30/05/2024
500 TAHUN IBADAH vs SATU NIKMAT ALLAH
Jangan pernah ada rasa bangga sedikitpun, apalagi sombong dengan kebaikan atau ibadah yang kita lakukan, karena sebanyak apapun amal ibadah kita sungguh tidak apa-apanya dibanding curahan nikmat Allah yang tiada terhingga jumlahnya setiap detik kepada kita.
Seberapa hebatkah amal ibadah yang dibanggakan? Karena sehari diberi Allah waktu 24 jam pun hanya beberapa menit yang kita persembahkan untuk ibadah, itupun tak seberapa kualitasnya karena sering kali kita lakukan hanya sebagai penggugur kewajiban.
Keterpanggilan, kesehatan, kekuatan, kesempatan, nikmat islam dan iman yang Allah beri kepada kita sehingga mampu berbuat baik dan beribadah pun tidak lain karena rahmat dan taufiq Allah, sehingga masih bisa badan ini digerakkan untuk beribadah sebagai wujud syukur atas segala karunia. Semakin lama umur kita, semakin banyak dan tak terhingga p**a rahmat Allah yang tercurahkan. Namun, apakah demikian p**a dengan ibadah kita?
Ada satu kisah yang pernah Rasululullah SAW sampaikan kepada para sahabat dalam riwayat Al-Hakim tentang betapa luar biasa tak terhingga nikmat Allah yang telah diberikan dibandingkan ibadah 500 tahun yang seorang hamba lakukan sepanjang hidupnya.
Kisah ini selalu mengingatkan diri bahwa dalam hidup ini hanya rahmat Allah satu-satunya yang benar-benar kita harap untuk meraih surga serta ridho-Nya, karena tidak akan pernah kita bisa mengandalkan ibadah untuk menebus semua nikmat Allah.
Segala kebaikan dan ibadah yang kita lakukan tidak lain sebagai usaha mencari ridho-Nya, yang dengan ridho itu semoga Allah juga memberikan rahmat kepada kita.
Dari Jabir bin Abdullah RA berkata, "Rasulullah SAW keluar menuju kami, lalu bersabda, "Baru saja kekasihku Malaikat Jibril keluar dariku dia memberitahu, "Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran.
Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba di antara sekian banyak hambaNya yang melakukan ibadah kepadaNya selama 500 tahun, ia hidup di puncak gunung yang berada di tengah laut. Lebarnya 30 hasta dan panjangnya 30 hasta juga. Sedangkan jarak lautan tersebut dari masing-masing arah mata angin sepanjang 4000 farsakh. Allah mengeluarkan mata air di puncak gunung itu hanya seukuran jari, airnya sangat segar mengalir sedikit demi sedikit, hingga menggenang di bawah kaki gunung.
Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam mengeluarkan satu buah delima matang untuk dimakan pada siang hari. Jika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan.
Kemudian mengerjakan shalat. Ia berdoa kepada Allah Ta’ala jika waktu ajal tiba agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah atau lainnya sehingga ia dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga.
Demikianlah kami dapati, jika kami lewat di hadapannya ketika kami menuruni dan mendaki gunung tersebut.
Selanjutnya, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah Ta’ala, lalu Allah berfirman, "Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu." Hamba itu membantah, "Ya Rabbi, aku masuk Surga karena perbuatanku."
Allah Ta’ala berfirman, "Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu." Hamba tersebut membantah lagi, "Ya Rabbi, masukkan aku ke surga karena amalku."
Kemudian Allah Ta’ala memerintah para malaikat, "Cobalah kalian timbang, lebih berat mana antara kenikmatan yang Aku berikan kepadanya dengan amal perbuatannya."
Maka ia dapati bahwa kenikmatan penglihatan yang dimilikinya lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan anggota tubuh yang lain. Allah Ta’ala berfirman, "Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!"
Kemudian ia diseret ke dalam api Neraka. Hamba itu lalu berkata, "Ya Rabbi, benar aku masuk Surga hanya karena rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam SurgaMu."
Allah Ta’ala berfirman, "Kembalikanlah ia."
Kemudian ia dihadapkan lagi di depan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala bertanya kepadanya, "Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?"
Hamba tersebut menjawab, "Engkau, wahai Tuhanku."
Allah bertanya lagi, "Yang demikian itu karena keinginanmu sendiri atau berkat rahmatKu?"
Dia menjawab, "Semata-mata karena rahmatMu."
Allah bertanya, "Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?" Dia menjawab, "Engkau Ya Rabbi."
Allah bertanya, "Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung dikelilingi ombak laut, kemudian mengalirkan untukmu air segar di tengah-tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali? Di samping itu semua, kamu mohon kepadaKu agar Aku mencabut nyawamu ketika kamu bersujud, dan aku telah memenuhi permintaanmu!?" Hamba itu menjawab, "Engkau ya Rabbi."
Allah Ta’ala berfirman, "Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu p**a Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga! HambaKu yang paling banyak memperoleh kenikmatan adalah kamu wahai hambaKu." Kemudian Allah Ta’ala memasukkanya ke dalam Surga."
Jibril ‘Alaihis Salam melanjutkan, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah Ta’ala." (HR. Al-Hakim, 4/250)
📝Syamsul Bahri