16/04/2025
Anak itu tidak diciptakan untuk menanggung beban amarah kita.
Mereka datang ke dunia membawa hati yang bersih, belum kenal benci, belum kenal takut, belum kenal apa itu “aku tak cukup baik”.
Tapi bagaimana mereka akhirnya melihat diri mereka sendiri, sangat tergantung pada bagaimana kita sebagai orang tua melihat dan memperlakukan mereka.
Terkadang kita marah karena kita lelah.
Terkadang kita berteriak karena kita tidak tau cara lain.
Terkadang kita kasar karena begitulah cara kita dibesarkan.
Tapi nyatanya, tidak ada anak yang akan tumbuh dengan damai jika setiap hari disiram dengan suara keras, wajah cemberut, teguran sinis dan ancaman menyakitkan.
Kami ingin anak yang jujur, tetapi kami marah ketika mereka mengatakan kebenaran.
Kami ingin anak yang berani, tapi kami keras kepala ketika mereka meminta.
Kita ingin anak baik, tapi kita lupa bahwa kebaikan tidak bisa dipaksakan, itu harus dicontohkan.
Anak yang selalu tertekan, dipukuli, dan dihukum, belajar diam, bukan memahami... tapi karena takut.
Dia belajar berbohong, bukan nakal... Tapi untuk aman.
Dia belajar berpura-pura baik, bukan jujur... Tapi karena takut kehilangan cinta.
Dan tanpa kita sadari, kita telah membentuk generasi luka dalam diam.
Siapa yang tersenyum di luar, menangis di dalam.
Yang terlihat taat, namun memberontak di hati.
Yang pada akhirnya tumbuh menjadi pengecut, pendendam, penipu, bahkan mungkin orang munafik.
Bukan karena mereka menginginkannya.
Tetapi karena mereka tidak pernah merasa cukup aman untuk menjadi diri mereka sendiri.
⸻
Wahai ibu dan ayah,
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan orang tua yang bisa menerima mereka dengan kesabaran, membimbing mereka dengan kasih sayang, dan memeluk mereka pada saat yang paling lemah.
Karena pada akhirnya, anak-anak ini akan meniru bukan apa yang kita katakan
Tapi bagaimana perasaan mereka saat bersama kita.
——————
Kredit: Muhammad Kamil Han