‘€๐‘œ๐‘‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘–๐‘ก๐‘ฆ (2000) yang menulis bahwa ikatan sosial kita cair dan rapuh. Relasi guru-orang tua kini lebih ditopang kewaspadaan ketimbang kepercayaan. Jonathan Haidt dan Greg Lukianoff dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐ถ๐‘œ๐‘‘๐‘‘๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘œ๐‘“ ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐ด๐‘š๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘› ๐‘€๐‘–๐‘›๐‘‘ (2018) menyebutnya ๐‘ ๐‘Ž๐‘“๐‘’๐‘ก๐‘ฆ๐‘–๐‘ ๐‘š: anak harus steril dari ketidaknyamanan emosional, seakan hidup adalah ruang isolasi.

Fenomena ini melahirkan orang tua bukan lagi โ„Ž๐‘’๐‘™๐‘–๐‘๐‘œ๐‘๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘ , melainkan ๐‘‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘›๐‘’ ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘  yang siap menyerang siapa saja. Jean M. Twenge dan W. Keith Campbell dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘๐‘–๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘ ๐‘š ๐ธ๐‘๐‘–๐‘‘๐‘’๐‘š๐‘–๐‘ (2009) menyebutnya "inflasi ego": anak diperlakukan sebagai perpanjangan narsistik orang tua. Kritik terhadap anak dianggap serangan terhadap harga diri keluarga.

Padahal studi psikologi perkembangan mutakhir menunjukkan ๐‘œ๐‘ฃ๐‘’๐‘Ÿ-๐‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘ก๐‘’๐‘๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› berkorelasi dengan kecemasan dan rendahnya resiliensi. Teguran Bu Budi adalah upaya menanamkan empati, namun terdistorsi oleh kesesatan logika ๐‘†๐‘ก๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ค ๐‘€๐‘Ž๐‘› dan ๐ด๐‘๐‘๐‘’๐‘Ž๐‘™ ๐‘ก๐‘œ ๐ธ๐‘š๐‘œ๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›. Guru yang menegur dianggap โ€œgalakโ€, bukan pendidik karakter.

Lebih getir lagi, mayoritas guru dasar adalah perempuan. Barrett & Bliss-Moreau (2009) membuktikan bahwa ekspresi tegas perempuan sering dilabeli โ€œhisterisโ€, sementara laki-laki disebut โ€œberwibawaโ€. Bias gender ini menjerat guru dalam ๐‘‘๐‘œ๐‘ข๐‘๐‘™๐‘’ ๐‘๐‘–๐‘›๐‘‘: dituntut mencetak generasi tangguh, tetapi dilarang bersuara keras.

Saya percaya solusi bukan sekadar himbauan moral. Jean-Franรงois Lyotard dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐‘ƒ๐‘œ๐‘ ๐‘ก๐‘š๐‘œ๐‘‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘› ๐ถ๐‘œ๐‘›๐‘‘๐‘–๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› (1979) menekankan perlunya kontrak kecil. Kontrak pedagogis pra-semester, Ombudsman pendidikan, dan literasi parenting berbasis data adalah jalan restorasi. Angela Duckworth dalam Grit (2016) mengingatkan: dunia kerja menuntut ketekunan dan toleransi stres. Melindungi anak dari teguran guru adalah sabotase masa depan mereka.

Pertanyaannya: apakah kita rela membiarkan sekolah berubah menjadi arena persidangan, atau berani mengembalikan wibawa guru sebagai penjaga moral bangsa?

Selengkapnya baca: https://www.kompasiana.com/edysuhardono/697c4869ed641554d57fdf12/hyper-parenting-dan-runtuhnya-wibawa-guru



Guru menegur, orangtua melapor polisiโ€”apakah otoritas pendidikan kita sedang runtuh di depan mata?

๐“๐ž๐ฅ๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ค ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐๐ข๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐ซ๐ขSaya selalu penasaran pada telunjuk yang gemetar, seolah ia lebih sibuk menuding fatamorgana ketim...
23/01/2026

๐“๐ž๐ฅ๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ค ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐๐ข๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐ซ๐ข
Saya selalu penasaran pada telunjuk yang gemetar, seolah ia lebih sibuk menuding fatamorgana ketimbang bercermin.

Dalam sejarah, telunjuk adalah simbol kuasa: dari pengadilan Romawi yang menunjuk gladiator, hingga propaganda modern yang menuding lawan politik.

Ironi ini mengingatkan saya pada tesis Hannah Arendt dalam ๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐‘‚๐‘Ÿ๐‘–๐‘”๐‘–๐‘›๐‘  ๐‘œ๐‘“ ๐‘‡๐‘œ๐‘ก๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘Ž๐‘›๐‘–๐‘ ๐‘š (1951), bahwa dusta publik sering lahir dari telunjuk yang tak pernah mau menoleh ke dirinya sendiri.

Ketika alam dipaksa jadi saksi, saya melihat kodok, cicak, dan burung dalam puisi terlampir sebagai metafora rakyat yang diam. Statistik terbaru ๐‘‡๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘ ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘๐‘ฆ ๐ผ๐‘›๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›๐‘Ž๐‘™ (2025) menempatkan Indonesia di peringkat 115 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi.

Angka itu bukan sekadar data; ia adalah jerit menggema yang ditahan mulut. Bukankah dusta paling berbahaya justru yang dilembagakan atas nama kebenaran?

Saya teringat film ๐ฝ๐‘œ๐‘˜๐‘’๐‘Ÿ (2019), di mana tawa menjadi senjata melawan hipokrisi sosial. Sama halnya, telunjuk yang menuding bisa berubah jadi senjata psikologis untuk membungkam.

Namun, sebagaimana mitologi Yunani tentang Narcissus yang tenggelam dalam bayangan dirinya, telunjuk akhirnya menunjuk cermin: diri sendiri. Refleksi ini bukan sekadar introspektif, melainkan prospektifโ€”apakah kita berani mengubah arah telunjuk dari menyalahkan ke memperbaiki?

Maka bolehkan saya bertanya: jika telunjuk berlumuran dusta, apakah kita masih tega membiarkan bayi dewasa lupa membaca dunia, atau saatnya menuding diri sendiri sebelum sejarah menuding kita?

Selengkapnya: https://www.kompasiana.com/edysuhardono/6972fe82c925c40299313153/puisi-telunjuk-berlumuran-dusta

#๏ธโƒฃ


Kucing belang, kodok sunyiโ€”alam dijadikan boneka hiburan, sekadar alat menutup tangis anak.

Address

Surabaya

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00
Saturday 08:00 - 16:00

Telephone

+6281318882382

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IISA VISIWASKITA: Assessment, Consultancy & Research Centre posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram

Category