Dunia Parenting

Dunia Parenting Menyediakan berbagai produk keluarga dan artikel parenting

*Keroposnya Institusi Pernikahan* Oleh : Kholda NajiyahFounder Komunitas Istri Strong (KIS) dan Bengkel Istri  - Miris m...
17/03/2026

*Keroposnya Institusi Pernikahan*
Oleh : Kholda Najiyah
Founder Komunitas Istri Strong (KIS) dan Bengkel Istri

- Miris membaca berita yang sedang viral, di mana para istri di Bandung antre panjang untuk mengurus gugatan cerai mereka. Ada yang usianya baru 19 tahun, menggugat cerai karena menjadi korban KDRT. Pernikahannya baru berjalan tiga tahun. Ada istri berumur 32 tahun diselingkuhi dan tak dinafkahi dua tahun lebih (Tirto).

Tak ayal, dalam waktu dekat di Bandung akan ada ribuan janda baru. Itu berarti ribuan duda baru. Juga berarti ribuan anak korban broken home. Ribuan single parents. Ribuan hati yang terluka. Ribuan trauma. Ribuan iblis yang berpesta pora merayakan kemenangannya.
Itu baru di satu kota. Belum di kota lainnya dengan kasus serupa. Na'udzubillahimindzalik.

Ada apa ini? Mengapa pernikahan kian rapuh di dunia yang kian modern? Padahal, pernikahan makin sulit ditempuh. Ingin menikah, dapat jodohnya saja sangat sulit. Menunggu dan mencari dalam harap-harap cemas. Kapan ya, bisa menikah. Usia pernikahan terus naik. Ada yang baru bertemu jodoh usia 30-an, 40-an, bahkan 50-an.

Begitu menggebu saat bertemu jodoh, berikrar atas nama Alquran, bersumpah disaksikan Allah Swt untuk membentuk keluarga. Menyempurnakan setengah agama. Optimis menghadapi s**a-duka berdua. Tapi mengapa pernikahan tak bahagia, lantas berakhir dalam kemelut yang menyakitkan?

MUHASABAH PASUTRI

Menikah dilakukan berdua. Jika sampai terjadi perceraian, tentu karena salah berdua. Bukan salah satu. Bukan salah orang lain. Untuk mencegah perceraian, harus introspeksi berdua. Bukan salah satu. Bukan mengharapkan uluran tangan orang lain. Bicarakan berdua dengan tekad untuk memperbaiki hubungan. Saling menurunkan ego. Saling memaafkan. Berjanji berdua untuk berjuang demi keutuhan rumahtangga.

Harus dipahami, semua pasangan mendapat ujian dalam rumah tangga. Ada yang ujiannya ekonomi atau soal harta. Ada yang ujiannya soal cinta. Soal hati. Ada yang soal karakter pasangan yang tidak menyenangkan. Ada yang ujiannya anak, mertua, tetangga, kesehatan, dan sebagainya.

Semua ujian itu hadir untuk saling menguatkan. Terima dan hadapi berdua. Mencari solusi bersama. Bukan ditinggalkan. Bukan diabaikan. Perpisahan bukan solusi untuk menuntaskan masalah. Perceraian bukan pemecahan terbaik, karena boleh jadi justru mengundang masalah baru. Seperti soal pernafkahan anak, pendidikan anak, nafkah lahir dan batin kedua pasangan yang tak lagi bisa saling memberikan.

Belum lagi persoalan sosial yang berpotensi ditimbulkan. Seperti banyaknya janda yang tidak memiliki wali nafkah, tak sedikit yang memilih menjadi wanita penggoda, wanita tuna susila, dan anak-anak bermasalah akibat broken home.

Karena itu, sekali lagi, persoalan rumah tangga adalah hal yang harus dihadapi. Perceraian adalah pintu emergency terakhir jika seluruh upaya perbaikan telah dilakukan mati-matian. Bukan dengan begitu mudahnya diambil hanya karena faktor ketidakpuasan dan ketidaksempurnaan.

SOLUSI PARSIAL

Secara teknis, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi fenomena perceraian yang terus meningkat setiap tahun. Pemerintah pusat misalnya, membuat kebijakan kursus calon pengantin (sucatin). Setiap pasangan yang akan menikah harus lulus penyuluhan berdurasi dua hari training ini.

Kurikulum yang disampaikan, yakni tatacara dan prosedur perkawinan, pengetahuan agama, peraturan perundangan di bidang perkawinan dan keluarga, hak dan kewajiban suami istri, kesehatan reproduksi, manajemen keluarga dan psikologi perkawinan dan keluarga.

Persoalannya, kurikulum itu tidak cukup untuk menggambarkan jalannya pernikahan secara keseluruhan. Apa saja tantangannya dan bagaimana menghadapinya. Belum lagi kontennya yang tidak steril dari nilai-nilai sekularisme, seperti poin kesehatan reproduksi.

Sementara itu, di level provinsi atau kota, beberapa daerah merumuskan sekolah ibu. Pemkab Bandung dan Pemkot Bogor misalnya. Sekolah ibu diadakan selama 10 kali pertemuan. Membekali para istri agar mampu menjalankan peran dengan baik. Namun, inipun menuai protes dari kalangan penggiat kesetaraan gender.

Sekolah ibu dituding menyalahkan istri sebagai penyebab perceraian, sehingga harus dibina. Kenapa bukan sekolah bapak? Padahal bapaklah penanggungjawab utama keluarga. Baik buruknya rumahtangga, ada di kepemimpinan suaminya.

Para istri ramai-ramai menggugat suami, juga karena ulah para bapak yang tidak menjalankan peran dengan baik. Terutama dalam mencari nafkah atau mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Perlu diketahui, penyebab utama perceraian adalah himpitan persoalan ekonomi. Misal, suami yang tidak bekerja atau terkena PHK.

Komnas Perempuan Nina Nurmila menegaskan hal itu. “Padahal di lapangan, istri bersusah payah menghidupi rumah tangga, mengurus anak-anaknya, tanpa support suami, itu permasalahannya,” kata Nina kepada Tirto, Jumat (28/12/2018). Seharusnya, solusi yang diberikan bukan sekolah ibu, melainkan lapangan kerja bagi para suami yang belum memiliki pekerjaan.

Tentu saja, semua tawaran solusi tersebut hanyalah bagian kecil dari rumitnya persoalan rumahtangga. Belum mampu menjadi solusi tuntas untuk mengerem laju kehancuran institusi pernikahan.

MUHASABAH SISTEM

Pernikahan adalah akad terindah yang seharusnya mewujudkan indahnya berkeluarga.
Keluarga adalah elemen terkecil dalam komunitas besar sebuah bangsa atau negara. Selain faktor pelakunya, yakni pasangan suami-istri, kesuksesan keluarga juga dipengaruhi oleh tempat di mana keluarga kitu dibangun. Peradaban apa yang eksis pada saat itu.

Keluarga-keluarga hari ini begitu rapuh, karena mereka berdiri di tengah peradaban sekular yang kian liberal. Peradaban ini tidak memiliki paradigma berpikir yang khas, tentang tata cara membangun relasi suami istri dalam institusi pernikahan. Juga, tidak memiliki support system untuk menjamin ketahanan keluarga. Tidak memiliki mekanisme menjamin kebutuhan keluarga-keluarga agar bertahan dalam lembaga pernikahan. Juga, munculnya rangsangan-rangsangan eksternal yang memicu kehancuran keluarga.

Negara ini pun tak luput dari penerapan sistem sekular ini. Memang, menikahnya pakai akad agama. Tapi kehidupan sesudahnya sama sekali tidak didukung oleh agama. Peran suami dan istri tidak diatur dengan tegas berdasar agama, melainkan ajaran sekular. Misal, bagaimana negara mampu “memaksa” para suami agar menegakkan kewajiban nafkahnya. Negara juga harus “memaksa” para istri untuk taat pada para suaminya. Negara menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap keluarga.

Ketika negara tidak menggunakan kewenangannya untuk ikut memenuhi kebutuhan keluarga-keluarga ini, maka mereka rapuh. Sebab, secara internal interaksi pasutri sendiri sudah keropos, ditambah bangunan negara yang tidak mampu mengantisipasi kerobohannya.

Akibatnya, fenomena maraknya perceraian yang dahulu kita baca hanya melanda masyarakat Barat, kini ada di depan mata. Bahkan melanda kaum Muslimin yang memang dipaksa hidup di habitat peradaban sekular. Ini menunjukkan kegagalan sistem sekular dalam mewujudkan keluarga-keluarga yang utuh dan harmonis.

Karena itu, satu-satunya solusi untuk mencegah robohnya bangunan keluarga adalah mengembalikan kehidupan rumahtangga pada habitatnya, yakni sistem yang berdasar pada wahyu Allah Swt. Sebab Dialah yang menitahkan institusi pernikahan. Dialah yang Maha Tahu syariat terbaik untuk melanggenggkannya. Rumah tangga yang harus dibangun dalam suasana keimanan, yakni dalam wadah peradaban Islam.(*)
----------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

16/03/2026

*5 Adab Dasar Untuk Anak Mumayyiz*
Oleh : Ustaz Iwan Januar

- Anak mumayyiz adalah mereka yang sedang berada di fase tamyiz. Fase ditandai dengan berkembangnya kemampuan anak dalam memenuhi sejumlah kebutuhan dirinya tanpa bantuan orang lain. Misalnya sudah mampu makan sendiri, mengambil pakaian sendiri, bahkan beberapa anak sudah mampu berpakaian sendiri, dsb.

Tentang pengertian tamyiz dijelaskan dalam kitab Al-Mufradat; “Kekuatan daya pikir yang dengannya anak mampu menemukan dan menetapkan beberapa makna(perkataan)” (Al-Mufradat, Ar-Raghib Al-Ashfahani hal. 495).

Para ulama berbeda pandangan tentang rentang usia anak di masa ini. Sebagian ada yang berpendapat anak masuk keadaan tamyiz sejak usia lebih dari dua tahun sampai jelang usia 14 tahun. Sebagian lagi berpendapat fase tamyiz justru dimulai di usia 7 tahun. Namun kembali pada pengertian tamyiz di atas, penekanannya adalah pada kemampuan anak itu sendiri.

Ayah bunda jangan lupa, meskipun belum baligh, sehingga hisab Allah belum berlaku pada anak usia ini, akan tetapi orang tua sudah diperintahkan untuk memberikan pendidikan Islam. Salah satunya adalah memberikan pendidikan adab pada sesuai usia dan kemampuan berpikir mereka. Berikut ini lima adab dasar yang harus ditanamkan ayah bunda pada anak;

Mudah Bersyukur
Biasakan pada anak untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah baik besar maupun kecil. Dengan adab ini maka anak tidak mudah iri hati pada orang lain. Anak juga tidak mudah kecil hati karena paham bahwa besar ataupun kecil semua kebaikan dari Allah. Utamanya lagi, anak akan paham bahwa Allah adalah Pemberi semua kenikmatan.

Menutup aurat
Meski belum baligh dan belum dihisab Allah Swt. akan tetapi anak perlu mendapat pembiasaan dalam menjaga aurat. Tentu bukan dengan cara yang ketat dan penuh disiplin seperti pada orang dewasa. Penting juga bagi ayah bunda tidak membiasakan anak memakai pakaian seperti celana pendek, rok mini, atau celana ketat pada anak perempuan. Pada anak lelaki dan perempuan juga biasakan untuk berganti pakaian di ruang tertutup, seperti halnya buang hajat di toilet tertutup.

Kebersihan badan
Kebersihan adalah ciri orang beriman. Karenanya penting dan mulia ayah bunda mulai ajarkan kebersihan pada anak sejak usia tamyiz. Dimulai dari kebersihan badan seperti mandi, mencuci tangan sebelum makan dan setelah bangun tidur, terutama bersuci setelah buang hajat.

Membuang sampah pada tempatnya juga adab dasar yang penting diajarkan pada anak usia tamyiz. Biasakan pada mereka untuk menyimpan dulu sampah sampai menemukan tempat sampah. Karenanya ayah bunda menempatkan beberapa tempat sampah di tempat yang mudah dijangkau untuk memudahkan anak menjaga kebiasaan ini.

Santun dan respek
Banyak hal kesantunan sederhana tapi penting untuk dimiliki anak di usia tamyiz, seperti meminta izin bila ingin memainkan mainan kawan, mengambalikan barang milik orang lain, ucapkan salam bila hendak masuk ke rumah, ucapkan terima kasih saat dibantu atau diberi, dsb.

Ajarkan juga si kecil untuk menghormati kepemilikan orang lain dan menghormati orang yang lebih tua. Kadang anak bertanya, ”Kenapa kok rumah kawan aku jelek ya?” maka ayah bunda perlu menjelaskan dengan bahasan syukur nikmat dan menghormati apa yang dimiliki orang lain.

Menjaga lisan
Si kecil itu sosok yang mudah mengimitasi orang di sekitarnya. Apalagi dalam hal ucapan, termasuk ucapan yang kasar dan kotor. Penting bagi ayah bunda melindungi anak dari pengaruh bahasa yang kasar dan kotor dalam pergaulan. Tentu ayah bunda tidak bisa memproteksi ananda 100 persen. Namun bisa mengingatkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan anak muslim dan segera meluruskan si kecil bila ketahuan melakukan hal tersebut.(Sumber : iwanjanuar com)
----------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

*Menjaga Kemesraan⁣⁣⁣ Di Saat Marah*Oleh : Mohammad Fauzil Adhim⁣⁣⁣⁣⁣⁣ - Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Be...
15/03/2026

*Menjaga Kemesraan⁣⁣⁣ Di Saat Marah*
Oleh : Mohammad Fauzil Adhim⁣⁣⁣

⁣⁣⁣ - Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika handphone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimp**an tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi memerlukan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas.⁣⁣⁣

Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik yang berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tetapi saya melihat bukan saat yang tepat. Ibarat komputer, sistemnya perlu di-restart dulu agar bisa melihat masalah sendiri dengan baik. Kali ini, yang paling penting ia bisa menata kembali pikirannya, menyusun kembali kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan juga kerapuhan jiwanya dengan baik. Bahasa komputernya, pertemuan pertama lebih banyak saya manfaatkan untuk memberi kesempatan kepadanya melakukan defragmentasi pikiran‐pikiran dan emosinya sehingga ia bisa menempatkannya secara lebih teratur.⁣⁣⁣

Pertemuan berikutnya, saudara kita ini sudah bisa menceritakan secara lebih jelas masalah yang dihadapinya. Meski masih melompat‐lompat dan banyak yang berulang‐ulang, saya mulai bisa menangkap akar masalahnya. Pada pertemuan berikutnya lagi, mulailah kelihatan penyebab konflik rumah‐tangganya yang berlarut‐larut. Di antara penyebab utama pertikaian yang menimbulkan kekerasan fisik satu sama lain —istrinya sering bertindak sangat kasar sampai melukai suaminya— adalah kegagalan komunikasi. Keduanya keras, mudah tersinggung sekaligus mudah terbakar emosinya menjadi perilaku yang membahayakan.⁣⁣⁣

Sebenarnya, tidak masalah suami‐istri sama‐sama memiliki sifat mudah tersinggung, keras dan mudah marah, sejauh keduanya saling menyadari tentang sifat buruk mereka. Berawal dari saling menyadari ini, mereka belajar untuk saling mengenali penanda emosi dari kedua belah pihak. Istri saya misalnya, tahu saya sedang marah, bad mood (suasana hati sedang tidak baik) atau pikiran sedang tegang dari rambut saya. Diam‐diam ia rupanya menandai bahwa setiap kali satu dari tiga situasi buruk itu muncul, rambut di ubun‐ubun saya berdiri. Alhasil begitu melihat penanda emosi itu muncul, istri saya segera mengambil langkah yang perlu. Misalnya bertanya apa yang sedang saya alami atau sejenak mengajak anak-anak agar tidak gaduh.⁣⁣⁣

Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah ﷺ dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyaLlahu ‘anha tak lepas dari kepekaan Rasulullah ﷺ. Beliau mengenal penanda s**a dan marahnya hati ‘Aisyah.⁣⁣⁣

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyaLlahu ‘anha, ia berkata: ⁣⁣⁣

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ وَ إِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى قَالَتْ فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذلِكَ؟ فَقَالَ أَمَا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ فَإِنَّكِ تَقُوْلِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ وَإِذَا كًنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيْمَ. قَالَتْ قُلْتُ أَجَلْ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ⁣⁣⁣

Rasulullah berkata kepadaku, “Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau ridha padaku dan kapan engkau marah.” ‘Aisyah bertanya, “Darimana engkau tahu?” Rasulullah berkata, “Bila engkau sedang ridha padaku, engkau berkata, ‘Demi Tuhannya Muhammad.’ Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata, ‘Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.’ ‘Aisyah berkata, ‘Demi Allah, memang benar ya Rasulallah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.” (HR. Bukhari & Muslim)⁣⁣⁣.

Apa yang bisa kita petik dari hadits ini? Kepekaan untuk mengenali penanda perasaan istri, bahkan meskipun istri bukanlah seseorang yang mudah marah. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dengan lebih tepat dan menahan diri dari perilaku yang bisa memperkeruh. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yang sering saya sebut sebagai kedewasaan emosi; kemampuan untuk mengenali, mema¬hami dan menerima dengan baik.⁣⁣⁣

Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengomunikasikan emosi tak baik dengan cara yang tepat. Tidak saling marah, tidak saling memojokkan dan tidak saling menyakiti. Emosi tak baik bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak s**a. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan antara suami dan istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan rentan salah paham dan pertikaian. Tetapi emosi tak baik (bad emotion) itu bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. ⁣⁣⁣

Kita bisa mengatakan, “Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi tidak baik.”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣

Menahan Diri untuk Tidak Menyalahkan⁣⁣⁣

Jika situasi memungkinkan, suami‐istri dapat mengungkapkan emosi tak baik —bukan melampiaskan— dengan setuntas‐tuntasnya. Ia berbicara secara terbuka sekaligus hati‐hati apa saja yang membuatnya marah atau sakit hati. Tetapi kita harus menahan diri untuk tidak menyalahkan. Kita harus ingat bahwa semarah apa pun kita, komunikasi suami‐istri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar.⁣⁣⁣

Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburu‐buru mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan. Kalau kita sendiri masih belum bisa berpikir jernih, sebaik apa pun jalan keluar yang diajukan oleh suami atau istri kita, tetap saja sulit kita terima apa adanya. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri sejenak. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing‐masing pihak merasakan adanya itikad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian.⁣⁣⁣

Kalau sekiranya istri atau suami kita masih meluap‐luap emosi tak baiknya dan bahkan cenderung memuncak, maka belajar dari Rasulullah ﷺ kita perlu menahan diri sejenak. Biarkan emosinya mereda. Jangan menyalahkan. Jangan p**a menuntut. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. ⁣⁣⁣

Di saat emosinya masih meluap‐luap, boleh jadi obat yang paling tepat untuk menahan emosi agar tidak semakin menghebat adalah kesediaan untuk mendengarkan. Bukan sekedar mendengar. Kita mendengarkan luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan. Kalaupun ada yang salah, kita bisa meluruskannya. Bukan menyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga keadaannya menjadi lebih baik secara emosi.⁣⁣⁣

Kalau emosi sudah reda, masing‐masing sudah saling tahu apa yang tidak mengenakkan hati, kita dapat merencanakan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan. ⁣⁣

Bicarakanlah masalah yang ada dengan santai. Diskusikanlah apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tenang dan dari hati ke hati. Wallahu a’lam bis-shawab.⁣⁣⁣

Tulisan lama tahun 2012. Semoga bermanfaat dan barakah.

Sumber : Fauzhil Adhim
------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

14/03/2026

*Pentingnya Saling Memberi Nasihat di Antara Pasangan Suami Istri*
Oleh : Najmah Saiidah

— Hal penting yang harus ditanamkan dalam diri setiap pasangan suami istri adalah bahwa diri kita dan pasangan kita bukanlah sosok manusia yang sempurna, tanpa kekurangan atau kelemahan. Para suami hendaknya menyadari, istri yang dinikahi itu adalah perempuan biasa saja yang memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.

Untuk itulah Allah Swt. mengirim seorang perempuan sebagai istrinya untuk melengkapi kekurangannya dan memperbaiki sisi kelemahannya. Demikian p**a sebaliknya dengan seorang istri, sudah seharusnya menyadari hal ini.

Setiap pasangan suami istri tentunya telah memahami bahwa saling menerima dan memberi nasihat merupakan salah satu hal yang dapat menambah kebahagiaan dalam rumah tangga. Di samping tentu saja keimanan dan pemahaman terhadap syariat Islam menjadi kunci utama kebahagiaan rumah tangga. Ini semua menjadi dambaan setiap pasangan suami istri dalam membina rumah tangga islami.

Hanya saja, memang pada faktanya tidak semuanya berjalan seideal ini. Terkadang dalam perjalanannya terjadi kesalahpahaman di antara pasutri terhadap suatu permasalahan yang sebenarnya bersumber dari perbedaan pandangan atau pemahaman terhadap syariat Islam.

Di sinilah dibutuhkan adanya saling mengingatkan di antara keduanya dan tidak mengedepankan ego dari kedua belah pihak. Siapa pun akan menyadari bahwa tidak selalu suami lebih banyak paham tentang Islam ataupun sebaliknya, tidak selalu istri lebih paham. Di sinilah pentingnya saling menasihati di antara pasutri dan merupakan kewajiban keduanya untuk terus belajar Islam tanpa henti.

Rasulullah Saw. Contoh Terbaik
Rasulullah saw. adalah sahabat bagi istri-istrinya, bukan pemimpin yang otoriter, meskipun beliau seorang kepala negara, bahkan seorang Nabi. Sebagai suami, tentu saja beliau sering menasihati istri-istrinya.

Masih segar dalam ingatan kita ketika Rasulullah menasihati Aisyah ketika ia mengomentari Shafiyyah. Dari Aisyah, ia berkata, “Aku pernah mengatakan kepada Rasulullah saw. tentang Shafiyyah. Lalu Rasulullah menegurku, ‘Kau telah melontarkan sebuah kalimat luar biasa, yang bila dilemparkan ke laut, niscaya ia akan bercampur (mengubah rasa air) laut tersebut.’”

Semasa hidupnya, Rasulullah biasa berbincang dan saling memberi mas**an dengan para istri beliau. Bahkan beliau pun menerima nasihat dan saran dari para istrinya. Terkadang beliau membahas berbagai persoalan penting dengan mereka. Dalam beberapa peristiwa, sesungguhnya Rasulullah hendak memberi pelajaran kepada umat Islam tentang posisi penting yang dimiliki kaum perempuan.

Sebuah peristiwa besar yang selalu kita ingat, yaitu Perjanjian Hudaibiyah. Perintah Allah yang berasal dari wahyu, yang tidak dapat dimungkiri terasa berat bagi Rasulullah dan juga sebagai hantaman bagi para sahabat sehingga mereka tidak bersegera menyambut perintah Rasulullah saw..

Ketika melihat para sahabat enggan memenuhi perintahnya, Rasulullah pun masuk ke dalam tenda beliau dan meminta saran kepada ummul mukminin, Ummu Salamah ra.. Lalu Ummu Salamah pun menyampaikan pendapatnya dengan penuh hormat, “Wahai Nabiyullah Sebaiknya engkau keluar dan jangan bicara pada siapa pun, tetapi langsung sembelih saja hewan kurbanmu. Setelah itu panggillah orang yang biasa mencukur rambut dan bercukur.”

Rasulullah pun melakukannya, tidak lama kemudian para sahabat yang melihatnya, langsung bangkit untuk menyembelih kurban dan kemudian saling bercukur. Akhirnya para sahabat pun menyadari bahwa peristiwa ini merupakan wahyu dari Allah Swt..

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dijelaskan tentang keadaan Nabi saat baru menerima wahyu pertama di Gua Hira’. Nabi saw. p**ang ke Ibunda Khadijah dalam keadaan gemetar fisik dan hatinya.

Beliau masuk dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku….”

Ketika mulai tenang, beliau berkata, “Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah.”

Khadijah berkata untuk menenangkan dan menenteramkan suaminya, “Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahmi, menanggung beban, memuliakan tamu, dan membantu orang yang kesulitan.”

Kata-kata yang mengalir jujur dan bukan basa-basi. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, menenangkan jiwa yang sedang gemetar, serta memantapkan keyakinan akan pertolongan Allah.

Demikian luar biasa teladan yang diberikan Rasulullah saw. untuk kita sehingga pasutri bisa bergaul dengan makruf, berdiskusi tanpa bertengkar, dan juga saling menasihati.

Lalu seperti apa tuntunan Islam agar ketika saling menasihati, di antara pasutri makin menguatkan ikatan pernikahan dan memberikan keberkahan?

Tuntunan Islam
Membangun hubungan baik dengan sesama muslim merupakan hal yang baik. Terlebih dalam sebuah pernikahan, maka ia merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sebaik-baiknya. Kita telah memilih pasangan kita karena Allah Swt., kita telah mengikatkan janji dan tekad yang kuat dengan pasangan kita dalam akad nikah karena Allah p**a.

Oleh karenanya, sudah semestinya kita dan pasangan berusaha keras memelihara pernikahan kita dengan sebaik-baiknya sehingga tetap langgeng dan harmonis. Saling menasihati di antara pasutri merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga keharmonisan tersebut.

Lalu, bagaimana Islam menuntun kita?

1. Selalu introspeksi diri.

Terkadang kita tidak menyadari apa yang telah kita lakukan membuat pasangan kita tidak s**a atau bahkan mungkin telah menyakitinya. Atau kita sudah merasa memperhatikannya atau merasa sudah melaksanakan hak-hak suami kita dengan baik, tetapi ternyata belum terpenuhi sepenuhnya.

Lalu kemudian suami kita protes atau mengingatkan dan menasihati kita. Yang harus kita lakukan adalah introspeksi terhadap apa yang telah kita lakukan, kemudian meminta maaf dan memperbaiki diri. Semoga keadaan itu akan berubah menjadi lebih baik.

Allah Taala berfirman,

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS An-Nisa’: 79)

Imam Qatadah—semoga Allah merahmatinya—mengatakan, “Sebagai hukuman bagimu wahai anak Adam, disebabkan karena dosamu.” (Tafsir Ibnu Katsir)

2. Menerima pasangan apa adanya.

Kita ketahui bersama bahwa pernikahan adalah menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan dua keluarga yang berbeda. Karena itu, suami istri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta menerimanya dengan lapang dada tanpa ada penyesalan yang berkepanjangan. Manusia mana pun tidak ada yang sempurna, memiliki kekurangan, dan tidak luput dari kesalahan.

Persahabatan suami istri akan menjadikan keduanya tidak rela jika pasangannya terus menerus berada pada situasi yang buruk atau memaklumi kekurangannya, padahal bisa diperbaiki jika mau berusaha. Di sinilah pentingnya untuk saling memberi nasihat dan selalu memotivasi untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Hal ini merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah Swt.. Sebab tujuannya adalah dalam rangka menjaga ketaatan kepada Allah Swt. dan menjauhkan pasangannya dari melakukan hal yang buruk, terlebih lagi kemaksiatan kepada-Nya.

Nasihat dan motivasi yang disertai dengan komunikasi yang tepat waktu, lemah lembut, dan tidak menjustifikasi kekurangan akan membuat pasangan yang dinasihati merasakan kesejukan dan ketenteraman dalam menerima mas**an. Bahkan akan tersemangati untuk berubah menjadi lebih baik.

3. Selalu memahami keadaan pasangan.

Saling memahami akan menjadikan suami istri berempati terhadap pasangannya sehingga tidak mudah saling berburuk sangka, tetapi tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Sikap saling memahami akan memudahkan pasangan suami istri untuk berpikir jernih sebelum memberikan pendapat, nasihat, dan menilai pasangannya.

Akan tetapi, memahami keadaan pasangan bukan berarti kita membiarkan kekurangan atau kesalahan pasangan berlarut-larut atau dibiarkan begitu saja. Tentu saja kita harus terus memberikan dorongan kepada pasangan untuk mau belajar dan terus belajar. Terlebih kepada suami kita sebagai pemimpin keluarga. Dengan demikian akan muncul kepercayaan dirinya dalam memimpin keluarganya.

4. Menghadiri majelis ilmu bersama pasangan.

Dalam kondisi apa pun, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi kaum muslimin, baik mempelajari buku-buku keislaman, ataupun mengikuti dan menghadiri majelis ilmu. Terlebih lagi, pasangan suami istri tentu saja harus terus meningkatkan kualitas diri dengan memperkaya tsaqafah dan mendalami hukum-hukum Islam.

Memperbanyak membaca buku, menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis, atau berguru untuk mempelajari tsaqafah Islam hingga menghadiri majelis-majelis ilmu, adalah sebagian dari aktivitas yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pemahaman Islam pasutri.

Dengan demikian, pasutri akan makin mengenal hukum-hukum Allah, memahaminya, dan mengamalkannya. Di sinilah pentingnya membina diri dengan tsaqafah Islam sehingga bisa menjadikan halal/haram sebagai standar kehidupan.

Sebagai pemimpin keluarga, seorang suami atau ayah memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya sehingga seluruh anggota keluarga terjaga dari api neraka (QS At-Tahrim: 6). Demikian juga seorang istri dan ibu, ia berperan sebagai pendamping suami dan juga menjadi pengasuh dan pendidik utama bagi anak-anaknya.

Apalagi jika aktivitas ini dilakukan bersama keluarga, tentu akan makin menyenangkan. Selain kita bisa mendapatkan pemahaman lebih banyak, kita juga bisa berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya sehingga makin paham.

Dalam momen ini, pasutri akan memiliki pemahaman yang sama. Lebih dari itu, sebagai orang tua akan makin mudah untuk menguatkan pemahaman kepada anak-anak.

Bahkan mengikuti kajian rutin bersama bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga. Dengan demikian, ketika dalam implementasi terhadap apa yang dikaji ada perbedaan, akan lebih mudah dalam meluruskan atau menasihati.

5. Selalu mendoakan pasangan.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk selalu mendoakan pasangan kita di setiap kesempatan, terutama di waktu-waktu diijabahnya doa. Terlebih ketika ditimpa kesulitan dan musibah, kegundahan dan kegelisahan. Kita memohon agar Allah menghilangkan semua kesedihannya, kegundahannya, dan memberikan segala yang terbaik untuk pasangan hidup kita dan juga keluarga kita.

Kepada siapa lagi kita memohon, kecuali hanya kepada Allah semata. Suami kita sesungguhnya adalah milik Allah, Allah yang menggenggam hati suami kita. Dia p**a yang Maha Kuasa untuk mengubah dan memperbaiki mereka, tentu saja dengan kita tetap berusaha.

Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. Semoga Allah selalu menjadikan kita dan pasangan kita orang yang selalu taat kepada-Nya serta bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi suami kita dan memberikan kemudahan serta penyelesaian terbaik untuk setiap kesulitan yang dihadapi. Amin, Yaa Mujiib as-Saailiin.

Dengan doa yang tulus, agar Allah memberi keselamatan kepada keluarga kita dan kelapangan rezeki bagi keluarga kita, maka setidaknya hal ini akan memberikan ketenangan kepada kedua belah pihak. Kekuatan doa dari istri merupakan senjata terbesar dan terampuh dalam setiap langkah dan usaha suami.

Rasulullah saw. mengatakan,

“Sesungguhnya doa yang segera dikabulkan adalah doa seorang istri kepada suaminya yang tidak berada di tempat yang sama atau saling berjauhan.” (HR Tirmidzi)

Khatimah
Pasangan suami istri memang harus saling bekerja sama dalam menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga. Sikap saling menghargai, menyayangi, dan pengertian, saling memaafkan, serta mau belajar, harus dimiliki keduanya. Dan ini akan bisa terwujud, salah satunya dengan komunikasi yang makruf dan saling menasihati di antara keduanya.

Alangkah indahnya perkataan Abu Darda ra. pada istrinya, “Jika aku marah, maka buatlah aku rida padamu, dan jika engkau marah, aku pun akan membuat dirimu rida padaku. Kalau tidak demikian, tidaklah kita bersahabat.” Wallahualam bissawab. [MNews]
-------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

Address

Jalan Banda, Watulondo, Puuwatu
Kendari
93411

Telephone

+6282252964727

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dunia Parenting posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Dunia Parenting:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram