Ruqyah QHI Klaten

Ruqyah QHI Klaten Media informasi Ruqyah Syar'iyyah, Konsultasi kesehatan, Pengobatan Tradisional Holistik. Pengobatan penyakit Medis&Non Medis. Qur'anic Healing International.

*Kultum Ramadhan:Menjemput Malam Seribu Bulan*Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِ...
09/03/2026

*Kultum Ramadhan:Menjemput Malam Seribu Bulan*

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
Segala puji bagi Allah yang dengan limpahan kasih sayang-Nya masih mengizinkan kita menghirup udara kehidupan dan memberikan kesempatan hingga sampai di penghujung Ramadhan ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda teladan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah, ibarat sebuah perlombaan lari, sepuluh hari terakhir adalah lintasan finish. Di sinilah letak penentuan apakah kita akan p**ang sebagai pemenang atau sekadar pelari yang kelelahan tanpa hasil. Di lintasan inilah, Allah menyembunyikan satu hadiah raksasa bernama Lailatul Qadar.
Rasulullah SAW bersabda mengenai besarnya kemuliaan malam ini dalam hadis sahih:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim).

Memasuki sepuluh hari terakhir, Rasulullah SAW tidak justru mengendurkan ibadahnya, beliau justru "tancap gas". Aisyah RA menceritakan kesungguhan beliau:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
"Rasulullah SAW biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Strategi terbaik adalah menghidupkan seluruh malam tersebut agar tidak ada satu detik pun kemuliaan yang terlewat. Jangan hanya saleh sendirian, ajak keluarga untuk menjemput keberkahan ini. Lakukanlah I’tikaf sebagai cara seorang hamba "menyandera" dirinya di rumah Allah, memutuskan koneksi sejenak dari dunia, agar sinyal ruhaninya hanya terhubung kepada Sang Pencipta.

Jangan hanya mengejar jumlah rakaat, tapi kejarlah rasa. Basahi lidah dengan doa yang paling utama:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku." (HR. Tirmidzi).

Jamaah sekalian, sadarilah mengapa malam ini disebut dengan Al-Qadar. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu makna Al-Qadr adalah "Sempit". Bumi menjadi sempit karena tidak lagi mampu menampung tamu-tamu langit yang turun secara bergelombang. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى
"Sesungguhnya malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak daripada jumlah batu kerikil." (HR. Ahmad).

Bumi menjadi sempit karena setiap jengkal tanah dihuni oleh makhluk cahaya yang dipimpin Malaikat Jibril untuk mengaminkan doa kita, memohonkan ampunan bagi kita, dan menebarkan kedamaian hingga fajar menyingsing. Sungguh sebuah kerugian besar jika di saat bumi sedang "sesak" oleh rahmat malaikat, kita justru terlelap atau sibuk dengan urusan dunia yang fana.

Maka, sebagai bekal kita dalam beberapa malam ke depan, mari kita perhatikan beberapa persiapan praktis berikut ini:

*1.Luruskan Niat:* Mulailah dengan taubat nasuha agar beban dosa tidak menghalangi kekhusyukan.

*2.Jaga Fisik:* Hindari makan berlebihan saat berbuka dan usahakan istirahat siang sejenak (qailulah) untuk menabung tenaga di malam hari.

*3.Manajemen Ibadah:* Tentukan target tilawah, siapkan daftar doa hajat pribadi, dan lakukan sedekah secara konsisten setiap malam meski dalam jumlah kecil.

*4.Adab di Masjid:* Minimalisir penggunaan gadget dan hindari obrolan sia-sia agar fokus ruhani tetap terjaga.

Lailatul Qadar bukan hadiah bagi mereka yang pintar menghitung tanggal, tapi hadiah bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam pencarian. Mari kita memohon kepada Sang Pemilik Malam:
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَارْزُقْنَا قِيَامَهَا إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
"Ya Allah, sampaikanlah kami pada malam Lailatul Qadar, dan berilah kami rezeki untuk dapat menghidupkan malamnya dengan iman dan mengharap pahala hanya dari-Mu."
اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ
"Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari mendapatkan pahalanya dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diterima amalnya."

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

*_Dedi Saputra, CAHTM-Ruqyah QHI Klaten_*

*Memahami Hikmah di Balik Hadits Pembelengguan Setan: Mengapa Gangguan Jin Masih Terjadi di Bulan Ramadhan?*✍️Syaikh Abu...
07/03/2026

*Memahami Hikmah di Balik Hadits Pembelengguan Setan: Mengapa Gangguan Jin Masih Terjadi di Bulan Ramadhan?*

✍️Syaikh Abul Barra Usamah bin Yasin Al Ma'ani

Mengenai Topik: *'Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan'*

Mengenai topik Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan yang telah disinggung oleh al-Ustadz Al Fadhil Nuruddin al-Indunisi, saya ingin menjelaskan makna umum yang telah dipaparkan oleh para ulama seputar permasalahan ini. Saya telah menyebutkannya dalam kitab saya yang berjudul:
نحو موسوعة شرعية في علم الرقى – تأصيل وتقعيد في ضوء الكتاب والسنة والأثر
(Menuju Ensiklopedia Syar'i tentang Ruqyah - Landasan dan Kaidah dalam Cahaya Al-Qur'an , As-Sunnah, dan Atsar) pada Jilid Ke 2 Ensiklopedi Ruqyah (Bab Kesepuluh – dengan judul "Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadhan") sebagai berikut:

*Pendahuluan:*

Bahwa pemahaman umum tentang dibelenggunya (diikatnya) setan pada bulan Ramadhan menurut kebanyakan manusia adalah pemahaman yang salah. Pemahaman ini dibangun di atas tanda-tanda dan tebakan-tebakan yang tersebar di kalangan orang awam tanpa ada sandaran, dalil, atau qarinah (korelasi) yang tepat. Hal itu terjadi akibat dari kebodohan terhadap syariat dan hukum-hukumnya. Para ulama berbeda pendapat tentang pemahaman makna ini (dibelenggu). Sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa At-Tashfiid (pembelengguan) di bulan yang mulia ini berlaku untuk semua setan, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa hal itu hanya terkait dengan pembesar-pembesar setan saja.

Dari sini, sebagian orang yang tertimpa musibah kesurupan bertanya-tanya, bagaimana mungkin gangguan masih terjadi di bulan yang penuh berkah ini, sesuai dengan pemahaman dan pengetahuan mereka? Banyak pembicaraan dan pertanyaan di kalangan masyarakat umum tentang pemahaman ini. Karena pentingnya penjelasan masalah ini dari sisi syariat, menelusuri pendapat para ulama di dalamnya, serta menerangkan pemahaman-pemahaman yang salah terkait dengannya, maka wajib untuk menampilkan dan merincinya seputar belenggu ini dalam kerangka pemahaman syar'i. Saya memulai dengan memaparkan hadits-hadits shahih tentangnya:

Hadis Pertama:

Dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
(أتاكم شهر رمضان، شهر مبارك، فرض الله عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه مردة الشياطين، وفيه ليلة هي خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم)
"(Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan puasa atas kalian. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan yang durhaka (mariidah) dibelenggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalang dari kebaikan)." (Al-Albani berkata: Hadis sahih. Lihat Shahih al-Jami' no. 55, Shahih an-Nasa'i no. 1992)

Hadis Kedua:

Dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
(إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين)
"(Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu)." (Al-Albani berkata: Hadis sahih. Lihat Shahih al-Jami' no. 470, Shahih an-Nasa'i no. 1984 - redaksinya semakna)

Hadis Ketiga:

Dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
(إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب جهنـم، وسلسلت الشياطين)
"(Apabila bulan Ramadhan masuk, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahanam ditutup, dan setan-setan dibelenggu dengan rantai)." (Muttafaq 'alaih)

Hadis Keempat:

Dari Anas -radhiallahu 'anhu- ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
(هذا شهر رمضان قد جاءكم تفتح به أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب النار، وتسلسل فيه الشياطين)
"(Ini adalah bulan Ramadhan, sungguh ia telah datang kepada kalian. Dengannya pintu-pintu surga dibuka, dengannya pintu-pintu neraka ditutup, dan padanya setan-setan dibelenggu dengan rantai)." (Al-Albani berkata: Hadis sahih. Lihat Shahih al-Jami' no. 6995, Shahih an-Nasa'i no. 1989)

Berikut ini paparan beberapa pendapat ulama dalam menafsirkan nash-nash tersebut:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– berkata: "Dibelenggu (diikat) itu tidak terjadi kecuali di bulan Ramadhan, yang mana hati-hati kaum muslimin bangkit semangat untuk melakukan kebaikan dan amal-amal shalih. Dengan sebab itu, dibukalah pintu-pintu surga, ditolaklah kejahatan-kejahatan yang dengannya (kejahatan) itu dibuka p**a pintu-pintu neraka, dan diikatlah setan-setan. Maka mereka (setan) tidak bisa melakukan sesuatu apa yang bisa mereka lakukan saat tidak berpuasa. Karena sesungguhnya yang dibelenggu artinya dia diikat. Hal itu disebabkan Bani Adam melakukan (maksiat) didorong oleh syahwat. Jika mereka menahan diri dari syahwat, maka setan-setan itu terbelenggu." (At-Tafsir al-Kabir, 3/132)

· Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari berkata: "(وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ) 'dan setan-setan dibelenggu'. Imam 'Iyadh berkata, mengandung beberapa kemungkinan:

1. Bahwasanya itu menunjukkan zhahirnya dan hakikatnya. Sesungguhnya hal itu semuanya menjadi tanda bagi para malaikat akan masuknya bulan dan mengagungkan penghormatan kepadanya, serta untuk menolak setan mengganggu orang-orang beriman.
2. Menjadi tanda akan banyaknya pahala dan ampunan, dan setan melemah gangguannya maka mereka menjadi seperti terbelenggu. Kemungkinan kedua ini dikuatkan oleh sabda Nabi dalam riwayat Yunus dari Ibnu Syihab dalam riwayat Imam Muslim (فُتِحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ) 'dibuka pintu-pintu rahmat'. Dan mengandung arti, yaitu dibukanya pintu-pintu surga merupakan gambaran tentang apa yang Allah buka untuk hamba-hamba-Nya dari ketaatan-ketaatan yang dapat menyebabkan masuk ke surga. Dan ditutupnya pintu-pintu neraka merupakan gambaran dari memalingkan keinginan-keinginan dari berbuat maksiat yang menyebabkan pelakunya bisa masuk ke neraka. Dan dibelenggunya setan merupakan gambaran dari ketidakmampuan mereka untuk mengganggu dan menghiasi syahwat."

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di Fathul Bari: Al-Qurthubi berkata:

"Jika dikatakan: Bagaimana kita melihat keburukan-keburukan dan kemaksiatan-kemaksiatan yang banyak terjadi di bulan Ramadhan? Seandainya setan diikat, niscaya tidak akan terjadi hal itu? Jawabannya: Sesungguhnya ia (kemaksiatan) berkurang bagi orang-orang yang berpuasa (shoimin) yang menjaga syarat-syarat dan memperhatikan adab-adabnya."

· "Atau yang dibelenggu hanya sebagian setan, yaitu pembesar-pembesarnya, tidak semuanya sebagaimana terdapat dalam riwayat-riwayat yang telah lewat.

Atau maksudnya adalah kejahatan berkurang di dalamnya, dan itu terasa bahwa kejadiannya lebih sedikit dibandingkan di bulan lainnya.

Jadi tidak perlu membelenggu semuanya sehingga tidak terjadi kejahatan dan kemaksiatan sama sekali, karena ada sebab-sebab lain selain setan seperti hawa nafsu yang jelek, kebiasaan yang jelek, dan setan-setan manusia."¹

Al-Munawi berkata: "(صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ) 'Dibelenggu setan-setan', yaitu diikat dengan belenggu supaya tidak mengganggu orang yang berpuasa. Dan tandanya adalah banyak orang yang dulunya bergelimang dosa dan kesombongan lalu bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Adapun jika ada yang nampak berbeda dengan mereka pada sebagian orang, maka ia masih terpengaruh oleh sebagian pembesar setan yang masih bebas, yang merasuk pada hawa nafsu yang jelek dan menyebar ke kepala mereka. Ada yang berkata: Pengkhususan dari umumnya sabda Nabi (سُلْسِلَتْ) 'dibelenggu dengan rantai' adalah untuk para pembesar golongan (setan) di tempat mereka menunggu dan yang memenuhi permintaan ketika diminta, maka terjadilah maksiat-maksiat dan penyesatan.

(Perhatian): Diketahui dari apa yang telah disampaikan bahwa pembelengguan setan itu majaz (metafora) dari penolakan ajakan mereka dan menguatnya jiwa untuk melawan was-was mereka serta semua gangguan yang menyesatkan. Yang demikian itu ialah jika datang Ramadhan dan manusia sibuk dengan puasa, melemahlah kekuatan hewaniyah-nya yang menjadi sumber syahwat dan amarah, yang keduanya mengajak ke berbagai macam kefasikan dan seni-seni kemaksiatan. Ditutup (dijernihkan) pikiran-pikiran mereka, sibuk membersihkan dosa-dosa sehingga jiwanya seperti kaca cermin yang bersih. Bangkit kekuatan akalnya yang mengajak untuk taat dan mencegah dari kemaksiatan. Menjadikan mereka bersama-sama melakukan kewajiban ibadah, tegak lurus, menolak godaan-godaan kemaksiatan, dan menjauhi maksiat. Maka dibukakanlah pintu-pintu surga dan ditutup bagi selain mereka, dan ditutup pintu-pintu neraka. Tidak ada lagi bagi setan kesempatan menguasai mereka. Jika setan mendekati mereka untuk mengganggu, seakan setan itu terbakar oleh cahaya taat dan iman." (Faidhul Qadir, 1/340).

Dr. Syaikh Ibrahim Al-Buraikan –rahimahullah– berkomentar: "Pernyataan ini lebih menyerupai takwilnya kaum Bathiniyyah, Sufi, dan orang-orang yang menempuh jalan mereka dari kalangan filosof dan Mu'tazilah."

· Asy-Syibli berkata: Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal berkata: "Aku bertanya kepada ayahku tentang hadits (إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ) 'Apabila Ramadhan tiba, setan-setan dibelenggu'. Beliau menjawab: 'Ya'. Aku berkata: 'Orang terganggu di bulan Ramadhan dan kesurupan?' Beliau berkata: 'Begitulah riwayat haditsnya'." (Ahkamul Jaan, hlm. 158)

Muhammad bin Muflih berkata: "Setan-setan diikat dan dibelenggu di bulan Ramadhan sesuai zhahir hadits, atau maksudnya pembesar-pembesarnya sebagaimana dalam lafazh ini. Hal ini yang disampaikan oleh Abu Hatim bin Hibban dan lainnya dari kalangan ulama. Maka dalam hal ini tidak menghilangkan kejahatan, akan tetapi memperkecil kejahatan karena kelemahannya." Beliau berkata: "Sungguh Imam Ahmad memahaminya seperti itu, makna zhahirnya. Abdullah bin Imam Ahmad berkata: 'Aku pernah berkata kepada ayahku: Terkadang kita melihat orang gila kesurupan di bulan Ramadhan!' Beliau berkata: 'Demikianlah zhahir hadits dan tidak ada penjelasan lain'." Ia berkata: "Bahwa aslinya Imam Ahmad tidak mentakwilkan hadits kecuali yang ditakwilkan oleh ulama salaf. Apa yang tidak ditakwilkan oleh salaf, maka ia tidak mentakwilkannya." (Masha'ibul Insan, hlm. 144)

Syaikh Abul Hasan Al-Qabisi ditanya tentang arti sabda Nabi: (إِنَّ الشَّيَاطِينَ تُصْفَدُ فِي رَمَضَانَ) "Sesungguhnya setan-setan dibelenggu di bulan Ramadhan", sementara kami mendapati mereka mengganggu di bulan Ramadhan, dan kami dapati sebagian kaum muslimin ada yang bermaksiat di Ramadhan?

Beliau menjawab dan berkata: "Mungkin setan diberikan kemampuan mengganggu walau ia terbelenggu." Kemudian berkata: "Saya pernah di Monastir pada sebagian bulan Ramadhan. Di sana ada seseorang yang ahli Al-Qur'an, dia kesurupan." Syaikh berkata: "Saya sedang duduk hingga mereka membawanya kepadaku. Mereka berkata kepadaku: 'Fulan ini kesurupan'. Kemudian mereka bertanya kepadaku tentang makna sabda Nabi tentang tashfidisy syayathin (pembelengguan setan)." Beliau berkata: "Saya berkata kepada mereka: 'Haditsnya benar, dan apa yang menimpa orang ini juga jelas. Maka mungkin makna sabda Nabi 'dan dibelenggu setan' adalah: Jin-jin kafir yang dinamakan setan, sedangkan jin mukmin tidak dibelenggu. Maka gangguan was-was, menghiasi maksiat itu berasal dari jin-jin fasik dan sebagian jin mukmin yang berbuat maksiat. Manusia yang beriman ada yang bermaksiat, bagaimana dengan jin yang beriman (tidak dibelenggu)? Adapun yang kafirnya dibelenggu, karena Nabi tidak berkata 'dan dibelenggu jin'! Sesungguhnya beliau mengkhususkan dengan kata setan-setan'." Dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya sebagian manusia ada yang berpendapat di dalamnya dibelenggu dari sebagian amal saja." Beliau berkata: "Pendapat yang menyatakan maknanya kemungkinan adalah sebagian setan, bukan saja itu yang lebih kuat. Dalam hal ini lebih baik dikatakan: Aku tidak memiliki ilmunya. Nabi telah mengatakannya dan telah diriwayatkan darinya oleh para ulama. Karena jika tidak disebutkan kepada kita tentang artinya, ada kemungkinan maknanya bukan seperti yang kita katakan, dan ini lebih baik dan lebih bagus daripada kita menakwilkannya." (Al-Mi'yar Al-Mu'rab, 1/425-426)

· Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah– berkata: "Di antara keberkahan bulan ini, dan masih terus menerus, adalah setan dibelenggu atau diikat. Yang demikian itu karena setan adalah musuh yang sangat berat bagi manusia. Firman Allah:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
"Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuh." (QS. Fathir: 6)

Oleh karenanya, kamu mendapati seorang mukmin di bulan Ramadhan bertambah senang dan antusias dalam ketaatan, dan kamu mendapatinya mendekatkan diri kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dengan khusyu' dibandingkan di luar bulan Ramadhan. Semua ini merupakan pengaruh dibelenggunya setan, yang mana mereka tidak bisa melakukannya seperti sebelum dibelenggu." (Durus wa Fatawa fil Haramil Makki, hlm. 128)

---

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya pertanyaan berikut:

"Keyakinan bahwa pembelengguan setan di bulan Ramadhan menyebabkan berhentinya mereka mengganggu manusia dan tidak merasuki mereka di dalam bulan yang mulia ini, apakah hadis-hadis yang menunjukkan tentang pembelengguan menguatkan makna ini?"

Beliau menjawab:

"Jelas di dalam hadis-hadis yang sahih bahwa setan-setan diikat dan dibelenggu di bulan Ramadhan agar mereka tidak mengganggu kaum muslimin. Akan tetapi, itu khusus untuk iblis dan keturunannya, karena mereka yang mengganggu manusia dan memberikan bisikan-bisikan, mengajak kepada kekufuran, bid'ah, dan kemaksiatan. Oleh karena itu, kemaksiatan berkurang di bulan Ramadhan, dan banyak yang bertaubat serta memperbanyak ketaatan, seperti shalat, sedekah, zikir, membaca (Al-Qur'an), dan lain-lain."

Akan tetapi, masih banyak yang terbiasa berbuat maksiat tetap melakukannya karena menganggapnya sebagai hukum adat yang diikuti. Meskipun setan dibelenggu, (namun) adat kebiasaan (itu) yang berlaku, sehingga terdapat banyak kemaksiatan, seperti mabuk-mabukan, zina, musik, dan sebagainya di bulan Ramadhan karena pendorongnya adalah adat istiadat, hawa nafsu yang jelek, setan (dari kalangan) manusia, syahwat, godaan, dan fitnah yang banyak dari video, film telanjang, dan lain-lain. Maka, tidak mengherankan jika Anda menemukan kemaksiatan-kemaksiatan ini di bulan Ramadhan meskipun setan dibelenggu.

Adapun jin dan ifrit-ifrit serta para penjahatnya, tampaknya mereka tidak termasuk yang dibelenggu. Maka, tidak aneh jika mereka masih merasuki manusia atau tetap berada di tubuh orang yang dikuasainya. Mereka seperti setan-setan (dari kalangan) manusia yang mukallaf (memiliki kewajiban syariat) dengan perintah dan larangan. Di antara mereka ada yang saleh dan ada yang jahat. Maka, tidak dimaksudkan secara umum (bahwa semua setan dibelenggu) dari apa yang disebutkan (dalam hadis) tentang (setan yang) dibelenggu di bulan Ramadhan. Wallahu a'lam." (Fatwa tanggal 24 Sya'ban tahun 1418 H)

---

Dan dari kutipan-kutipan di atas, kita dapat mengambil kesimp**an sebagai berikut:

1. Sesungguhnya pembelengguan setan itu terkait dengan bisikan-bisikan (waswas) setan. Adapun jin dan 'ifrit, zhahirnya mereka tidak termasuk yang dibelenggu, dan mereka inilah yang mungkin merasuki dan menyakiti manusia.
2. Sesungguhnya, kerasukan setan terhadap sebagian kaum muslimin dan kejahatan (setan) kepada mereka menurun di bulan yang penuh berkah ini (Ramadhan). Dan biasanya (hal itu) bergantung pada kondisi orang yang dirasuki, apakah ia mendekatkan diri kepada Penciptanya (Allah) dengan ibadah dan zikir, atau bersabar atas bala musibah (yang menimpanya).

Penerjemah : Achmad Junaedi Lc. M.H.i
⌨️ Penyunting Naskah : Rudianto Abu Huna

📚Penyesuaian dari : Ensiklopedi Ruqyah Jilid Ke-2 hal. 269-279

📡 Ensiklopedi Ruqyah Official

Republish: Ruqyah QHI Klaten

*Kultum: 17 Ramadhan, Perang Badar, dan Kemenangan Iman*Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Alhamdulillah, wash-...
06/03/2026

*Kultum: 17 Ramadhan, Perang Badar, dan Kemenangan Iman*

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa rasulillah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa mawwaalah. Amma ba'du.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillah, hari ini kita telah sampai pada tanggal 17 Ramadhan. Adapun di tahun ke-2 Hijriah, hari Jum'at tanggal 17 Ramadhan (13 Maret 624 M) juga mencatatkan sejarah besar lain yang tak kalah penting, yaitu Perang Badar Al-Kubra.

Perang Badar adalah Yaumul Furqan, hari pembeda antara yang hak dan yang batil, antara iman dan kekufuran.

*Konteks Perang Badar: Pertempuran Hak vs Batil*
Saat itu, 313 pasukan Muslimin harus berhadapan dengan hampir 1000 pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap. Secara logika manusia, mustahil pasukan Muslim menang. Apalagi, mereka sedang dalam keadaan berpuasa di tengah terik padang pasir.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai perbedaan jumlah pasukan ini dalam QS. Al-Anfal: 5-6:
فَاَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْۢ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ لَكٰرِهُوْنَۙ. يُجَادِلُوْنَكَ فِى الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَاَنَّمَا يُسَاقُوْنَ اِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ.
Fa akhrajaka rabbuka mim baitika bil-haqqi wa inna fariqam minal-mu'minina lakarihun. Yujadilunaka fil-haqqi ba'da ma tabayyana ka'annama yusaquna ilal-mauti wa hum yanzurun.
Artinya: "Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu dalam kebenaran setelah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (kematian itu)."

Perang ini bermula saat Rasulullah SAW bermaksud menghadang kafilah dagang Abu Sufyan sebagai pengganti harta kaum Muslimin yang dirampas kaum kafir Makkah, namun ternyata Abu Jahal datang membawa pasukan besar untuk memusnahkan Islam.

*Doa Rasulullah SAW dan Pertolongan Allah*
Di tengah gentingnya situasi, Rasulullah SAW tidak mengandalkan kekuatan fisik semata. Beliau mengajarkan kita untuk berikhtiar maksimal, lalu bertawakal. Rasulullah SAW berdoa hingga selendangnya jatuh, menunjukkan kepasrahan total:
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
"Allahumma anjiz lii maa wa'adtanii, Allahumma in tuhlik haadzihil 'ishaabata min ahlil islaami laa tu'badu fil ardhi"
Artinya: "Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membiarkan kelompok (pasukan) Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini." (HR. Muslim No. 1763).
Allah menjawab doa tersebut dan menurunkan pertolongan-Nya sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Anfal: 9:
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ
Idz tastaghitsuna rabbakum fastajaba lakum anni mumiddukum bi-alfim minal-mala'ikati murdifin.
Artinya: "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut."

*Keteladanan dari Perang Badar*
Ada tiga hikmah dan keteladanan utama yang bisa kita ambil dari peristiwa 17 Ramadhan ini:

*1. Iman dan Tawakal yang Tinggi (Keyakinan pada Pertolongan Allah)*
Pasukan Muslimin yakin, meskipun jumlah sedikit, pertolongan Allah akan datang jika berjuang di jalan-Nya.
QS. Ali 'Imran: 13 menegaskan hal ini:
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ
Qad kana lakum ayatun fi fi'atainiltaqata, fi'atun tuqatilu fi sabilillahi wa ukhra kafiratuy yarunahum mitslaihim ra'yal-'ain, wallahu yu'ayyidu binasrihi may yasya', inna fi dzalika la'ibratal li'ulil-absar.
Artinya: "Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir. (Golongan kafir) melihat golongan mukmin dua kali lipat mereka secara pandangan mata. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki penglihatan."

*2. Ketaatan kepada Pemimpin (Rasulullah SAW)*
Pasukan Muslimin sangat patuh. Saat Nabi memerintahkan untuk menguasai sumber air dan mengatur strategi, sahabat Khabab bin Mundzir memberikan saran taktis, dan Nabi menerimanya. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan kedisiplinan di bawah komando yang benar adalah kunci keberhasilan.

*3. Ramadhan Bukan Alasan untuk Lemah*
Perang Badar terjadi saat puasa. Ini bukti bahwa puasa tidak seharusnya menjadikan kita malas atau lemah. Sebaliknya, puasa adalah saat di mana ruhani kita kuat, sehingga fisik kita mampu melakukan hal-hal besar, baik ibadah di malam hari maupun bekerja di siang hari.

*Penutup*
Hadirin sekalian, 17 Ramadhan adalah momen untuk merefleksikan diri. Apakah puasa kita sudah menguatkan keimanan seperti para sahabat Badar?

Mari kita jadikan semangat 17 Ramadhan ini untuk "memenangkan perang Badar" dalam diri kita sendiri: melawan hawa nafsu, malas beribadah, dan kikir. Semoga kita bisa meneladani keberanian dan ketaatan para sahabat Nabi di Perang Badar.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

*_(Dedi Saputra - Ruqyah QHI Klaten)_*

*Kultum: 17 Ramadhan, Perang Badar, dan Kemenangan Iman*Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.Alhamdulillah, wash-...
06/03/2026

*Kultum: 17 Ramadhan, Perang Badar, dan Kemenangan Iman*

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa rasulillah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa mawwaalah. Amma ba'du.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillah, hari ini kita telah sampai pada tanggal 17 Ramadhan. Adapun di tahun ke-2 Hijriah, hari Jum'at tanggal 17 Ramadhan (13 Maret 624 M) juga mencatatkan sejarah besar lain yang tak kalah penting, yaitu Perang Badar Al-Kubra.
Perang Badar adalah Yaumul Furqan, hari pembeda antara yang hak dan yang batil, antara iman dan kekufuran.

*Konteks Perang Badar: Pertempuran Hak vs Batil*
Saat itu, 313 pasukan Muslimin harus berhadapan dengan hampir 1000 pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap. Secara logika manusia, mustahil pasukan Muslim menang. Apalagi, mereka sedang dalam keadaan berpuasa di tengah terik padang pasir. Perang ini bermula saat Rasulullah SAW bermaksud menghadang kafilah dagang Abu Sufyan sebagai pengganti harta kaum Muslimin yang dirampas kaum kafir Makkah, namun ternyata Abu Jahal datang membawa pasukan besar untuk memusnahkan Islam.

Di tengah gentingnya situasi, Rasulullah SAW tidak mengandalkan kekuatan fisik semata. Beliau mengajarkan kita untuk berikhtiar maksimal, lalu bertawakal.

*Doa Rasulullah SAW di Malam Perang Badar*

Rasulullah SAW berdoa hingga selendangnya jatuh, menunjukkan kepasrahan total. Beliau menengadahkan tangan ke langit dan berdoa dengan suara yang menggetarkan:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
"Allahumma anjiz lii maa wa'adtanii, Allahumma in tuhlik haadzihil 'ishaabata min ahlil islaami laa tu'badu fil ardhi"
Artinya: "Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membiarkan kelompok (pasukan) Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.".
Shahih Muslim, No. 1763 (hadits riwayat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu).

Allah menjawab doa tersebut dengan mengirimkan bala bantuan malaikat. Ini mengajar kita untuk tidak putus asa dalam beribadah, meski keadaan sulit, karena pertolongan Allah sangat dekat.

*Keteladanan dari Perang Badar*

*Ada tiga hikmah dan keteladanan utama yang bisa kita ambil dari peristiwa 17 Ramadhan ini:*

*1.Iman dan Tawakal yang Tinggi (Keyakinan pada Pertolongan Allah)*
Pasukan Muslimin yakin, meskipun jumlah sedikit, pertolongan Allah akan datang jika berjuang di jalan-Nya.

*2.Ketaatan kepada Pemimpin (Rasulullah SAW)*
Pasukan Muslimin sangat patuh. Saat Nabi memerintahkan untuk menguasai sumber air dan mengatur strategi, sahabat Khabab bin Mundzir memberikan saran taktis, dan Nabi menerimanya. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan kedisiplinan di bawah komando yang benar adalah kunci keberhasilan.

*3.Ramadhan Bukan Alasan untuk Lemah*
Perang Badar terjadi saat puasa. Ini bukti bahwa puasa tidak seharusnya menjadikan kita malas atau lemah. Sebaliknya, puasa adalah saat di mana ruhani kita kuat, sehingga fisik kita mampu melakukan hal-hal besar, baik ibadah di malam hari maupun bekerja di siang hari.

*Penutup*
Hadirin sekalian, 17 Ramadhan adalah momen untuk merefleksikan diri. Apakah puasa kita sudah menguatkan keimanan seperti para sahabat Badar?
Mari kita jadikan semangat 17 Ramadhan ini untuk "memenangkan perang Badar" dalam diri kita sendiri: melawan hawa nafsu, malas beribadah, dan kikir. Semoga kita bisa meneladani keberanian dan ketaatan para sahabat Nabi di Perang Badar.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dedi Saputra
Ruqyah QHI Klaten

Hari ini Jum'at 17 Ramadhan (6 Maret 2026), bertepatan 1402 tahun lalu saat terjadi perang Badar Kubra di hari Jum'at 17...
05/03/2026

Hari ini Jum'at 17 Ramadhan (6 Maret 2026), bertepatan 1402 tahun lalu saat terjadi perang Badar Kubra di hari Jum'at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah (13 Maret 624 M)

Ruqyah Klaten,Ruqyah Syar'iyyah Klaten,Ruqyah di Klaten.Bekam Holistik Klaten,Bekam Klaten,Terapi Bekam Klaten,terapi stroke,saraf kejepit klaten.

Address

Ruqyah QHI Klaten , Dusun 1 Manjungan , Dk/Ds Manjungan RT 07 RW 03 Kec Ngawen Kab Klaten Jawa Tengah , Https://maps. App. Goo. Gl/MzL9u3zpWciXYioK9?g_st=ac
Klaten

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ruqyah QHI Klaten posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram