22/11/2025
✨ Mariyah al-Qibthiyyah: Wanita Mesir yang Mengisi Hati Rasulullah dengan Kehadiran Ibrahim ✨
Ia berasal dari dataran tinggi Hafn di Mesir. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un, ayahnya berasal dari suku Qibthi, sedangkan ibunya menganut agama Masehi Romawi. Tidak banyak yang tercatat tentang masa kecilnya, hingga ia dan saudarinya, Sirin, kelak bekerja di istana Muqauqis.
Ketika Rasulullah mengirim surat dakwah kepada Muqauqis melalui Hatib bin Abi Balta’ah, sang raja menerima utusan itu dengan hormat, namun tetap menolak untuk memeluk Islam. Sebagai balasan, ia mengirimkan Mariyah, Sirin, seorang pelayan bernama Mabur, dan berbagai hadiah berharga untuk Rasulullah.
Dalam perjalanan menuju Madinah, Hatib melihat kesedihan mendalam pada diri Mariyah yang harus meninggalkan tanah kelahirannya. Ia menenangkan keduanya dengan menceritakan tentang Rasulullah dan Islam, hingga Mariyah dan Sirin pun menerima ajakan untuk memeluk agama yang lurus itu.
Ketika tiba, Rasulullah menerima hadiah-hadiah tersebut, termasuk kedua wanita Mesir itu. Beliau memilih Mariyah untuk dirinya, sementara Sirin dinikahkan dengan Hasan bin Tsabit. Namun kecantikan Mariyah menimbulkan kecemburuan di hati istri-istri Rasul lainnya sehingga beliau menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man, dekat masjid.
Allah kemudian memuliakan Mariyah dengan kehamilan—suatu kabar yang sangat menggembirakan Rasulullah, terlebih setelah beliau kehilangan putra-putrinya seperti Qasim, Abdullah, dan Ruqayyah. Mariyah mengandung setahun setelah tiba di Madinah, dan kecemburuan pun kembali melanda para istri Nabi yang telah lama bersama beliau tetapi belum dikaruniai anak lagi.
Rasulullah menjaga Mariyah dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. Pada bulan Dzulhijjah tahun ke-8 H, ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Rasulullah menamainya Ibrahim, mengambil keberkahan dari nama bapak para nabi. Kelahiran Ibrahim membawa kegembiraan besar bagi seluruh umat Islam, dan Rasulullah saat itu memerdekakan Mariyah sepenuhnya.
Istri-istri Nabi, terutama Aisyah, tidak menutupi kecemburuan mereka. Aisyah berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita sebagaimana cemburuku kepada Mariyah. Allah memberinya anak, sedangkan kami tidak dikaruniai seorang pun.”
Di tengah kebahagiaan, muncul fitnah dari kaum munafik yang menuduh bahwa Ibrahim adalah hasil hubungan terlarang antara Mariyah dan pelayannya, Mabur. Tuduhan itu terbongkar ketika Ali bin Abi Thalib mendatangi Mabur untuk memastikan kebenarannya. Dengan tegas Mabur menjawab bahwa ia adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh rajanya, sehingga fitnah itu pun sirna.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Pada usia 18 bulan, Ibrahim jatuh sakit. Rasulullah sering mengunjunginya, penuh duka dan kekhawatiran. Ketika ajal putranya semakin dekat, beliau bersabda,
“Wahai Ibrahim, kami tidak mampu menolak ketetapan Allah.”
Air mata beliau tumpah tanpa beliau sadari. Ketika Ibrahim menghembuskan napas terakhirnya, Rasulullah berkata dengan suara penuh getar,
“Mata ini menangis, hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengatakan sesuatu yang membuat Allah murka. Wahai Ibrahim… kami benar-benar bersedih atas kepergianmu.”
Rasulullah sendiri mengurus jenazah putranya, lalu menguburkannya di Baqi’. Kesedihan beliau menjadi teladan bagi seluruh umat bahwa tangis dan duka adalah naluri manusiawi, selama tidak keluar dari batas syariat.
Setelah wafatnya Rasulullah, Mariyah memilih hidup menyendiri, menenggelamkan dirinya dalam ibadah dan doa. Ia tidak pernah bermegah atas kedudukannya sebagai ibu dari putra Rasulullah, tetapi tetap hidup sederhana sebagaimana saat pertama kali datang ke Madinah.
Mariyah al-Qibthiyyah wafat lima tahun setelah Rasulullah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Sang khalifah sendiri yang menyalatinya, kemudian mengiring jenazahnya hingga dimakamkan di Baqi’.
Semoga Allah merahmati Mariyah al-Qibthiyyah, wanita yang Allah muliakan di dunia dan akhirat, dan yang kehadirannya meninggalkan jejak sejarah dalam keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.