15/12/2025
Ruqyah Batam: Kesurupan, Kepanikan, dan Pelajaran Besar dari Surat Al Fatihah Yang Sering Diabaikan
Suatu sore, ketika suasana kantor saya mulai agak sepi dan sunyi serta aktivitas hampir usai, ponsel saya berdering.
Di ujung sana terdengar suara seorang laki-laki yang jelas diliputi kepanikan. Nada bicaranya terburu-buru, nafasnya tak teratur.
“Pak, Pak. Ini tempat rukiah itukan… Tolong Pak, adik saya sedang kesurupan,” ucapnya nyaris tanpa jeda.
Ia lalu memohon agar saya segera datang ke rumahnya. Dalam kondisi seperti itu, tentu permintaan tersebut sangat bisa dipahami.
Namun pada saat yang bersamaan, saya juga sedang berada dalam pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan.
Dengan hati berat, saya menjelaskan keadaan saya dan mengatakan bahwa saya belum bisa datang saat itu juga.
Beberapa detik terdiam, lalu ia berkata dengan suara yang lebih pelan namun penuh harap: “Kalau begitu, Pak… bisakah Bapak meruqyah dari telepon saja?” pintanya.
Saya menghela nafas sejenak sebelum menjawab. Saya sampaikan dengan jujur dan tenang.
“Sebaiknya Anda sendiri yang meruqyah langsung adik Anda. Ruqyah lebih efektif bila dilakukan oleh orang terdekat, apalagi Anda berada di tempat dan bisa memastikan kondisi fisiknya aman, sudah berwudhu, posisinya baik, dan tidak membahayakan.”
Ia terdengar ragu. Seakan kepercayaan dirinya runtuh. “Tapi, Pak… saya tidak punya banyak hafalan Al Qur’an dan tidak fasih,” katanya lirih.
Saya tidak langsung menanggapi. Lalu saya bertanya perlahan, bukan untuk menguji, tapi untuk menenangkan. “Kamu hafal surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, ayat Kursi atau surat-surat pendek lainnya?”
Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan nada malu. “Tidak, Pak… saya cuma hafal Al-Fatihah saja.”
Mendengar itu, saya tersenyum kecil meski ia tak bisa melihatnya. Saya merasakan ada pelajaran besar yang akan Allah tunjukkan sore itu.
Saya pun berkata dengan mantap. “Kalau begitu, itu sudah cukup.” Ia kembali terdiam, mungkin terkejut.
Saya lanjutkan. “Kamu wudhu dulu dan tenang. Hadirkan niat karena Allah. Lalu bacakan Al-Fatihah kepada adikmu, pelan-pelan tapi yakin.”
“Ulangi beberapa kali. Tiupkan sedikit ke telapak tanganmu, lalu usapkan ke kepala dan punggungnya sambil berdoa. Jangan terburu-buru. Jangan panik. Yang bekerja bukan kamu, tapi Allah.”
Dengan suara yang mulai lebih stabil, ia menjawab. “Baik, Pak. Saya lakukan sekarang.” Telepon pun ditutup dan saya melanjutkan pekerjaan saya yang sempat terhenti.
Beberapa jam berlalu. Malam semakin sunyi. Saya hampir saja terlelap ketika ponsel kembali berdering.
Nomor yang sama muncul di layar. Kali ini, suara di seberang terdengar sangat berbeda, lega, ringan, bahkan nyaris bergetar oleh rasa syukur.
“Pak… alhamdulillah. Adik saya sudah sadar. Sekarang dia normal lagi. Terima kasih banyak, Pak.” Saya spontan menjawab. “Alhamdulillah… itu semua karena rahmat dan pertolongan Allah.”
Setelah panggilan itu berakhir, saya terdiam cukup lama. Hati saya terasa hangat sekaligus tersentuh. Bukan karena keberhasilan metode, bukan p**a karena peran saya.
Justru karena pelajaran sederhana yang kembali ditegaskan. Al-Fatihah, yang sering kita baca setiap hari, ternyata begitu dahsyat ketika dibaca dengan iman, ketundukan, dan ketawakalan.
Kisah ini kembali mengingatkan saya bahwa dalam ruqyah, teknik dan bacaan memang penting, tetapi yang paling menentukan adalah kehadiran hati, keikhlasan, dan izin Allah.
Bahkan dari seorang yang merasa “hanya hafal Al Fatihah” Allah tetap menunjukkan kuasa-Nya.
Karena Al Fatihah bukan sekadar bacaan pembuka salat, melainkan doa, penghambaan, dan permohonan perlindungan yang agung.
Dan malam itu, saya kembali belajar kadang yang paling sederhana, justru menyimpan kekuatan paling besar.
Surat Al Fatihah
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
(Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm)
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
(Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn)
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
(Ar-raḥmānir-raḥīm)
3. Dia Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
(Māliki yaumid-dīn)
4. Yang menguasai di Hari Pembalasan
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
(Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn)
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
(Ihdinaṣ-ṣhirāṭal-mustaqīm)
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
(Sirāṭallażīna an’amta ‘alaihim ghairil-maghḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn)
7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (p**a jalan) mereka yang sesat
Tentang Al-Fatiḥah
Surat ke-1 dalam Al-Qur’an Al-Fatihah, artinya Pembukaan. Disebut surat Al-Fatihah (Pembuka) dikarenakan sebagai surat pertama dalam kitabullah.
Disebut juga sebagai Ummul Qur’an (Ibunya Al-Qur’an) karena mengandung seluruh inti ajaran Qur’an, seperti tauhid, ibadah dan lain sebagainya.
Ini adalah tujuh ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, tujuh ayat yang selalu diulang-ulang. Ringkasan beberapa rujukan penting dari kitab-kitab tafsir, kajian-kajian, dan rujukannya.
1. Tafsir Ibn Katsir, pembahasan tentang nama, faedah, dan penyebutan sebagai asy-syifa’ (obat/penawar)
Ibn Katsir menjelaskan nama-nama Al-Fatiḥah (Umm al-Kitab, Ash-Shifa’, As-Sab‘ul Mathani) dan merangkum hadis serta atsar yang menyebutkannya sebagai penawar (ruqyah). Ini rujukan tafsir klasik yang sering dijadikan rujukan ulama.
2. Riwayat yang menyebut Al-Fatiḥah sebagai “penawar” atau “ruqyah” (contohnya riwayat Abu Sa‘id tentang orang yang diruqyah karena diracuni
Beberapa kitab riwayat mencatat kisah dan hadis yang menyebut Al-Fatiḥah sebagai penawar (al-shifa’/ar-ruqyah). Contoh disebutkan dalam Sunan Ad-Darimi yang dijelaskan di tafsir-tafsir.
3. Kajian modern dan artikel akademik tentang manfaat rohani dan fungsi terapeutik Al-Fatiḥah
Lembaga-lembaga kajian modern, misalnya Yaqeen Institute dan mengulas bagaimana Al-Fatiḥah berfungsi sebagai pusat doa, penyejuk hati, dan dalam tradisi Islam juga digunakan sebagai ruqyah spiritual. Ini berguna untuk melihat perspektif kontemporer dan psikospiritual.
Yaqeen Institute for Islamic Research (Yaqeen Institute) beralamat di 7750 N. MacArthur Blvd, Suite 120237, Irving, Texas, Amerika Serikat. Mereka adalah lembaga penelitian nirlaba yang berfokus pada isu-isu Islam, dipimpin oleh Omar Suleiman.
4. Ringkasan fatwa atau penjelasan kontemporer tentang keutamaan Al-Fatiḥah
Penjelasan ulama kontemporer merangkum keutamaan Al Fatihah sebagai inti ibadah, ringkasan tauhid, doa paling lengkap. Termasuk praktik ruqyah dengan mengutamakan bacaan Al-Qur’an, tawakkal, dan tindakan pencegahan medis bila perlu.
5. Artikel-artikel ringkasan bahasa Indonesia yang mengumpulkan pendapat ulama Ibn Katsir, Musthafa al ‘Adawi
Beberapa kajian-kajian Islam berbahasa Indonesia menyajikan ringkasan tafsir Al-Fatiḥah dari Ibnu Katsir dan penjelasan singkat aplikatif sehingga cocok dipakai untuk umat Islam di Indonesia.
Selengkapnya:
Ruqyah Batam Kesurupan, Kepanikan, dan Pelajaran Besar dari Surat Al Fatihah Yang Sering Diabaikan