Meditasi Tantra

Meditasi Tantra Saya adalah jiwa yang sedang belajar. Berjalan sebagai jiwa, sama seperti Anda. Tidak ada guru, tidak ada murid—kita hanya sesama pelajar di sekolah semesta.

Terhubung dalam proses, bertumbuh dalam kesadaran. WA: 085848355117

Semoga tulisan tulisan di akun ini ada manfaatnya dan kami rasa CUKUP sampai disini kami memberikan tulisan. Mulai detik...
01/04/2026

Semoga tulisan tulisan di akun ini ada manfaatnya dan kami rasa CUKUP sampai disini kami memberikan tulisan. Mulai detik ini, kami tidak akan menulis lagi di akun ini. Yg berkaitan ttg spiritual. Bisa untuk selamanya atau sementara waktu sampai waktu yg tidak bisa kami tentukan. Semoga hadirnya tulisan tulisan ini bisa membantu sahabat yang sedang mencari.

Selamat membaca yang sudah di sajikan. Dan jika ada salah ketik salah kata kami selaku penulis di akun ini minta maaf 🙏🙏🙏.

Salam cinta 🥰🥰salam hangat dan salam sejahtera. Kami do'akan anda yang membaca tulisan ini semoga anda sehat kaya raya bahagia dan ber kesadaran. ☺.

WAssalamu'alaikum sampurasun rahayu !!!!

Semoga seluruh mahluk hidup berbahagia!!

Kamis 02 april 2026

BERHENTI SEBELUM MENEMUKANDalam pemahaman spiritual yang dalam, ada prinsip tegas: ketika sudah sampai di p**au seberang...
01/04/2026

BERHENTI SEBELUM MENEMUKAN

Dalam pemahaman spiritual yang dalam, ada prinsip tegas: ketika sudah sampai di p**au seberang, kapal tidak perlu digendong. Ketika anak panah sudah mencapai sasaran, busur tidak lagi diperlukan.

Semua sarana—ritual, amalan, guru, kitab, teknik—hanya alat untuk mencapai tujuan. Saat tujuan tercapai, semuanya harus dilepas. Jika tetap dibawa, justru menjadi beban dan penghalang.

Artinya jelas: berhenti itu terjadi setelah sampai.

Namun ada satu kejadian yang terasa berlawanan.
Sang Buddha sudah memutuskan berhenti sebelum mencapai pencerahan.

Bukan karena paham. Bukan karena tahu harus bagaimana. Tapi karena sudah cukup sampai disini saja,selesai saja. Tidak ada lagi yg perlu di kejar.

Dan setelah itu… justru apa yang dicari muncul.

Singkat. Tapi cukup untuk mengguncang logika.

Sekarang lihat ke kehidupan nyata.

Dalam hal uang, kita selalu berpikir: harus kaya dulu baru berhenti mengejar. Dalam hal pasangan: harus dapat dulu baru berhenti mencari. Dalam hal spiritual: harus tercerahkan dulu baru berhenti.

Dan ternyata Kita bisa berhenti sekarang. Bukan karena sudah dapat, tapi karena memutuskan

CUKUP.
SAMPAI DI SINI.
SUDAH SELESAI.

Kalimat ini bukan hasil. Ini keputusan.

Bukan karena sudah kaya, tapi berhenti mengejar uang.
Bukan karena sudah punya pasangan, tapi berhenti mencari.usaha dll.
Bukan karena sudah tercerahkan, tapi berhenti memburu pencerahan.berhenti mengamalkan apapun, berhenti mencari guru, bertanya, atau usaha apapun. Tidak ada yang perlu di tanyakan.

Tapi ketika benar-benar berhenti—tidak lagi mencari, tidak lagi memburu,tidak berusaha, tidak lagi merasa harus mendapatkan,

di situlah sesuatu yang baru mulai terbuka.

Berhenti bukan akhir.

Berhenti adalah awal.

KEPERCAYAAN ISTRI MENENTUKAN ARAH REZEKI SUAMIDalam rumah tangga, peran suami dan istri berbeda secara alami. Suami berp...
01/04/2026

KEPERCAYAAN ISTRI MENENTUKAN ARAH REZEKI SUAMI

Dalam rumah tangga, peran suami dan istri berbeda secara alami. Suami berperan mencari, mengusahakan, dan mendatangkan rezeki. Istri berperan menerima, menampung, dan mengatur. Ini bukan soal siapa lebih tinggi, tapi soal fungsi yang saling melengkapi.

Masalah mulai muncul ketika istri tidak percaya pada suami. Rasa ragu, takut kekurangan, dan cemas membuat istri tidak benar-benar menjadi “penerima”, tetapi berubah menjadi pengontrol bahkan pengambil alih.

Saat istri merasa “suami tidak cukup”, sebenarnya yang sedang aktif adalah perasaan kekurangan. Dan dalam kehidupan, apa yang paling kuat dirasakan itulah yang sering terwujud. Jika yang dirasakan adalah kurang, maka pola hidup yang terbentuk juga mengarah pada kekurangan.

Ketika istri tidak percaya lalu ikut bekerja karena panik, niatnya memang membantu. Tapi dasarnya adalah rasa takut. Dari sini arah hidup berubah. Suami yang seharusnya fokus mencari, menjadi tidak maksimal. Perannya seperti dipersempit.

Di sisi lain, karena istri merasa harus turun tangan, maka tanggung jawab itu benar-benar berpindah. Istri yang awalnya tidak terbebani penuh, justru akhirnya memikul beban tersebut. Bukan kebetulan, tetapi hasil dari keputusan dan perasaan yang dipegang.

Inilah yang sering terlihat seperti “rezeki suami berkurang”. Bukan karena diambil secara ajaib, tetapi karena energi, fokus, dan peran sudah bergeser. Suami tidak lagi berjalan penuh sebagai pencari, dan istri tidak lagi berada pada posisi menerima.

Sebaliknya, ketika istri benar-benar percaya, tidak ragu, dan tidak diliputi rasa takut, maka ia kembali pada perannya sebagai penerima dan pengatur. Ia memberi ruang penuh kepada suami untuk menjalankan tugasnya.

Kepercayaan dan rasa syukur membuat suasana rumah tangga menjadi tenang. Dari ketenangan ini, suami lebih fokus, lebih yakin, dan lebih berani mengambil peluang. Di sinilah sering terjadi peningkatan hasil, karena usaha dilakukan tanpa beban dan tanpa tekanan.

Kesimp**annya jelas: perasaan menentukan arah. Jika yang dipegang adalah takut dan tidak percaya, maka hidup bergerak ke arah kekurangan dan beban. Jika yang dipegang adalah percaya dan syukur, maka yang terbuka adalah kelapangan dan peluang.

01/04/2026
JANGAN BERDAGANG DENGAN TUHAN Hidup ini tidak berjalan dengan sistem hitung-hitungan. Tapi banyak orang masih memperlaku...
01/04/2026

JANGAN BERDAGANG DENGAN TUHAN

Hidup ini tidak berjalan dengan sistem hitung-hitungan. Tapi banyak orang masih memperlakukannya seperti itu.

Kita lupa bahwa Tuhan bekerja dengan hukum karma—yaitu energi, vibrasi, dan frekuensi. Semua yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan adalah energi. Dan energi itu bergerak, tapi tidak bisa dilihat dan tidak bisa dihitung dengan angka.

Karena itu, jangan pernah berdagang dengan Tuhan.

Jangan berbuat baik lalu menunggu balasan.
Jangan memberi sambil berharap kembali.
Jangan menolong dengan perhitungan.

Kenapa?

Karena kita tidak pernah tahu berapa “nilai” karma kita.

Kita tidak tahu berapa besar energi baik yang sudah kita kirim.
Kita juga tidak tahu berapa besar energi buruk yang masih kita bawa.

Semua itu tidak ada angkanya.

Berbeda dengan uang. Kalau Anda mau pergi dari Jawa Tengah ke Jakarta, Anda tahu harus bayar minimal sekitar Rp200.000. Kalau uang Anda kurang, Anda tidak bisa berangkat. Sederhana, jelas, dan terukur.

Tapi karma tidak seperti itu.

Energi, vibrasi, dan frekuensi tidak punya angka pasti. Tidak ada ukuran kapan “cukup”. Tidak ada batas yang bisa kita lihat.

Itulah kenapa banyak orang merasa:
“Saya sudah berbuat baik, kenapa hidup saya belum berubah?”

Karena mereka masih menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung.

Yang paling bijak adalah berhenti menghitung, lalu fokus melakukan.

Berbuat baik saja.
Memberi saja.
Menolong saja.
Berbagi saja.

Tanpa syarat.
Tanpa perhitungan.
Tanpa tuntutan.

Karena setiap tindakan adalah karma.
Setiap niat adalah energi.
Setiap pilihan adalah vibrasi yang kita kirim ke semesta.

Kita tidak pernah tahu kapan karma itu kembali.
Kita tidak pernah tahu dalam bentuk apa hasilnya datang.

Tapi satu hal pasti:
Tidak ada energi yang hilang.sebiji sawi pun akan ada hitungannya.

Semua kembali. Cepat atau lambat.

Jadi tugas kita bukan menunggu hasil,
tapi terus mengirim kebaikan.

Terus menanam.
Menanam
Menanam
Dan menanam

Karena hanya yang menanam yang akan punya kesempatan untuk memanen.

ANDA KOMPLAIN, MALAIKAT PUN DEMIKIANBanyak yg komplain bingung dan menyalahkan artikel saya yg bilang Tuhan menciptakan ...
01/04/2026

ANDA KOMPLAIN, MALAIKAT PUN DEMIKIAN

Banyak yg komplain bingung dan menyalahkan artikel saya yg bilang Tuhan menciptakan baik dan buruk( khoirihi WA syarrihi minal loh). Ini wajar. Krn malaikat pun lebih dulu komplain saat Tuhan bikin manusia.
Dulu sebelum manusia diciptakan, katanya Tuhan ngajak diskusi sama malaikat. Tapi malaikat langsung komplain. Alasannya? Mereka khawatir manusia nanti bikin kerusakan, ribut, sampai tumpah darah—intinya, “Ini makhluk prospeknya agak rawan, Tuhan…”jadi dulu pun malaikat sudah menasehati Tuhan.

Jadi malaikat itu sempat kasih “review awal” sebelum manusia launching. Tapi ya tetap saja, keputusan bukan di mereka. Mereka cuma diajak diskusi, bukan diajak voting. Keputusan tetap di tangan Tuhan.tuhan moho sak karepe dewe.moho wenang. Istilah Jawanya: Sang Yang Wenang. Mau diapain juga, ya terserah Dia. Full power, tanpa rapat paripurna.

Nah habis itu manusia pertama jadi!!,Adam.

Tiba-tiba… plot twist.

Tuhan nyuruh semua malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Nah ini kalau dilihat pakai logika santai ala warung kopi, agak bikin garuk-garuk kepala juga. Yang senior, yang suci—eh malah disuruh sujud ke yang baru bikin, masih bau pabrik. Ini sujudnya bukan nyembah sih, lebih ke menghormati. Tapi tetap saja, rasanya: “Loh kok jadi begini yang bener aza?”

Dan lucunya, semua malaikat nurut aja. Nggak pakai debat panjang, nggak pakai klarifikasi. Langsung: siap, sujud.samikna WA atokna inilah sifat malaikat. Kami dengar dan kami lakukan.

Kecuali satu.

Azazil.katanya sih malaikat yg tertinggi imannya.

Nah ini dia yang “berani beda”. Dia komplain. Dia bilang, “Yang benar aja? Masa saya disuruh sujud sama makhluk dari tanah, saya dari api?” bukannya prinsipnya sujud cuma ke Tuhan?kata Tuhan dulu hanya bersujudlah pada ku. Kok ini ganti aturan.

Jadi dia kayak nanya, “Ini aturan berubah apa gimana sih?”
Inilah bedanya dng malaikat. Iblis ini samikna WA asoina. Kami dengar dan kami langgar.

Tapi ya itu, di titik ini beda tipis antara mikir dan membangkang. Akhirnya dia nggak mau sujud. Dan ya sudah, konsekuensinya berat: terusir.

Dari sini sebenarnya ada satu hal yang menarik.

Kalau kamu dalam hidup ini pernah komplain, pernah ngerasa, “Ini keputusan Tuhan kok aneh ya? Kok kayak paradoks ya? Kok hidup gue begini amat ya?”—tenang, Anda tidak sendirian.
Tapi tetap elu nerima dng logowo ikhlas ketentuannya maka elu berjiwa malaikat.

Malaikat saja dulu sudah komplain duluan.
Tapi tetep nurut ya.

Jadi kalau Anda komplain karena hidup ini campur aduk—ada baik, ada buruk—dan Anda bertanya, “Kok Tuhan bikin yang buruk juga sih?” ya… mirip-mirip lah sama “diskusi awal” dulu.

Bisa dibilang, Anda seperti Malaikat.

Tapi bedanya ada di ujungnya.

Ada yang bertanya lalu tetap tunduk.

Ada yang bertanya lalu menolak.
Jadi kalo nolak, anda sama dng berjiwa iblis.

Nah di situ letak ceritanya.

Jadi silakan mikir, silakan bertanya, silakan juga garuk kepala kalau hidup terasa aneh. Tapi ingat, dari dulu ceritanya memang sudah begitu: makhluk diajak mikir, tapi keputusan tetap di tangan Yang Maha Menang.

Dan kita? Ya jalani saja… sambil sesekali bilang: “Yang benar aja ini hidup…” 😄
Ingat hidup itu sejak awal sudah JOMPLANG. bahkan Tuhan sendiri bikin keputusan yang membagongkan.makaikat saja bingung gak faham dengan cara pikir Tuhan.

Inilah paradox yang mesti anda ungkap agar tau dibalik nya.

**KENAPA SUDAH PILIH PASANGAN SEHATI-HATI MUNGKIN TAPI HASILNYA TETAP ZONK?**Saat kita masih muda dan belum menikah, eks...
01/04/2026

**KENAPA SUDAH PILIH PASANGAN SEHATI-HATI MUNGKIN TAPI HASILNYA TETAP ZONK?**

Saat kita masih muda dan belum menikah, ekspektasi kita itu biasanya banyak banget. Kalau wanita, pengen pria yang kaya, yang perhatian, yang begini dan begitu. Syaratnya itu sampai ada ribuan mungkin, sehingga kadang-kadang seorang wanita susah sekali untuk memilih pria. Bahkan, ada juga beberapa wanita yang sampai telat menikah gara-gara pertimbangannya terlalu banyak.
Para pria pun sama, ingin yg bahenol yg setia yg bisa masak manak macak.dll.kadang ada yg sampai umurnya 40 lebih gara gara gak mau salah pilih.

Dan itu tidak salah, karena tentu saja setiap orang ingin pernikahan hanya sekali seumur hidup dan mendapatkan yang tepat. Tetapi sekali lagi, hidup itu tidak ditentukan oleh udelmu.oleh otakmu, oleh pikiranmu, oleh logikamu, atau oleh rencana yang kamu bangun megah di dalam kepalamu.

Kadang-kadang, setelah kita merencanakan dan memilah sampai begitu detail—bahkan sampai menikahnya telat—ujung-ujungnya hasilnya zonk. Sama saja, bohong. Mendapatkan yang tidak pas dan sebagainya. Padahal, secara logika, secara nalar, semua perhitungan itu sudah benar-benar panjang dan ribet.

Dari sini kita belajar bahwa hidup tidak ditentukan oleh logika kamu, oleh cara pikirmu, oleh keputusanmu, atau oleh seluruh perencanaan yang kamu buat. Hidup itu mengalir. Hidup itu apa adanya. Hidup itu berjalan sesuai frekuensinya.

Yang perlu dipahami adalah, kehidupan itu selalu seperti gambling. Dalam menikah, kamu saja bisa saja bercerai. Itu yang harus kamu pahami. Jangan takut untuk salah, karena salah itu bagian dari pembelajaran. Kalau kamu takut salah, ya kamu tidak hidup.

Karena kehidupan itu selalu ada salah dan benar. Berbisnis juga begitu—bisa gagal, bisa untung, bisa jadi, bisa tidak. Semuanya serba kemungkinan. Ada kemungkinan salah, ada kemungkinan gagal, ada kemungkinan tepat, ada kemungkinan berhasil.

Jadi, kita tidak perlu memaksakan hanya satu hasil: harus untung, harus sukses, harus dapat pasangan yang tepat. Tidak seperti itu. Jalani saja kehidupan apa adanya. Kalau kamu menikah dan ternyata mendapatkan pasangan yang tidak tepat, ya itulah yang harus kamu jalani.

Selanjutnya, mengalir saja. Apakah nanti kamu bercerai atau tetap lanjut, biarkan hidup berjalan. Karena kehidupan tidak bisa kita tentukan dengan akal logika dan perencanaan yang kaku.

Hidup itu adalah aliran yang terus mengalir. Kita harus belajar menerima kesalahan, dan memahami bahwa hidup tidak selalu tepat. Kadang benar, kadang salah, kadang berbelok. Itulah ritme kehidupan.

Di sekolah kita diajarkan bahwa semuanya harus benar. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kenyataan itu ada benar dan salah. Kadang kita salah jalan, kadang kita salah memilih. Itulah kehidupan yang alami.

Kalau kita terus menuntut hidup harus sesuai dengan ekspektasi, logika, dan perencanaan kita, justru kita tidak benar-benar hidup. Kita hanya akan terus berbenturan dengan kenyataan yang sering kali terasa kacau.

**KENAPA SAAT KITA INGIN YANG BAIK, JUSTRU YANG DATANG TERASA BURUK? Banyak orang bertanya, ketika kita diajarkan untuk ...
01/04/2026

**KENAPA SAAT KITA INGIN YANG BAIK, JUSTRU YANG DATANG TERASA BURUK?

Banyak orang bertanya, ketika kita diajarkan untuk menerima pasangan apa adanya—baik dan buruknya—lalu bagaimana jika pasangan tersebut terasa sangat tidak cocok atau bahkan menyakitkan? Apakah tetap harus diterima? Jawabannya: iya, diterima. Tapi di sisi lain, keinginan untuk memiliki pasangan yang lebih baik, lebih sesuai, itu juga sah. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Di sinilah sering muncul kebingungan, seolah dua hal ini saling bertentangan.

Padahal, jika dipahami lebih dalam, ada proses yang sedang bekerja. Ketika kita menginginkan sesuatu yang baik—pasangan yang tepat, kehidupan yang lebih layak, rezeki yang melimpah—justru yang sering datang adalah kebalikannya. Kita ingin terang, tapi yang datang gelap. Kita ingin jadi pribadi yang baik, tapi malah sering jatuh pada kesalahan. Ini bukan karena doa kita tidak didengar, melainkan karena diri kita belum siap menerima apa yang kita inginkan.

Coba bayangkan seseorang yang ingin melompati tembok setinggi tiga meter. Jika ia berdiri terlalu dekat dengan tembok itu, mustahil ia bisa melompatinya. Agar berhasil, ia justru harus mundur beberapa langkah terlebih dahulu. Mundur ini sering disalahartikan sebagai kegagalan, padahal justru itulah bagian dari proses untuk bisa melompat lebih tinggi.

Begitu juga dalam hidup. Kemunduran, kegagalan, bahkan kehancuran yang kita alami sering kali adalah cara untuk “mengambil ancang-ancang.” Namun karena kita terbiasa menilai segala sesuatu secara logika sederhana—baik itu enak, buruk itu menyakitkan—kita jadi salah paham. Kita mengira Tuhan memberikan yang buruk, padahal sebenarnya sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar.
Kita banyak salah paham pada Tuhan.

Ketidaksiapan ini bisa datang dari banyak hal: karma masa lalu, luka masa lalu, pola pikir dari lingkungan, doktrin keluarga, bahkan keyakinan yang tanpa sadar membatasi diri kita sendiri. Semua itu membentuk “wadah” dalam diri kita. Jika wadah ini masih keruh atau sempit, maka apa pun yang besar dan baik tidak akan bisa tertampung dengan baik.

Maka yang terjadi adalah proses pembersihan. Dan proses ini jarang terasa nyaman. Kita diberi masalah, tantangan, bahkan kehilangan. Dalam hubungan, kita mungkin dipertemukan dengan pasangan yang tidak sesuai agar kita belajar—tentang diri sendiri, tentang batasan, tentang makna menerima, dan tentang bagaimana memperbaiki kualitas diri. Jika kita lulus dari proses ini, wadah kita menjadi lebih jernih, lebih siap untuk menerima hubungan yang lebih baik.

Jadi Tuhan mendatangkan pasangan yg tidak tepat sebagai tantangan buat kita, Apakah kita mampu menyelesaikannya dengan baik atau tidak. bisa menerima secara total atau tidak. jadi kalau di Bahasakan seperti ini : Oke kamu mau pasangan yang itu, Ok AKU beri.Tapi krn wadahmu blm siap, tak kasih tantangan mendapatkan pasangan yang buruk ini.Kamu bisa nggak menerima kalau kita bisa menerima setotal-totalnya. itu diganti. pada akhirnya akan diubah sendiri. Kalo LULUS.

Hal yang sama juga berlaku dalam rezeki. Ketika kita ingin penghasilan besar, tetapi pola pikir kita masih terbentuk dari keterbatasan—misalnya hanya terbiasa hidup dengan jumlah kecil—maka kita akan melalui fase “dihancurkan” terlebih dahulu. Usaha gagal, rencana berantakan, bahkan kehidupan terasa runtuh. Itu bukan hukuman, melainkan proses memperluas kapasitas diri agar mampu menampung yang lebih besar.

Begitu p**a dalam perjalanan spiritual. Saat seseorang ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi, hidupnya justru sering terasa makin berat—hubungan bermasalah, rezeki terganggu, kesehatan menurun. Ini bukan tanda kemunduran, melainkan tanda bahwa sedang ada proses pembersihan dan penguatan dari dalam.

Jadi, ketika hidup terasa berjalan berlawanan dengan keinginan kita, mungkin bukan karena kita dijauhkan dari tujuan, tetapi justru sedang didekatkan dengan cara yang tidak kita pahami. Seperti orang yang mundur sebelum melompat, seperti itulah cara proses bekerja.

Intinya sederhana: bukan keinginan kita yang salah, tapi wadah kita yang belum siap. Dan proses yang terasa sulit itu adalah cara untuk memperbesar, membersihkan, dan memantaskan diri kita agar benar-benar siap menerima apa yang kita inginkan.

KEPOLOSAN ADALAH KUNCI MEMAHAMI ILMU KETUHANANBanyak orang mengira ilmu ketuhanan bisa dicapai dengan logika, dengan ber...
01/04/2026

KEPOLOSAN ADALAH KUNCI MEMAHAMI ILMU KETUHANAN

Banyak orang mengira ilmu ketuhanan bisa dicapai dengan logika, dengan berpikir, menganalisa, lalu menyimpulkan. Padahal tidak seperti itu. Logika itu sebenarnya bersandar pada masa lalu. Apa yang kita anggap rasional hari ini hanyalah kump**an data lama yang kita simpan lalu kita yakini sebagai kebenaran.

Misalnya sederhana, orang dengan gaji 2 juta ingin punya 10 miliar. Secara logika itu dianggap tidak masuk akal, karena logika melihat data masa lalu yaitu penghasilan 2 juta. Maka 10 miliar terasa mustahil. Padahal itu bukan kebenaran mutlak, itu hanya batasan dari pengalaman lama.

Dalam ilmu ketuhanan atau makrifat, logika tidak cukup, bahkan sering jadi penghalang. Karena logika selalu membandingkan dengan apa yang sudah pernah diketahui. Misalnya seseorang sejak kecil diajarkan bahwa Tuhan itu di langit, lalu ketika ada pemahaman lain yang berbeda, dia langsung menolak, mengatakan tidak masuk akal, tidak logis. Padahal yang dia pertahankan itu bukan kebenaran, tapi doktrin lama yang sudah tertanam.

Sama seperti ketika seseorang diberitahu tentang sosok bernama Putri yang cantik, putih, langsing, dan sempurna. Dia belum pernah melihat, tapi mempercayainya, lalu menjadikannya sebagai gambaran yang dianggap benar. Ketika suatu saat dia bertemu Putri yang ternyata berbeda, dia menolak, karena tidak sesuai dengan bayangannya. Di sini terlihat bahwa yang disebut logika itu sebenarnya bukan sesuatu yang murni, tapi hanya kenangan masa lalu yang dijadikan acuan.

Karena itu, dalam memahami ilmu ketuhanan, yang dibutuhkan bukan sekadar kecerdasan atau kemampuan berpikir kritis. Justru terlalu kritis sering membuat seseorang lebih sulit memahami, karena setiap hal baru selalu dilawan dengan pengetahuan lama, selalu ingin membantah, ingin benar, dan akhirnya hatinya menjadi keras.

Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah kepolosan. Hati yang lembut, jiwa yang terbuka, seperti anak-anak yang lugu, yang menerima tanpa banyak prasangka, tanpa keinginan untuk melawan atau menghakimi. Kepolosan ini bukan berarti bodoh, tapi bersih dari beban lama. Ketika hati tidak dipenuhi doktrin dan tidak kaku, seseorang menjadi lebih mudah menerima pemahaman yang lebih dalam.

Pada akhirnya, ilmu ketuhanan bukan soal siapa yang paling pintar atau paling logis, tapi siapa yang paling bersih hatinya untuk bersedia mengalami. Ketika seseorang bisa kembali sederhana, kembali polos, dan tidak terikat pada pola lama, di situlah pintu pemahaman mulai terbuka.
Oleh karna itu nabi muhammad di kenal al umm arti yg mendekati adalah polos lugu apa adanya.

Jadilah sederhana, polos, lugu, seperti anak kecil.

Address

Gembong Pati Jateng
Pati
59162

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Meditasi Tantra posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Meditasi Tantra:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram