09/05/2025
“Tiga Gelas dan Air Kehidupan”
Di sebuah sore, Rafi duduk bersama kakeknya di beranda. Ia baru saja pulang dari kajian agama dan wajahnya terlihat bingung.
“Kenapa kelihatan berat, Fi?” tanya sang kakek.
Rafi menghela napas, “Tadi dibahas soal syariat, tarekat, dan hakikat… tapi jujur, aku masih bingung. Bedanya di mana sih, Kek?”
Kakek tersenyum, lalu mengambil tiga gelas dari dapur. Ia mengisi gelas pertama dengan air keran, gelas kedua dengan air yang sudah disaring, dan gelas ketiga dengan air yang ditaruh es batu, lalu diberi daun mint.
“Nah, coba minum satu-satu.”
Rafi meminum dari gelas pertama. “Biasa aja.”
Lalu ia minum dari gelas kedua. “Lebih bersih.”
Dan terakhir, ia menyeruput gelas ketiga. “Wah… seger banget!”
Kakek lalu berkata,
“Gelas pertama, itu syariat. Kamu butuh air untuk hidup. Tapi kadang belum jernih, masih campur dengan rutinitas, kewajiban, kadang tanpa rasa. Yang penting jalanin dulu.”
“Gelas kedua, tarekat. Kamu mulai menyaring hidupmu. Mulai menata hati, membersihkan niat, menjaga pikiran dari yang keruh. Ibadahmu nggak lagi sekadar formalitas, tapi mulai ada rasa.”
“Dan gelas ketiga, itu hakikat. Air yang jernih, segar, dan menyegarkan. Kamu bukan hanya merasa dekat dengan Tuhan, tapi kamu merasakan Tuhan hadir di setiap hembusan napasmu. Bahkan saat kamu diam, Tuhan terasa hidup dalam dirimu.”
Rafi terdiam. Ia melihat ketiga gelas itu, dan tiba-tiba hatinya terasa tenang.
“Jadi semua penting ya, Kek?”
“Betul. Tapi jangan buru-buru ke gelas ketiga kalau belum berani menyaring air di gelas pertama. Semua ada waktunya. Yang penting: terus minum, terus haus akan-Nya.”
-Abu M