Meditasi Tantra

Meditasi Tantra Saya adalah jiwa yang sedang belajar. Berjalan sebagai jiwa, sama seperti Anda. Tidak ada guru, tidak ada murid—kita hanya sesama pelajar di sekolah semesta.

Terhubung dalam proses, bertumbuh dalam kesadaran. WA: 085848355117

SUAMI ADALAH ALIRAN, ISTRI ADALAH WADAHKalau kita bicara tentang suami istri, maka istri itu bukan sekadar pasangan bada...
08/02/2026

SUAMI ADALAH ALIRAN, ISTRI ADALAH WADAH

Kalau kita bicara tentang suami istri, maka istri itu bukan sekadar pasangan badan. Ini bisa diartikan secara energi atau secara spiritual, bahwa istri adalah wadah dan suami adalah aliran.

Jadi, kalau suami tidak memiliki wadah yang tepat, ibarat tanaman tumbuh di lahan yang tandus, maka dia tidak akan berkembang. Oleh karena itu, hampir semua pemimpin negara dan pemimpin spiritual, atau pemimpin apa pun itu, dia sangat kuat ketika memiliki pendamping yang pas.

Karena wanita itu wadahnya. Wadah harus kuat, harus luas, harus jernih. Seperti Pak Harto yang punya bu tien, seperti Soekarno, karena dia tidak memiliki wadah yang luas, maka dia punya banyak istri untuk menampung energinya.jadi penting untuk di pahami.

Jadi, tidak hanya sekadar tanggung jawab, tidak hanya sekadar hubungan fisik, tidak hanya sekadar duniawi, tapi ini menyentuh segala dimensi, termasuk dimensi spiritual, dimensi kemakmuran, dan dimensi apa pun.

Makanya, di dalam versi Jawa itu ada bibit,bebet, bobot, dan sebagainya. Kemudian di Islam juga ada yang namanya istilah sekufu, yaitu se frekuensi dalam bidang apa pun, termasuk dalam cinta, dalam visi misi yang selaras, kondisi spiritual yang selaras, dan sebagainya.

08/02/2026

Seberapa Tinggi Ilmu yang kamu dapatkan itu bukan tergantung pada teorinya tapi pada Bagaimana caramu menghargai ilmu tersebut karena penghargaanmu adalah energi. ilmu itu juga energi.jadi ketika kamu mengeluarkan energi dengan penghargaan yang tulus dan tanpa pikiran yang negatif maka ilmu itu akan masuk dengan sangat mewah dengan sangat tinggi dan luar biasa. Semua akibat dari sebab kamu menghargainya. PENCERMINANMU SENDIRI

BENARKAH ANDA SUDAH KENAL PASANGAN ANDA.? JANGAN JANGAN DIA CEO YG MENYAMARDi dalam rumah tangga, apakah pasangan anda, ...
08/02/2026

BENARKAH ANDA SUDAH KENAL PASANGAN ANDA.? JANGAN JANGAN DIA CEO YG MENYAMAR

Di dalam rumah tangga, apakah pasangan anda, mungkin suami anda, memiliki banyak karakter yang anda anggap negatif? Misalnya tidak bisa menata baju, tidak mau menyapu, tidak membenahi genteng, tidak peduli hal-hal kecil, pelupa, malas, mudah marah, atau tampak tidak bertanggung jawab dalam urusan sederhana. Jangan langsung menilai negatif. Jangan buru-buru memberi cap gagal. Karena bisa saja hal tersebut justru menandakan sesuatu yang sangat luar biasa, sesuatu yang tidak anda pahami.

Contohnya Albert Einstein. Ia sangat pelupa, sangat tidak peduli pada hal-hal kecil. Banyak orang jenius memiliki karakter yang sama. Guru Gembul juga pernah mengaku sering lupa, bahkan password akun YouTube sendiri pun bisa lupa. Dan termasuk saya sendiri, banyak sekali malasnya. Untuk urusan pakaian saja sering bingung, tidak peduli, tidak tertarik mengatur hal-hal kecil seperti itu. Hal-hal ringan terasa tidak penting, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak menjadi fokus.

Di sinilah letak rahasianya. Pikiran manusia memiliki kapasitas fokus. Ketika pikiran seseorang dipenuhi oleh hal-hal besar, oleh gagasan besar, oleh perenungan besar, maka hal-hal kecil akan terlewatkan. Bukan karena bodoh, bukan karena tidak mampu, tetapi karena energinya tidak ditempatkan di sana. Fokus mereka bukan pada hal-hal kecil. Fokus mereka pada sesuatu yang jauh lebih besar. Pikiran dan perasaan mereka sibuk memikirkan sesuatu yang lebih luas, lebih dalam, lebih tinggi.

Saya sendiri misalnya, merasa malas membaca kitab-kitab syariat yang menurut saya terlalu sederhana dan terlalu permukaan. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena pikiran saya lebih tertarik pada kajian makrifat, kajian ketuhanan, kajian kesadaran yang jauh lebih tinggi. Hal-hal ringan terasa tidak menarik. Hal-hal kecil terasa tidak memanggil perhatian. Energi pikiran secara alami tertarik pada sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam.

Inilah yang sering disalahpahami. Orang luar melihatnya sebagai kemalasan. Orang luar melihatnya sebagai kekurangan. Padahal bisa jadi itu tanda bahwa pusat energinya sedang bekerja di level yang berbeda. Orang yang memikirkan hal-hal besar sering tidak punya ruang untuk hal-hal kecil. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena fokusnya bukan di sana.

Karena itu jangan terlalu cepat menuduh pasangan anda. Jangan terlalu cepat memberi label negatif. Lihat lebih dalam. Lihat lebih jujur. Bisa jadi orang yang anda anggap malas itu sebenarnya sedang memproses sesuatu yang jauh lebih besar di dalam dirinya. Bisa jadi orang yang tampak berantakan itu sebenarnya memiliki dunia pikiran yang jauh lebih luas daripada yang anda bayangkan.

Jangan-jangan orang yang anda anggap tidak becus itu sebenarnya adalah sosok besar yang belum anda kenali. Jangan-jangan ia bukan orang biasa. Jangan-jangan ia adalah orang besar yang sedang menyamar. Jangan-jangan ia adalah CEO yang menyamar di dalam rumah anda sendiri.

**TIDAK ADA YANG TIDAK BISA DIUBAH, YANG ADA HANYA ENERGI ANDA TIDAK CUKUP**Kita sering mendengar satu kalimat yang terd...
08/02/2026

**TIDAK ADA YANG TIDAK BISA DIUBAH, YANG ADA HANYA ENERGI ANDA TIDAK CUKUP**

Kita sering mendengar satu kalimat yang terdengar sangat bijak dan sangat motivasional, yaitu: aku hanya mengubah apa yang bisa aku ubah, dan aku menerima apa yang tidak bisa aku ubah. Kalimat ini terdengar keren, terdengar dewasa, terdengar penuh kesadaran. Tetapi ada satu pertanyaan mendasar yang jarang sekali ditanyakan: kenapa ada sesuatu yang bisa diubah dan ada sesuatu yang tidak bisa diubah? Kenapa tidak semuanya saja bisa diubah? Kalau memang manusia punya kehendak, punya kesadaran, punya daya, kenapa ada batas? Apakah benar batas itu ada, atau itu hanya batas yang diciptakan oleh kelemahan kita sendiri?

Masalahnya bukan pada sesuatu itu tidak bisa diubah. Masalahnya ada pada energi anda tidak cukup. Itu saja. Sederhana sekali. Bukan karena realitas itu permanen, bukan karena takdir itu mutlak, bukan karena semesta itu terkunci. Tetapi karena energi anda tidak cukup untuk menggesernya. Energi adalah kunci dari semua perubahan. Energi adalah bahan bakar dari semua manifestasi. Tanpa energi yang cukup, keinginan hanya menjadi angan-angan. Dengan energi yang cukup, bahkan sesuatu yang tampak mustahil bisa runtuh dan berubah.

Banyak orang menyalahkan takdir, menyalahkan keadaan, menyalahkan nasib, padahal yang lemah bukan takdirnya, yang lemah adalah energinya. Di dalam Al-Qur'an sendiri dijelaskan bahwa manusia diberi hak untuk mengubah nasibnya. Artinya takdir bukan penjara yang terkunci, takdir adalah struktur yang bisa digeser oleh energi, oleh kesadaran, oleh daya yang cukup kuat. Jika takdir benar-benar mutlak dan tidak bisa diubah, maka tidak mungkin manusia diberi hak untuk mengubahnya. Tetapi kenyataannya manusia diberi hak itu. Masalahnya bukan pada haknya, tetapi pada kemampuan energinya.

Segala sesuatu bekerja dengan hukum energi. Jika energi anda kecil, realitas anda sempit. Jika energi anda besar, realitas anda meluas. Jika energi anda lemah, anda tunduk pada keadaan. Jika energi anda kuat, keadaan tunduk pada anda. Sesuatu terlihat tidak bisa diubah hanya karena energi anda belum cukup untuk mengubahnya. Sama seperti ketika anda ingin pergi ke Jakarta tetapi tidak punya cukup biaya, bukan berarti Jakarta tidak bisa dicapai, tetapi energi dalam bentuk sumber daya anda tidak cukup untuk membawa anda ke sana.

Jadi bukan realitas yang tidak bisa diubah. Yang ada adalah kapasitas energi anda belum cukup besar. Bukan takdir yang terlalu kuat. Yang ada adalah daya anda belum cukup kuat untuk menembusnya. Bukan semesta yang menolak anda. Yang ada adalah energi anda belum cukup untuk memaksa semesta merespons anda. Ini adalah hukum yang sangat jujur. Realitas tunduk pada energi. Manifestasi tunduk pada energi. Perubahan tunduk pada energi.

Seberapa mustahil pun sesuatu menurut pikiran anda, jika energi anda cukup, itu bisa berubah. Tidak ada yang benar-benar permanen. Tidak ada yang benar-benar mutlak. Yang ada hanya tingkat energi. Orang yang energinya lemah hidup dalam keterbatasan dan menyebutnya takdir. Orang yang energinya kuat hidup dalam kemungkinan tanpa batas dan menyebutnya pilihan.

Karena itu berhentilah mengatakan ini tidak bisa diubah sebelum anda bertanya: apakah energi saya sudah cukup? Berhentilah menyerah sebelum anda memperbesar energi anda. Karena kunci dari semua perubahan bukan pada dunia luar, tetapi pada kapasitas energi di dalam diri anda. Ketika energi anda meningkat, realitas anda ikut meningkat. Ketika energi anda cukup besar, bahkan sesuatu yang dulu anda anggap mustahil akan tunduk dan berubah di hadapan anda.

KEBANYAKAN ORANG BUKAN BERSPIRITUAL, MEREKA HANYA TAKUT MENCINTAISetelah saya membuat postingan tentang teori-teori perc...
08/02/2026

KEBANYAKAN ORANG BUKAN BERSPIRITUAL, MEREKA HANYA TAKUT MENCINTAI

Setelah saya membuat postingan tentang teori-teori percintaan yang sering tayang di Ngaji Roso, muncul banyak fenomena dan komentar yang ternyata sangat-sangat sangat umum terjadi. Bahwa ketika seseorang gagal dalam hal percintaan, gagal mencintai entah karena dibohongi, disakiti, atau dikhianati, ujungnya mereka keluar dari cinta itu sendiri. Mereka tidak berani mencintai lagi, mereka memutus koneksi dengan orang lain, mereka memilih untuk tidak memiliki pasangan, dan dengan berbagai alasan mereka menyebut itu sebagai mencintai diri sendiri, sebagai langkah spiritual, sebagai tanda bahwa mereka sudah berdamai dengan diri sendiri. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ternyata sangat banyak orang-orang ini bukan kembali ke dirinya, bukan kembali ke spiritual, melainkan hanya bentuk penipuan terhadap diri sendiri. Mereka tidak benar-benar mencintai dirinya, mereka tidak benar-benar dalam kesendirian yang utuh, mereka hanya takut mencintai lagi. Mereka memiliki luka batin, trauma batin, luka yang belum selesai dalam hal percintaan. Yang terjadi bukan mengambil pelajaran dari masa lalu, tetapi justru masa lalu menjadi luka, masa lalu menjadi sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang angker, sehingga mereka tidak berani masuk lagi, tidak berani menyelam lagi ke dalam cinta, karena cinta terasa terlalu menakutkan dan terlalu berbahaya bagi hati mereka.

Luka batin inilah yang kemudian berubah menjadi sikap. Sikap menarik diri, sikap menolak pasangan, sikap memilih sendiri, sikap jomblo, sikap memutus hubungan dengan cinta, dan mereka menyebut itu sebagai pilihan spiritual, padahal itu hanyalah mekanisme perlindungan dari luka. Ini bukan kesadaran, ini bukan kebebasan, ini adalah ketakutan yang dibungkus dengan kata-kata indah. Mereka tidak benar-benar bebas, mereka hanya menghindar. Mereka tidak benar-benar damai, mereka hanya mati rasa. Mereka tidak benar-benar utuh, mereka hanya membangun benteng agar tidak terluka lagi.

Masuk ke dalam cinta bukan sesuatu yang ringan. Cinta adalah energi yang sangat besar. Di dalam cinta seseorang bisa hilang, bisa hancur, bisa musnah. Cinta bukan permainan kecil, cinta adalah api yang membakar identitas. Hanya sedikit orang yang benar-benar berani masuk ke sana, berani lenyap di dalamnya, berani hancur di dalamnya, berani kehilangan dirinya sendiri di dalamnya. Karena mencintai secara total berarti siap kehilangan kendali, siap kehilangan ego, siap kehilangan kepastian. Dan inilah yang paling ditakuti oleh banyak orang. Mereka tidak takut kehilangan pasangan, mereka takut kehilangan dirinya sendiri.

Ada dua energi terbesar yang paling sering dihindari oleh banyak orang yang mengaku spiritual, yaitu cinta dan seks. Kedua energi ini terlalu besar, terlalu liar, terlalu menghancurkan struktur ego. Ketika seseorang benar-benar masuk ke dalam cinta dan seks secara total, ego bisa runtuh, identitas bisa hancur, kontrol bisa hilang. Dan bagi mereka yang masih ingin mengendalikan dirinya, ini adalah ancaman yang sangat besar. Karena itu mereka menghindarinya. Mereka menyebutnya sebagai pengendalian diri, mereka menyebutnya sebagai kesadaran, mereka menyebutnya sebagai spiritualitas, padahal di dalamnya tersembunyi ketakutan yang sangat dalam untuk kehilangan kontrol.

Ketika seseorang keluar dari cinta bukan karena kesadaran, tetapi karena luka, maka itu bukan spiritualitas, itu adalah trauma yang belum selesai. Itu bukan kebebasan, itu adalah penjara yang dibangun sendiri. Itu bukan pencerahan, itu adalah ketakutan yang dibungkus dengan bahasa suci. Luka yang tidak diselesaikan tidak membuat seseorang menjadi sadar, luka yang tidak diselesaikan hanya membuat seseorang menjadi tertutup, menjadi dingin, menjadi apatis terhadap cinta dan kehidupan.

Banyak orang yang tampak damai di permukaan, tetapi sebenarnya hanya mati rasa. Banyak orang yang tampak kuat, tetapi sebenarnya hanya takut terluka lagi. Banyak orang yang tampak mandiri, tetapi sebenarnya hanya tidak berani mencintai lagi. Mereka bukan melampaui cinta, mereka hanya melarikan diri dari cinta.

Karena cinta membutuhkan keberanian yang sangat besar. Keberanian untuk hancur. Keberanian untuk kehilangan. Keberanian untuk tidak menjadi siapa-siapa. Keberanian untuk mati sebagai ego dan lahir sebagai sesuatu yang baru. Tidak semua orang mampu melewati gerbang ini. Banyak yang mundur, banyak yang menyerah, banyak yang memilih aman di dalam kesendirian yang sebenarnya penuh ketakutan.

Karena itu, setiap orang harus jujur pada dirinya sendiri. Apakah benar kesendirian itu adalah kesadaran, atau hanya perlindungan dari luka. Apakah benar itu adalah kedamaian, atau hanya mati rasa. Apakah benar itu adalah kebebasan, atau hanya ketakutan yang disamarkan.

Kejujuran terhadap diri sendiri adalah gerbang awal. Tanpa kejujuran, semua hanya menjadi topeng. Dan banyak orang hidup seumur hidup di balik topeng itu, menyebutnya spiritual, padahal sebenarnya mereka hanya tidak pernah berani mencintai lagi.

**JEBAKAN TERSEMBUNYI DALAM RUMAH TANGGA: KETIKA KREDIT MENJADI PERANGKAP ENERGI FINANSIAL**Baru bangun tidur tadi pagi,...
08/02/2026

**JEBAKAN TERSEMBUNYI DALAM RUMAH TANGGA: KETIKA KREDIT MENJADI PERANGKAP ENERGI FINANSIAL**

Baru bangun tidur tadi pagi, saya dikagetkan dengan chat WhatsApp dari teman saya. Dia seorang ASN, dan katanya baru mengambil kredit senilai Rp200 juta yang digunakan untuk membeli tanah. Sekilas nampak sangat bagus, terlihat pintar dan cerdas secara finansial. Namun ketika kita lihat lebih dalam, ini adalah fenomena zaman milenial dan generasi sekarang.

Saya ingat sekali pada zaman bapak dan ibu kita dulu. Tidak ada orang yang meminjam uang ke bank semudah dan sesering sekarang. Dulu orang sangat berhati-hati dengan utang. Sekarang justru sebaliknya, utang menjadi sesuatu yang terlihat normal, bahkan dianggap sebagai bagian dari gaya hidup. Dengan sistem pemerintahan dan sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat, utang justru menjadi benjol di mana-mana. Ini bukan peningkatan kesejahteraan, melainkan sebuah proses yang terlihat membantu, tetapi sebenarnya mengikat.

Slogan bahwa perbankan membantu rakyat memang terdengar indah. Namun jika dilihat dari sudut pandang energi dan arus keuangan, sering kali ini menjadi mekanisme pengambilan energi secara sistematis. Bayangkan, seorang ASN yang hidupnya sudah stabil, gajinya tetap, dan memiliki berbagai insentif tambahan, tetap ditawari kredit dalam jumlah besar. Penawaran seperti ini terlihat seperti kesempatan, padahal bisa menjadi jebakan.

Saya juga pernah memiliki klien di wilayah pedesaan dengan penghasilan sekitar Rp12 juta per bulan. Secara logika, itu adalah penghasilan yang cukup besar untuk ukuran desa. Namun kenyataannya, hidupnya terasa sempit. Alasannya sederhana, dia pernah mengambil utang Rp500 juta, dan sampai hari ini belum selesai. Penghasilannya habis untuk angsuran, bisnis yang tidak berjalan sesuai rencana, dan berbagai kebutuhan lainnya. Inilah yang memicu tekanan, stres, dan konflik dalam rumah tangga. Karena pada akhirnya, masalah rumah tangga yang paling mendasar hampir selalu berawal dari masalah finansial.

Masalah ini terjadi karena sejak kecil kita tidak pernah diajarkan kecerdasan finansial yang esensial. Sekolah tidak pernah mengajarkan bagaimana mengatur arus uang, bagaimana memahami uang sebagai energi, dan bagaimana mengontrol energi tersebut. Padahal uang pada dasarnya adalah energi. Energi selalu bergerak, selalu masuk dan keluar. Tidak bisa hanya masuk tanpa keluar, dan tidak bisa hanya keluar tanpa masuk.

Seperti tubuh kita. Kita makan untuk memasukkan energi, dan kita mengeluarkan energi melalui aktivitas dan pembuangan. Jika energi tidak keluar, tubuh menjadi sakit. Jika energi tidak masuk, tubuh menjadi lemah. Uang juga demikian. Energi finansial harus bergerak. Namun pergerakan itu harus terarah dan menguntungkan, bukan justru menguras dan melemahkan.

Orang kaya bukanlah orang yang sekadar memiliki banyak uang, tetapi orang yang memiliki arus uang yang besar dan cepat. Seperti sungai. Sungai besar bukan karena airnya diam, tetapi karena arusnya kuat dan terus bergerak. Sebaliknya, sungai kecil memiliki arus yang lemah.

Di sinilah jebakan kredit sering terjadi. Kredit membuat arus energi menjadi terikat. Energi yang seharusnya bebas bergerak, menjadi terkunci dalam kewajiban jangka panjang.

Contoh kasus teman saya tadi. Dia meminjam Rp200 juta. Dipotong biaya awal Rp14 juta, dan harus membayar angsuran Rp3 juta per bulan selama 5 tahun. Total keuntungan pihak kreditur adalah Rp61 juta. Artinya, tanah yang dibeli harus naik nilainya lebih dari Rp61 juta hanya untuk mencapai titik impas. Jika kenaikannya di bawah itu, maka secara energi finansial dia sebenarnya rugi. Dan kita tahu, menjual tanah tidak selalu mudah dan tidak selalu cepat.

Inilah yang sering tidak disadari. Yang terlihat sebagai aset, sebenarnya bisa menjadi beban. Yang terlihat sebagai peluang, sebenarnya bisa menjadi pengikat.

Kesalahan dalam mengatur energi finansial inilah yang menjadi sumber kekacauan. Energi memang harus bergerak, tetapi cara menggerakkannya harus cerdas. Jika tidak, energi itu justru akan menguras kita.

Saya memahami hal ini bukan hanya dari teori, tetapi dari pengalaman pribadi. Saya pernah terjebak dalam utang, dan saya tahu bagaimana tekanan mental dan emosional yang ditimbulkannya. Stres, ketidaktenangan, dan tekanan hidup menjadi nyata.

Bank tidak meminjamkan uang kepada orang yang benar-benar miskin. Bank meminjamkan uang kepada orang yang memiliki aset, memiliki penghasilan, dan memiliki kemampuan membayar. Karena di situlah sumber keuntungan mereka. Semakin besar energi yang dimiliki seseorang, semakin besar p**a potensi energi itu diambil melalui sistem.

Oleh karena itu, dalam rumah tangga, kecerdasan finansial adalah fondasi utama. Tanpa kecerdasan finansial, stabilitas rumah tangga akan sangat mudah terguncang. Bukan karena kurang penghasilan, tetapi karena salah mengatur arus energi finansial.

Inilah alasan mengapa saya merasa penting untuk mencerdaskan masyarakat dalam memahami energi finansial. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membuka kesadaran. Agar orang tidak terjebak dalam siklus yang melemahkan.

Dengan pemahaman yang benar, Anda dapat keluar dari siklus jebakan finansial, mengendalikan arus energi uang Anda, dan membangun stabilitas rumah tangga yang lebih kuat.

Karena pada akhirnya, rumah tangga yang kuat bukan ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, tetapi oleh kemampuan mengelola dan mengendalikan energi finansial dengan sadar dan cerdas.

**BUMI INI ARENA GLADIATOR, BUKAN TEMPAT UNTUK DIKASIHANI**Anda tidak akan dikasihani. Jadi, jangan berharap dikasihani ...
07/02/2026

**BUMI INI ARENA GLADIATOR, BUKAN TEMPAT UNTUK DIKASIHANI**

Anda tidak akan dikasihani. Jadi, jangan berharap dikasihani oleh orang lain.

Karena apa?

Karena kehidupan ini adalah arena gladiator. Arena permainan yang kejam.

Ketika kaki anda patah di dalam permainan gladiator, anda tidak akan ditolong; tapi anda akan ditusuk.

Ketika anda lemah, anda akan dihancurkan.

Dan semakin anda kuat, anda semakin menguasai permainan.

Itulah kondisi di bumi ini.

Jadi stop. Berhenti untuk kepingin dikasihani orang, kepingin ditolong orang, atau kepingin dianggap orang.

Karena di bumi ini adalah arena gladiator.

Siapa yang berkuasa, dia yang akan menang.

Siapa yang lemah, dia akan dihancurkan.

Meskipun secara teori, secara konsep, secara pemahaman, orang harus cinta kasih, orang harus menolong.

Mana ada.

Itu omongan saja.

Misalkan ada orang vegetarian, katanya dia tidak membunuh sesuatu karena dia cinta kasih.

Faktanya bagaimana?

Dia juga membunuh bakteri ketika ada luka di tubuhnya.

Kenapa dia mengobati luka itu?

Karena dia membunuh bakteri.

Petani juga membunuh banyak hewan.

Tidak hanya ribuan, bisa jutaan; cacing, mikroorganisme, dan sebagainya.

Apakah itu bentuk cinta kasih?

Tentu saja tidak.

Artinya apa?

Bahkan orang yang merasa paling tidak membunuh pun, tetap membunuh.

Siapa yang lemah, dia akan dikalahkan.

Bukan ditolong.

Siapa yang kuat, dia akan diperkuat.

Ini hukum energi.

Energi itu begini;

Semakin anda kuat, semakin anda ditolong.

Semakin anda lemah, semakin anda dihantam.

Semakin anda mengeluh, semakin anda lumpuh.

Dan ketika anda semakin kuat, semakin kokoh, semakin berdaya; anda akan semakin ditambahkan kekuatan.

Contoh real.

Kenapa orang memberikan sesuatu kepada orang yang sudah kuat?

Kenapa perusahaan besar semakin kaya?

Kenapa anda memberikan uang kepada Honda, kepada Toyota, kepada perusahaan besar?

Karena mereka kuat.

Karena mereka sudah kaya.

Dan ketika mereka punya banyak uang, anda akan memberikan lebih banyak uang lagi kepada mereka.

Dan ketika anda tidak punya banyak uang, uang anda justru mengalir ke mereka.

Itulah hukum energi.

Jadi hukum energi dan hukum logika itu tidak sama.

Secara logika, orang lemah harus ditolong.

Tapi secara energi, orang lemah akan dilemahkan.

Dan orang kuat akan dikuatkan.

Contohnya perbankan.

Bank tidak akan meminjami anda kalau anda miskin.

Bank hanya meminjami orang yang sudah kaya.

Semakin kaya anda, semakin mudah anda meminjam.

Bahkan tanpa jaminan.

Tapi kalau anda miskin, anda harus menunjukkan jaminan.

Artinya apa?

Yang ditolong bukan yang butuh.

Yang ditolong adalah yang sudah kuat.

Pahamilah ini.

Berhentilah menangis.

Berhentilah berharap dikasihani.

Berhentilah berharap ada orang yang akan menolong anda karena cinta kasih.

Itu bu****it.

Itu mimpi di siang bolong.

Ketika anda terpuruk, anda akan dihantam.

Ketika anda lemah, anda akan dihancurkan.

Bukan ditolong.

Karena ini arena gladiator.

Ini hukum energi.

Tidak ada salah, tidak ada benar.

Tidak ada baik, tidak ada buruk.

Yang ada hanya kuat dan lemah.

Jadi jangan lemah.

Jangan pernah menjadi lemah.

Anda harus kuat.

Anda harus tangguh.

Anda harus kokoh.

Dan hal pertama yang harus anda miliki adalah keyakinan;

Bahwa anda kuat.

Meskipun kondisi anda lemah.

Bahwa anda utuh.

Meskipun anda sendirian.

Bahwa anda tidak butuh siapa pun.

Karena kehidupan ini bukan soal dikasihani.

Kehidupan ini adalah permainan energi.

Dan hanya yang kuat yang akan bertahan.

**GURU-GURU CINTA ITU ENAK NGOMONG, TAPI TIDAK SEMUA PERNAH TERBAKAR**Saya lihat guru-guru yang ada  itu ngomong itu san...
07/02/2026

**GURU-GURU CINTA ITU ENAK NGOMONG, TAPI TIDAK SEMUA PERNAH TERBAKAR**

Saya lihat guru-guru yang ada itu ngomong itu sangat enak sekali, ya. Ada yang ngomong; kamu harus mencintai diri kamu sendiri, penuhi diri kamu sendiri; setelah itu kamu tidak akan tergantung pada cinta dari luar.

Itu tahi kucing.

Itu bu****it, menurut saya.

Kenapa?

Karena tidak sesederhana itu, bro.

Orang enak aja ngomong, kalau tidak ngalamin; tinggal berteori, bacot, kemudian asal ngomong. Mungkin baca buku, atau apa, kemudian diomongkan.

Kalau kita sudah mengalami sesuatu, pengalaman langsung; itu tidak sama dengan bacaan. Tidak sama dengan teori.

Tidak sesederhana itu.

Namanya kehidupan itu tidak sesimpel itu.

Namanya hati, atau batin, itu tidak semudah itu untuk diarahkan.

Proses perjalanannya tidak seperti yang dikatakan, hanya lewat omong-omong saja.

Ketika anda sudah mengalami yang namanya jatuh cinta, misalkan; itu tidak sesuai teori. Tidak sederhana seperti yang dikatakan.

Semua itu harus dialami.

Semua itu harus dirasakan sendiri.

Baru anda bisa tahu.

Baru anda bisa ngerti.

Kesadaran apa pun, setinggi apa pun; kalau sudah jatuh cinta, jadi bego.

Jadi bloon.

Dia bisa jadi orang gila.

Dia lupa teori.

Dia lupa konsep.

Semua yang dia pelajari; runtuh.

Makanya saya kadang bertanya; orang-orang itu, para guru yang tampil itu, apa mereka benar-benar pernah mengalami?

Atau mereka hanya bicara saja?

Mereka hanya asal ngomong saja?

Saya tidak tahu alasan mereka apa.

Tapi yang jelas; kalau kita mengalami sendiri, itu berbeda dengan apa yang diomongkan.

Berbeda dengan apa yang diceritakan.

Cinta itu tidak sederhana.

Bahkan Jalaluddin Rumi saja bilang; kalau kamu mencintai dan kamu belum sampai gila, kamu masih waras; berarti kamu belum benar-benar jatuh cinta.

Artinya apa?

Artinya cinta itu menghancurkan teori.

Cinta itu menghancurkan logika.

Cinta itu menghancurkan kendali.

Orang kalau sudah jatuh cinta; teori tidak ada artinya.

Sama seperti ketika orang mengalami penderitaan.

Teori tidak berguna.

Konsep tidak menolong.

Semua itu hilang.

Kehidupan itu random.

Kehidupan itu alami.

Ketika anda lapar; anda butuh makan.

Ketika anda butuh makan; anda tidak peduli teori.

Anda bergerak.

Anda mencari.

Anda bertahan.

Itu alami.

Bukan teori.

Teori-teori itu; sebetulnya hanya menjadi penghiburan.

Menjadi obat bius.

Menjadi pegangan sementara bagi orang yang bingung.

Bukan realitas.

Realitas itu pengalaman.

Realitas itu benturan langsung.

Realitas itu luka langsung.

Anda harus mengalami sendiri.

Bukan mendengar.

Bukan membaca.

Bukan menonton.

Mengalami.

Dan nanti, ketika anda sudah sampai di sana; anda akan tahu.

Bahwa semua yang diceritakan itu tidak semanis itu.

Tidak seenak itu.

Tidak sesederhana itu.

Dan anda akan sadar;

Betapa mudahnya orang bicara;

Ketika mereka tidak terbakar.

ANDA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR BERKUASA, ANDA HANYA DIIZINKANSaya yakin banyak sekali mentor manifestasi, ilmu untuk mewu...
07/02/2026

ANDA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR BERKUASA, ANDA HANYA DIIZINKAN

Saya yakin banyak sekali mentor manifestasi, ilmu untuk mewujudkan sesuatu, yang tersebar di sosial media, yang dikatakan seperti sangat mudah. Dan mereka yang pintar-pintar, yang sangat percaya diri bahwa mereka bisa mewujudkan apa pun, bahwa begitu kita mengikuti kelasnya, semuanya akan terjadi.

Saya berani menjamin bahwa apa yang disampaikan itu kadang-kadang banyak yang tidak sama dengan kenyataan. Artinya, yang disampaikan di media, yang nampaknya begitu mudah, yang namanya begitu gampang untuk terwujud, ternyata setelah mengikuti kelasnya tidak seperti ekspektasi yang anda inginkan.

Ini juga kemungkinan tidak dipahami oleh mentor-mentor tersebut. Karena apa? Ada satu hal yang itu mempengaruhi manifestasi anda, apakah itu terwujud atau tidak. Satu hal inilah yang sulit untuk dipastikan, karena ini di luar diri kita, atau faktor eksternal.

Saya menyebutnya faktor eksternal yang murni, tidak bisa kita kendalikan.

Secara logika saja, ketika ada dua orang, yang satu memiliki energi yang kecil, yang satunya memiliki energi yang besar, maka tentu saja energi yang kecil ini akan terdominasi oleh energi yang besar. Misalnya, anda memiliki keinginan untuk menuju ke barat, kemudian ada seseorang yang menginginkan anda untuk berjalan ke timur. Mana yang akan berhasil? Ini tergantung dari siapa energinya yang lebih besar.

Nah, kemudian ini sesama manusia saja, yang jeda energi sedikit saja, itu sudah bisa mempengaruhi orang lain, tergantung seberapa besar energi orang tersebut. Kalau orang tersebut energinya lebih besar, maka dia akan bisa mempengaruhi orang lain.

Nah, ini saja manusia bisa melakukan hal tersebut. Apalagi faktor eksternal yang saya maksud, yang sebetulnya energinya itu sangat besar. Ya, bisa dikatakan 40%.

Nah, jadi ahli-ahli manifestasi yang selama ini bertebaran di sosial media, yang mengatakan dia bisa manifestasi, yang mengatakan dia itu menciptakan, yang beberapa keinginannya itu terwujud, itu sebetulnya tidak murni karena ilmu manifestasinya yang berhasil. Tetapi, ibarat kata, dia hanya lagi beruntung, lagi dikasih cuan, ibaratnya seperti itu.

Oleh karena itu, ketika ilmu-ilmu ini dipraktekkan oleh orang lain, yang dia tidak diberi keberuntungan, atau tidak diberi kehasilannya oleh faktor eksternal tadi, maka ia tidak berhasil, meskipun prakteknya sudah benar, meskipun sudah tepat, seperti itu.

Tapi bukan berarti teori-teori dan konsep-konsep manifestasi yang diajarkan itu salah. Itu tidak bernilai salah. Tetapi ada faktor eksternal yang mempengaruhi, yang kita harus paham. Dan itu hampir tidak dijelaskan di guru mana pun.

Hanya di saya. Hanya saya yang mengetahui hal ini.

Atau guru-guru ini bisa saja tahu, tapi tidak mengatakan. Atau yang sebenarnya, mereka tidak tahu menahu tentang hal ini. Dan ini yang sangat parah sekali.

Oleh karena itu, manifestasi itu tidak bersifat mutlak, tapi bersifat random, ibaratnya. Atau seperti anda di sebuah negara. Kalau anda menginginkan sesuatu, kalau presidennya setuju, ya berarti anda dapat. Kalau tidak setuju, ya tidak dapat. Sesimpel itu.

Tetapi guru-guru manifestasi ini, mereka hanya mengetahui bahwa faktor yang membuat manusia itu bisa mewujudkan atau tidak itu hanya program pikiran, hanya mental block yang menghalangi, dan sebagainya.

Sebetulnya kita itu sedang salah sangka.

Mental block memang ada. Program pikiran yang salah memang mempengaruhi. Leluhur memang juga mempengaruhi, dan sebagainya. Tapi tidak sesimpel dan sesederhana itu.

Meskipun semuanya itu sudah clear, belum tentu anda bisa mewujudkan manifestasi.

Kenapa?

Karena ada faktor eksternal yang mempengaruhi, yang energinya lebih besar.

Manusia itu hanya energinya satu sampai dua persen saja. Manusia modern, secara energi, kalau dihitung, itu satu sampai dua persen saja.

Ketika itu menghadapi manusia lain yang dia lebih cerdas, yang dia lebih jenius, yang dia memiliki energi misalnya tiga persen, itu saja pasti yang dua persen sudah kalah. Karena siapa yang lebih besar, dia akan mendominasi.

Seperti itu.

Jadi, kalau misalkan ada dua orang dukun, atau ahli supranatural, yang satu kepingin hujan, yang satu kepingin tidak hujan, ini yang terwujud yang mana?

Nah, yang terwujud adalah siapa yang energinya lebih besar.

Kalau keinginannya bertolak belakang, maka yang terwujud adalah yang lebih besar energinya.

Nah, bagaimana ceritanya kita sebagai manusia, yang memiliki energi hanya satu sampai dua persen, berhadapan dengan makhluk yang memiliki energi 40%?

Hampir mustahil untuk kita bisa menang.

Jadi, kalau kita menang, itu sebetulnya lagi dikasih saja. Lagi diberi. Lagi dikasih harmoni. Lagi diberikan kasih.

Oleh yang punya energi lebih besar tersebut.

Dan ini tidak diketahui.

Makanya, mungkin mereka juga pada bingung. Mungkin mereka juga pada panik. Kenapa manifestasi itu ada yang berhasil, ada yang gagal, ada yang ditolak, ada yang diterima, padahal caranya sudah tepat.

Jadi, kita tetap harus belajar ilmu manifestasi, kalau ingin mewujudkan sesuatu, agar lebih terukur, agar lebih presisi.

Tetapi ada satu hal yang anda harus paham.

Bahwa ada faktor eksternal yang mempengaruhi manifestasi anda.

Bukan karena manifestasi atau praktek manifestasi anda salah.

Tetapi karena ada yang mempengaruhi dari luar, dan energinya itu lebih besar.

Maka hampir mustahil anda bisa menang.

Seperti itu.

Jadi, kalau anda itu misalkan orang yang hanya gajinya tiga juta, dan kepingin membeli sesuatu, dan musuh anda itu adalah orang yang memiliki uang sepuluh miliar rupiah, tentu saja anda kalah.

Karena orang yang punya daya lebih, itu akan bisa menguasai permainan.

Seperti itu.

Nah, inilah yang tidak dijelaskan di dalam ilmu manifestasi.

Makanya kita tidak bisa sombong dalam manifestasi.

Kita tidak bisa sombong.

Orang kaya juga tidak bisa sombong.

Kenapa?

Karena itu hanya dikasih saja.

Itu lagi dikasihani.

Dan kenapa itu dikasihani, itu juga ada sebabnya.

Seperti itu.

Nah, inilah fakta-fakta yang tidak dijelaskan di guru-guru manifestasi.

Entah karena mereka tidak mau ngomong.

Atau malah justru mereka tidak tahu menahu tentang hal ini.

Dan ini yang sangat parah sekali.

Address

Gembong Pati Jateng
Pati
59162

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Meditasi Tantra posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Meditasi Tantra:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram