09/12/2025
🎙️ *Kisah Ruqyah: Otak Hyena, Rasa Malu, dan Keseriusan dalam Ruqyah**
**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.**
Sebagai lanjutan dari pertanyaan sebagian saudara-saudara kita para peruqyah: terkadang seorang peruqyah merasa sungkan dalam beberapa situasi, terutama jika pasiennya seorang perempuan, sehingga ia malu untuk menyampaikan hasil atau kondisi yang sebenarnya. Ada p**a yang berkata, “Ceritakan kepada kami sebuah kisah wahai Syaikh.” Maka saya katakan:
Dulu pernah diminta agar saya membacakan ruqyah kepada sebuah keluarga. Mereka bukan orang kaya raya, namun termasuk kalangan terhormat. Saya pun pergi ke rumah mereka untuk membaca ruqyah. Mereka berkata, “Lihat wahai Syaikh, sudah banyak dukun datang kepada kami, juga para ustaz seperti kalian, dan berbagai macam orang. Setiap orang berbicara sesuatu, tetapi kami tidak mengerti apa pun dan tidak paham kondisi kami.”
Saya pun berkata, “Apakah saya boleh membaca dengan leluasa sesuai yang saya inginkan?” Mereka menjawab, “Silakan lakukan apa yang Anda kehendaki.” Saya berkata, “Baik, insya Allah.”
Maka saya mulai membaca ruqyah dan berdoa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan segala doa; baik terkait berbagai jenis sihir, gangguan jin ‘āsyiq, dan doa-doa lainnya.
Tiba-tiba jin yang ada dalam diri wanita itu hadir (manifes) dengan keras. Lalu mereka berkata, “Perlahan saja bacaannya wahai Syaikh.” Saya menjawab, “Tidak, saya tidak akan memperlambat bacaan, karena mereka sekarang ingin melihat hasil yang jelas.”
Maka saya membaca dengan seluruh kemampuan yang Allah berikan. Kekuatan tentu datang dari Allah, bukan dari diri kami. Saya membaca sekuat yang saya mampu dan saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Hingga wanita itu berdiri dan bergerak dengan sangat keras. Keluarganya pun kaget dan memandanginya.
Saya berkata, “Saya tidak akan berhenti sampai saya merasa telah mencapai titik yang membuat kalian tenang dan memahami apa yang terjadi.”
Ketika ia sadar kembali, ia berkata, “Selama hidupku, belum pernah terjadi seperti apa yang terjadi hari ini.” Saya berkata, “Bukankah sejak awal saya bertanya apakah saya boleh leluasa? Dan Anda mengatakan ya. Padahal saya khawatir Anda nanti mengadu atau menuduh saya melakukan sesuatu yang buruk—na‘ūdzu billāh.”
Ia berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Sementara para peruqyah lain—saya telah menemui banyak dari mereka—semua merasa takut dan malu. Ketika ditanya, mereka hanya mengatakan ‘Insya Allah semua baik, insya Allah semua baik.’ Sementara saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya.”
Lalu saya berkata, “Sihir itu memang ada, dan gangguan jin pun jelas. Saya tidak menafikan bahwa para tukang sihir yang pernah kalian kunjungi sebelumnya atau yang pernah berinteraksi dengan kalian mungkin telah melakukan sesuatu kepada Anda. Karena ketika saya berdoa, tampak sekali pengaruhnya.”
Ia berkata, “Wahai Syaikh, saya memiliki sesuatu yang saya bawa dari Maroko.”
Saya bertanya, “Apakah itu sihir?”
Ia berkata, “Semacam itu… yaitu otak hyena (mukh ad-da‘b).”
Saya bertanya, “Di mana?” Ia menjawab, “Di freezer, dalam lemari es.”
Saya berkata, “Ambilkan.”
Ia pun membawa sebuah botol kecil berisi sesuatu. Ia berkata, “Saya membelinya dengan harga sekitar sepuluh ribu riyal—ini sudah lama—agar suami saya menjadi patuh seperti cincin di jari.”
Saya berkata, “Masalah sihir adalah satu perkara, tetapi hukuman dari Allah terhadap wanita yang melakukan hal itu, atau suami yang melakukan kepada istrinya, atau siapa pun yang terlibat, hasilnya akan berupa masalah-masalah seperti ini dan lainnya.”
Ia bertanya, “Lalu apa solusinya wahai Syaikh?”
Saya berkata, “Pertama, bertaubatlah dari perbuatan ini. Dan putuskan seluruh hubungan dengan para tukang sihir dalam bentuk apa pun.”
Ia berkata, “Insya Allah, kami sebenarnya sudah memutusnya.”
Saya berkata, “Harus diputus sepenuhnya. Jangan sampai suatu saat kalian mendapat kesulitan lalu berkata, ‘Apa yang harus kami lakukan?’ lalu kembali mendatangi mereka.”
Ia berkata, “Insya Allah.”
Kemudian saya berkata, “Perbanyak sedekah, doa, dan komitmenlah pada program ruqyah tertentu.”
Mereka pun berterima kasih dan berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Telah datang kepada kami Fulan dan Fulan, sebagian dari mereka orang-orang baik, tetapi saya tahu bahwa begitu melihat perubahan suara pasien, mereka langsung berkata, ‘Harus pelan-pelan, jangan keras, nanti terjadi masalah.’ Padahal ini adalah proses pengobatan. Dan metode seperti itu saya anggap keliru.”
Saya memohon kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā agar menyembuhkan setiap orang yang sakit.
**Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.**
▪┈┈◈❂◉❖ ❁ ❖◉❂◈┈┈▪
🎙️Syaikh Khalid bin Ibrahim Al Hibsyi Hafidzahullah
⌨️ Rudi Abu Huna
Republish: Ruqyah QHI Klaten
WA 081578739566