13/11/2025
Membangun Ekosistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia
Oleh:
dr. H. Emirald Isfihan, MARS.,MH.,CMC.,FISQua.
(Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram)
Bangsa Indonesia lahir dari budaya ketimuran yang menjunjung tinggi adab, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam falsafah hidup kita, manusia tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu menjadi bagian dari komunitas yang saling menjaga dan menguatkan. Nilai luhur kekeluargaan mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling memahami, termasuk dalam pelayanan kesehatan yang menuntut empati, sikap saling percaya, dan kerja bersama. Semangat gotong royong yang diwariskan leluhur menjadi pondasi kebangsaan kita, bahwa setiap beban akan lebih ringan bila dipikul bersama antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, setiap persoalan baik sosial maupun pelayanan kesehatan, selayaknya diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan ketenangan hati, sejalan dengan jati diri bangsa Indonesia yang penuh kearifan.
Hubungan Dokter/Tenaga Kesehatan–Pasien sebagai Relasi Kepercayaan yang Harus Dijaga Bersama.
Hubungan antara dokter atau tenaga kesehatan dengan pasien pada dasarnya adalah hubungan kepercayaan (fiduciary relationship) yang sangat kuat. Pasien menyerahkan kondisi kesehatannya kepada tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi profesional, sedangkan tenaga kesehatan berkewajiban memberikan pelayanan terbaik sesuai standar etik, standar profesi, dan standar prosedur operasional. Hubungan ini sangat spesial, dikenal sebagai hubungan terapeutik, yaitu ikatan moral dan hukum yang menciptakan hak dan kewajiban timbal balik demi upaya penyembuhan pasien.
Hubungan terapeutik ini tidak hanya melibatkan dokter/tenaga kesehatan dan pasien, tetapi juga keluarga pasien dan fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas). Keempat unsur ini membentuk ekosistem penyembuhan yang bekerja bersama untuk:
1. Menyembuhkan atau meringankan penyakit,
2. Mengembalikan fungsi kesehatan,
3. Mencegah komplikasi,
4. Meningkatkan kualitas hidup pasien.
Karena itu, pelayanan kesehatan merupakan kerja kolektif, bukan hanya tugas satu pihak. Suasana yang dibangun harus penuh empati, saling memahami, dan berlandaskan semangat kekeluargaan.
Pentingnya Suasana Kekeluargaan dalam Pelayanan Kesehatan.
Pelayanan kesehatan akan berjalan optimal bila dibangun atas suasana kekeluargaan yaitu: saling menghargai, saling menghormati, dan saling percaya. Suasana kekeluargaan menciptakan ketenangan bagi pasien, kenyamanan bagi keluarga, dan ketenangan batin bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya.
Hubungan seperti ini harus terus dipupuk sebagai bagian dari upaya penyembuhan, karena Komunikasi menjadi lebih efektif, Kesalahpahaman dapat diatasi dengan cepat, Keluhan dapat dicarikan solusi secara elegan, Tenaga kesehatan dapat bekerja dengan tenang tanpa tekanan yang tidak perlu, Pasien dan keluarga lebih kooperatif dalam proses perawatan.
Oleh karena itu,pelayanan kesehatan bukan hanya sebuah transaksi, melainkan hubungan kemanusiaan yang memerlukan kebijaksanaan, kedewasaan, dan kebersamaan.
Menghindari Provokasi, Konfrontasi, dan Vonis Sepihak.
Dalam situasi tertentu, keluhan atau ketidakpuasan pasien pasti akan muncul. Namun, sangat penting agar tidak ada pihak yang memperkeruh suasana, terlebih lagi dengan memprovokasi atau membangun opini sepihak sebelum fakta yang sebenarnya diketahui.
Oleh karena itu, perlu ditegaskan bahwa "siapapun" tidak boleh tampil sebagai "hakim" yang langsung memvonis salah satu pihak tanpa proses klarifikasi, cek dan ricek, serta verifikasi informasi.
Masyarakat sangat mudah terpengaruh, terlebih jika dilakukan oleh figur publik atau tokoh berpengaruh. Bila figur tersebut langsung berpihak tanpa data, maka:
1. hubungan terapeutik akan rusak;
2. kepercayaan masyarakat terbelah;
3. tenaga kesehatan bekerja di bawah tekanan sosial;
4. pelayanan menjadi tidak optimal;
5. potensi konflik meningkat.
Sebaliknya, mereka yang memiliki posisi sosial, jabatan, atau pendidikan tinggi harus menjadi teladan dan pengedukasi masyarakat. Merekalah yang semestinya Menenangkan situasi, Mengajak masyarakat berdialog secara sehat, Mengarahkan penyelesaian secara kekeluargaan, Mendorong mekanisme pengaduan atau mediasi secara prosedural, Menjembatani kesalahpahaman, bukan menambah masalah baru.
Tenaga Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan Juga Memiliki Tanggung Jawab Moral.
Dalam suasana semacam ini, tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan juga memiliki tanggung jawab penting. Mereka harus:
1. Membangun budaya pelayanan yang ramah dan komunikatif,
2. Mengedepankan empati dalam setiap interaksi,
3. Memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami,
4. Tidak reaktif terhadap komplain,
5. Menjadikan keluhan sebagai bahan perbaikan,
6. Menciptakan lingkungan pelayanan yang benar-benar hangat seperti keluarga.
Hubungan kekeluargaan bukan hanya dituntut dari masyarakat atau tokoh publik, tetapi juga harus dihidupkan oleh tenaga kesehatan itu sendiri, karena pelayanan kesehatan adalah perpaduan antara ilmu, etika, dan kemanusiaan.
Menjaga Hubungan Terapeutik Demi Kepentingan Pasien.
Akhirnya, tujuan utama dari semua ini adalah kesembuhan dan keselamatan pasien . Bila hubungan kepercayaan rusak akibat provokasi, konflik, atau vonis sepihak, yang dirugikan pertama kali adalah pasien itu sendiri.
Karena itu, penyelesaian setiap kendala pelayanan harus ditempuh melalui Komunikasi yang baik, Prosedur pengaduan yang benar, Mediasi atau fasilitasi yang adil, Pendekatan kekeluargaan, serta Sikap saling menghormati.
Hanya dengan cara inilah ekosistem pelayanan kesehatan dapat tetap harmonis, dan tujuan luhur untuk menolong masyarakat mencapai derajat kesehatan terbaik dapat terwujud.
Mari bersama-sama dalam bingkai kekeluargaan kita bergotong royong menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih baik, dari Kota Mataram menuju NTB dan Indonesia yang sehat.