Dunia Parenting

Dunia Parenting Menyediakan berbagai produk keluarga dan artikel parenting

*Tips Mengajak Anak Puasa dan Bangun Shubuh*Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal, MSc   - Bagaimana tips mengajak anak puasa d...
18/02/2026

*Tips Mengajak Anak Puasa dan Bangun Shubuh*
Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

- Bagaimana tips mengajak anak puasa dan bangun shubuh?

Perintahkan kepada Anak Shalat dan Puasa
Dalam masalah shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari ‘Asyura (sepuluh Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya tidak berpuasa, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kami berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insya Allah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136).

Umar radhiyallahu ’anhu berkata kepada orang yang mabuk-mabukan di bulan Ramadan, “Celakalah anda!! padahal anak-anak kami berpuasa. Kemudian beliau memukulnya (sebagai hukuman).” (HR. Bukhari–secara mu’allaq yaitu tanpa sanad–bab “Puasa Anak-Anak”).

Metode Mengajak Anak Puasa

Menjelaskan keutamaan puasa kepada mereka, bahwa hal itu termasuk sebab masuk ke dalam surga. Di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan dimana hanya orang-orang puasa yang masuk ke dalamnya.
Membiasakan sebelumnya untuk berpuasa seperti puasa beberapa hati di bulan Syaban agar tidak kaget dengan puasa di bulan Ramadhan.
Puasa pada sebagian siang, dan menambahi waktunya sedikit demi sedikit (seperti sebagian kalangan menyebut dengan puasa bedug).
Mengakhirkan sahur sampai di akhir malam, hal itu membantu puasa mereka pada siang hari.
Menyemangati mereka berpuasa dengan memberi hadiah yang diberikan setiap hari atau setiap pekan.
Menyanjung mereka di depan keluarga sewaktu berbuka, ketika sahur. Hal itu dapat menaikkan semangat spiritualnya.
Mendorong semangat berlomba-lomba apabila dia mempunyai banyak anak tanpa harus mencela yang tertinggal.
Melalaikan rasa lapar dengan tidur atau dengan mainan mubah yang tidak memerlukan tenaga. Sebagaimana para shahabat yang mulia melakukan terhadap anak-anaknya. Di sana ada program anak-anak yang tepat. Film kartun di chanel islam yang terpercaya dapat menyibukkan mereka.
Diutamakan agar sang ayah mengajak anaknya–khusus setelah Ashar–ke masjid untuk ikut shalat, menghadiri pengajian, tetap di masjid untuk membaca Al-Qur’an dan dzikir kepada Allah Ta’ala.
Mengkhususkan berkunjung pada siang hari dan malam hari ke keluarga yang anak-anaknya berpuasa untuk memberi semangat kepada mereka terus melakukan puasa.
Memberi imbalan kepada mereka dengan tamasya yang mubah setelah berbuka puasa atau memasakkan makanan kes**aannya dan kue-kue, buah-buahan, dan jus.
Perlu diperhatikan kalau sekiranya anak-anak merasakan keletihan yang sangat, jangan dipaksa untuk menyempurnakan puasanya. Hal itu agar tidak menjadikan sebab dirinya benci beribadah atau menjadi sebab berbohong atau timbulnya penyakit. Karena pada dasarnya, dia belum termasuk mukallaf (terkena beban kewajiban). Hendaknya masalah ini diperhatikan, jangan terlalu keras dalam memerintahkannya berpuasa.

Mengajak Anak Bangun Shubuh

Ucapkan kata-kata yang lemah lembut
Usaplah punggung dan kepalanya
Biarkan ia tertidur sebentar, kembalilah bangunkan setelah lima menit kemudian (jika memang ada keluasan waktu).
Nyalakanlah lampu kamar.
Percikkanlah air ke wajahnya jika memang masih susah dibangunkan.
Berikanlah kata-kata motivasi dengan membacakan beberapa dalil pendek seperti “Nak bangunlah, shalat akan menjadi cahaya di alam kubur kelak”, atau “Bangun nak, tidak ada pilihan kelak kecuali surga dan neraka”.
Singkap selimutnya lalu goncangkan badan si anak dengan pelan-pelan.
Jika anak sudah mulai membuka mata, ajaklah si anak bercanda.
Ikutilah si anak jika sudah bangun supaya ia tidak tidur di lokasi yang lain.
Jika semua cara telah ditempuh namun belum berhasil maka kita sebagai orang tua boleh melakukan pemukulan jika si anak sudah menginjak usia sepuluh tahun.

Kunci Utama Sukses Mendidik Anak

1- Faktor utama adalah doa
Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 178)

Karena hidayah di tangan Allah, tentu kita harus banyak memohon pada Allah. Ada contoh-contoh doa yang bisa kita amalkan dan sudah dipraktikkan oleh para nabi di masa silam.

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash-Shaffaat: 100).

Doa Nabi Zakariya ‘alaihis salam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa].” (QS. Ali Imron: 38).

Doa ‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman),

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa].” (QS. Al-Furqan: 74)

Ada lagi satu doa yang akan mendidik anak rajin shalat yaitu,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“ROBBIJ’ALNII MUQIIMASH SHOLAATI WA MIN DZURRIYATII, ROBBANAA WA TAQOBBAL DU’AA’ [Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku].” (QS. Ibrahim: 40)

Yang jelas doa orang tua pada anaknya adalah doa yang mustajab. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Abu Daud, no. 1536; Ibnu Majah, no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

2- Orang tua harus memperbaiki diri dan menjadi saleh
Dalam surah Al-Kahfi disebutkan,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82). Lihatlah ini mendapatkan penjagaan dari Allah karena orang tuanya dulu adalah orang yang saleh.

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah, pen.), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:467)

3- Pendidikan agama sejak dini
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (7:321), ‘Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah,

أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

“Ajarilah adab dan agama pada mereka.”

Semoga bermanfaat.

Sumber : Rumaysho.Com
-----------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

18/02/2026

*Kapan Anak Mulai Dilatih Puasa?*
Oleh : Dra. (Psi) Zulia Ilmawati

- Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh ibu pengasuh rubrik konsultasi keluarga yang saya hormati Insya Allah sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan terkait dengan pengenalan dan pelatihan anak berpuasa sebetulnya kapan saat yang paling tepat memulai agar tidak mengganggu kesehatan dan tumbuh kembangnya. Bolehkah kita memberikan iming-iming berupa hadiah agar anak mau berpuasa jazakillah atas Jawabannya (ILM)

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. ibu ilm yang baik, puasa di bulan Ramadan adalah salah satu pilar dari rukun Islam. Maka melatih anak untuk berpuasa di bulan Mulia ini menjadi kewajiban bagi setiap orang tua muslim. Para sahabat muslimah di zaman Rasulullah SAW juga mengenalkan puasa kepada anak-anak. Mereka merancang kreativitas bagi putra-putrinya, khusus untuk menggembirakan hati mereka agar melupakan waktu yang terasa berjalan lambat selama berpuasa. Seperti tampak dalam sebuah kisah ketika Rasulullah mengutus seseorang pada hari raya Asyura ke perkampungan orang-orang Anshor dan bersabda : "Siapa yang pagi ini shaum Hendaklah ia shaum dan menyempurnakan puasanya. Maka kami pun menyempurnakan puasa hari itu dan kami mengajak anak-anak kami shaum. Mereka kami ajak ke masjid, lalu Kami beri mereka mainan dari benang sutra. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu sampai datang waktu berbuka (Hadits Riwayat Bukhari Muslim)

Ibu ILM yang baik, Banyak orang tua yang khawatir jika anak-anak mulai diajarkan puasa di usia dini. Alasan mereka biasanya karena masa anak-anak sedang dalam pertumbuhan. Dengan puasa akan mengganggu kesehatannya. Kekhawatiran ini semestinya tidak perlu terjadi, karena sifatnya hanya latihan saja dilakukan sesuai dengan kemauan dan kemampuan anak. Lalu kapan anak mulai bisa dilatih, yang pasti kalau mereka sudah mengerti apa itu puasa. Anak usia 4 sampai 6 tahun biasanya sudah mulai bisa mencoba. Ikut dibangunkan saat makan sahur misalnya, dan selama sekolah tidak diperbolehkan membawa bekal.

Ibu ILM yang baik, dalam melatih berpuasa pada anak-anak tentunya tetap dijalankan fleksibel tidak memaksa anak. Misalnya mengizinkan anak berbuka sampai pukul 10.00 lalu pukul 12.00 dan seterusnya sampai akhirnya penuh Sampai Waktu berbuka. Kegiatan ini harus kita pahami sebagai kegiatan pelatihan, pengondisian dan penyiapan agar anak akrab dengan aktivitas ibadah. Ini adalah proses pendidikan Jadi bukan hasil yang kita harapkan. Oleh karena itu kebijaksanaan yang diterapkan harus tetap fleksibel bergantung pada keadaan anak, umur, kondisi fisik, dan mentalnya. Anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang harus diperhatikan kebutuhan gizi dan tidurnya selama pelatihan berlangsung.

Ibu ILM yang baik, hadiah dinilai punya pengaruh positif bagi pendidikan anak antara lain akan menumbuhkan motivasi untuk berusaha mencapai prestasi. Hadiah akan membuat anak merasa dihargai. Tetapi ada yang perlu diperhatikan saat kita ingin memberikan hadiah pada anak. Hadiah semestinya diberikan jika anak berhasil melakukan sesuatu, sesuai dengan standar prestasi atau pencapaian tertentu berdasarkan kemampuan dan keadaan anak. Sebaiknya standar prestasi itu dibuat Berdasarkan kesepakatan yang menantang bukan yang menekan agar anak tidak stres, nyaman dan senang melakukannya. Hadiah juga bisa diberikan saat kita punya harapan tertentu terhadap perilaku anak. Seperti saat anak dapat menjalankan puasa sesuai dengan yang kita sepakati.

Ibu ILM yang baik, hadiah di samping untuk menumbuhkan motivasi, juga merupakan ekspresi kebahagiaan dan bentuk kasih sayang yang diberikan orang tua karena anak berhasil melakukan sesuatu. Rasulullah SAW bersabda : "Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai (Hadis riwayat Bukhari)

Agar anak semangat dalam berlatih berpuasa, sebaiknya didekatkan dengan anak-anak lainnya yang tekun berlatih, agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya. Jauhkan dari anak-anak yang malas berlatih berpuasa. Perhatian yang intensif dan cara-cara yang bijak dalam mempersiapkan dan menjalankan puasa selama Ramadan insya Allah akan dapat menggugah kesadaran anak anak untuk berpuasa dan beribadah lain dengan gembira. Semoga kita semua akan dapat menyiapkan diri sebaik baiknya dan diberikan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan kembali.Aamiin[Sumber : MU]
----------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

17/02/2026

*Khutbah Rasul Menjelang Ramadhan Tiba*

-- “WAHAI manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat.

Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba- Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”)

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu.

Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

(Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?”)

Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.” Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

(Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.) Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.“

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”
“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah)*

Sumber : Hidayatullah
--------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

16/02/2026

*ABI BOHONG*
Oleh: M- Taufik NT

-- “Abi bohong”, kata Daud (5 tahun) ketika saya tiba di rumah. ‘Abi’ dalam bahasa Arab artinya ‘bapakku’, mirip dengan panggilan ‘Abah’ yang dalam bahasa Arab bermakna ‘bapaknya’.

Apa penyebabnya? Tidak lain adalah karena pamannya yang menjemputnya pulang sekolah, tidak jadi saya jemput sendiri. Alasan bahwa jadwal kuliah molor sehingga tidak sempat lagi untuk menjemput tidak bisa dicerna oleh pikirannya.

Walaupun kenyataannya tidak berbohong, melainkan ada udzur yang menyebabkan tidak sempat lagi menjemput, tetap saja orang tua perlu hati-hati ketika ‘menjanjikan’ sesuatu kepada anak kecil. Jika kurang hati-hati berbicara, akan ter’framing’ dalam jiwa anak bahwa berbohong adalah hal yang lumrah karena orang tuanya mencontohkan yang demikian. Ini terkait hal yang belum bisa dicerna oleh nalar anak bahwa itu bukan kebohongan.

Adapun jika memang kenyataannya adalah berbohong, maka orang tua wajib menghindarinya, kita anggap sepele atau tidak, berbohong adalah tetap haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan. (HR. Ahmad).

Termasuk yang beliau cela adalah berbohong dalam rangka bercanda, beliau bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Kecelakaan bagi orang yang telah bercerita dengan suatu omongan untuk membuat suatu kaum jadi tertawa, lalu ia dusta. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya” (HR. At-Tirmidzi).

Salah satu hikmah dari larangan berbohong mulai dari hal-hal kecil adalah agar tidak dicap oleh Allah sebagai pembohong. Hal ini karena suatu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru dalam rangka menutupi kebohongan lama, lambat laun akan hilanglah rasa malu untuk berbohong, kalau sudah tidak malu berbohong, maka layaklah dirinya dicap sebagai pembohong. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا

“…dan senantiasa seorang hamba berdusta dan memilih yang dusta sehingga akhirnya dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR.al Bukhari dan Muslim).

Membohongi anak sama artinya dengan mencelakakan anak. Jika anak sudah terbiasa dibohongi, lalu kebohongan itu ‘menular dan merasuk’ ke dalam diri anak, sekalipun orang tua tersebut berhasil mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tertinggi, menjadikan anaknya dipercaya memimpin manusia, namun ‘penyakit’ bohongnya tidak berhasil ‘diobati’, sama saja orang tua tersebut telah mengumpankan anaknya ke dalam neraka. Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati ketika sedang menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim)

Itu terkait efek di akhirat. Adapun di dunia, kebohongan akan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Bohong dalam melaporkan keuangan melahirkan korupsi. Bohong dalam melaporkan data pertanian berujung kebingungan: produksi surplus mengapa harus tetap impor?, lalu muncul ‘kebohongan’ baru untuk menjelaskan kebohongan lama.

Bohongnya panitia dalam ujian sekolah akan menularkan kebohongan ke dalam diri siswa. Bohong kepada dokter, masih sakit sudah bilang sehat, akan menjadikan sakitnya tidak sembuh-sembuh. Bohong kepada guru, belum faham sudah bilang faham, akan menjadikannya mengecap pahitnya kebodohan. Bohongnya “ulama” kepada umat akan menyebabkan umat tertipu hingga masuk ‘surga bohongan’. Jika hal-hal ini dibiarkan rusaklah negara. Allâhu A’lam.

Sumber: https://mtaufiknt.wordpress.com/2019/03/14/abi-bohong/
-------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

14/02/2026

*Lelaki Tidak Bercerita Dan Toxic Masculinity*
Oleh : Ustaz Iwan Januar

- Ada anekdot soal lelaki tidak bercerita; lelaki itu tidak bercerita, tapi fikirannya itu berubah menjadi rambut uban, lalu uban itu bercahaya di syurga sana.

Banyak riset menunjukkan bahwa hal itu adalah stereotip, alias prasangka yang didasarkan pada penilaian atau anggapan berdasarkan karakteristik terhadap lelaki. Faktanya lelaki dan perempuan sama-sama s**a bercerita.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of Arizona pada tahun 2007 mendapatkan bukti bahwa pria berbicara sama banyaknya dengan perempuan – rata-rata 16 ribu kata perhari. Dengan menggunakan rekaman suara digital selama delapan tahun, para peneliti tersebut mempelajari berapa kata yang diucapkan ratusan para mahasiswa Amerika dan Mexico selama beberapa hari. Para mahasiswa itu membawa perekam suara-aktif rata-rata sepanjang 17 jam perhari.

Studi itu menunjukkan kaum perempuan berbicara 16,215 kata perhari, sedangkan para lelaki sejumlah 15,669. Meski kaum perempuan berbicara lebih banyak, tapi secara statistik perbedaan itu tidak signifikan.

Bukti lain, para lelaki s**a bercerita adalah mereka bisa kuat ngobrol berjam-jam bila sedang berkumpul dengan circle-nya sesama lelaki. Mulai dari soal hobi, olahraga, urusan politik dan keluarga. Jadi, pernyataan lelaki tidak bercerita itu adalah bias dan stereotip.

Lalu kenapa ada lelaki yang faktanya jarang bicara, khususnya pada ibu atau pasangannya?

Pertama, banyak lelaki yang sejak kecil dididik dengan keliru atau termakan opini salah ini; lelaki kuat itu bisa selesaikan problemnya sendiri, bicarakan masalah pribadi pada orang lain terutama perempuan adalah kelemahan, jangan bebani ibu kamu atau keluarga kamu, dsb.

Bias dan stereotip ini juga ’ditelan’ oleh banyak perempuan. Mereka melabeli lelaki yang banyak bicara ’seperti mulut perempuan’. Atau memandang rendah dan lemah lelaki yang curhat persoalan yang sedang mereka hadapi. Banyak perempuan – termasuk ibu dan istri – yang menilai anak lelaki atau suami yang bercerita persoalan hidup sebagai pria yang banyak mengeluh. ”Jangan banyak ngeluh, kamu lelaki harus kuat,” biasanya begitu kalimat yang keluar dari mulut sebagian perempuan.

Inilah konstruksi sosial yang sebenarnya berbahaya. Budaya ini menjadikan stigma bila lelaki menangis, curhat atau minta bantuan. Akhirnya banyak lelaki tanpa disadari mengidap toxic masculinity. Dipaksa untuk selalu kuat dan tegar menghadapi berbagai persoalan padahal sebenarnya ia membutuhkan bantuan.

Kedua, sejumlah lelaki selektif dalam memilih topik pembicaraan terutama pada kaum perempuan, khususnya ibu dan istri mereka. Ini bisa berkorelasi karena perbedaan minat antara pria dan wanita. Misal, umumnya lelaki hobi dengan otomotif dan sepakbola, sementara kaum perempuan minor dalam bidang itu, maka topik-topik seperti itu jarang dibahas dengan kaum perempuan. Sebaliknya juga sama, karena jarang lelaki yang minat dengan topik memasak, pengasuhan anak, atau busana, maka kaum perempuan juga jarang membahasnya bersama kaum lelaki.

Ketiga, sebab lain yang membuat lelaki jarang berbicara dengan kaum perempuan adalah point of view yang beda terhadap suatu masalah. Lelaki yang beranggapan bahwa persoalan yang mereka hadapi seperti pekerjaan, konflik di kantor, mobil mogok, harus mereka selesaikan sendiri. Mereka tidak mau menambah beban pada keluarga mereka, baik ibu atau terhadap istri. Sehingga muncul pandangan dari perempuan kalau lelaki tidak bercerita.

Toxic Masculinity

Lelaki memang kuat, salah satunya karena mereka harus menjadi qowwam untuk keluarga. Laki memang harus ditempa untuk kuat dan bisa berusaha mencari solving problem. Mereka juga harus belajar untuk bisa menahan rasa sakit agar tidak diketahui orang-orang yang disayanginya, supaya tidak menimbulkan kecemasan pada mereka. Ini adalah bagian dari sifat sabar dan tegar yang diajarkan Islam.

Tapi bukan berarti seorang muslim – khususnya lelaki – haram mencari bantuan atau bercerita pada orang lain. Juga bukan berarti lemah ketika seorang pria curhat persoalannya pada ibunya atau bahkan pada istrinya. Tabiat manusia sebagai mahluk memang lemah dan membutuhkan bantuan pihak lain. Hal yang dilarang adalah berkeluh kesah terutama di hadapan sesama manusia.

Sikap lelaki yang s**a menyimpan sendiri persoalan adalah bagian dari toxic masculinity. Yaitu kondisi dimana lelaki dipaksa oleh lingkungan untuk tetap tegar dan tidak minta bantuan pada orang lain karena statusnya sebagai lelaki.

Sebenarnya toxic masculinity adalah stigma dan konstruksi sosial yang mengharuskan laki-laki tampil superior, tangguh, dan tidak bergantung pada orang lain sehingga membuat mereka enggan mencari bantuan, baik dari keluarga, teman, maupun profesional. Celakanya saat kontrol dirinya rapuh, laki-laki rentan mengalihkan tekanan tersebut ke tindakan negatif seperti penyalahgunaan narkotika atau bahkan bunuh diri.

Kenyataan yang menyedihkan bahwa jumlah lelaki yang melakukan bunuh diri berlipat-lipat dibandingkan kaum perempuan. Pada 2016, menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan ada 793.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Sebagian besar adalah laki-laki. Data WHO juga menunjukkan bahwa hampir 40% negara memiliki lebih dari 15 kematian akibat bunuh diri per 100.000 pria; hanya 1,5% yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi untuk perempuan.

Berceritalah Dan Saling Menguatkan

Maka meminta nasihat bukanlah tanda kelemahan. Nabi malah menyebutnya sebagai hak seorang muslim pada saudaranya. Sabda beliau:

حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ:… وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ…

Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam…apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya… (HR. Muslim)

Apalagi dalam kehidupan rumah tangga relasi suami-istri adalah persahabatan, bukan relasi kuasa. Sebagai pemilik qowwam suami juga punya hak mendapatkan support system dari istri bahkan dari anak-anak. Keduanya punya kewajiban saling memotivasi, memahami, memaklumi dan saling menguatkan. Allah Swt berfirman:

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. (TQS. At-Taubah [9]: 71)

Istri bukan saja punya hak mendapatkan nafkah materi yang ma’ruf dari suami. Juga bukan sekedar punya hak dilindungi dan disayangi oleh kepala rumah tangga. Tapi istri punya kewajiban menjadikan dirinya bagian dari support system untuk mental suami. Ketika sang pencari nafkah mengalami krisis finansial, maka istri menguatkan dan menenangkan. Saat kepala keluarga rapuh, maka istri menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman dan pemulihan kesehatan mental. Itulah rumah tangga yang dirahmati Allah Swt. Nabi Saw bersabda:

يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي, فَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا دَلَّهُمْ عَلَى بَابِ الرِّفْقِ

Wahai Aisyah lemah lembutlah. Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga Allah akan menunjuki mereka menuju pintu kelembutan. (HR Ahmad)

Sumber : iwanjanuar.com
---------------





___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM

Address

Jalan Banda, Watulondo, Puuwatu
Kendari
93411

Telephone

+6282252964727

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dunia Parenting posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Dunia Parenting:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram