Humanika

Humanika Tempat Terapi Anak
Biro Layanan Psikologi
Aida Malikha, S.Psi, M.Si, Psikolog Lembaga Konsultasi Psikologi dan Psikoterapi yang bersahabat dan terpercaya

Memanjakan Anak, Berujung Phobia?Apakah ada hubungan memanjakan anak dengan phobia? Ada. Ketika pola asuh memanjakan dil...
04/06/2018

Memanjakan Anak, Berujung Phobia?
Apakah ada hubungan memanjakan anak dengan phobia?
Ada. Ketika pola asuh memanjakan dilakukan dalam keluarga pada saat anak masih berusia balita, maka saat remaja dan dewasa anak berpeluang mengalami phobia atau ketakutan dan kecemasan luar biasa terhadap suatu obyek yang secara obyektif tidak harus menimbulkan rasa takut.

Memanjakan yang seperti apa yang berpeluang memperburuk phobia?
Dan, mengapa usia balita itu crucial?

Memanjakan anak, biasanya didasari oleh keinginan melindungi anak secara berlebihan dengan menghindarkan anak dari rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional. Orangtua yang memanjakan seringkali tidak sanggup mendengarkan tangisan anaknya, tak tahan melihat anak yang kecewa dan sedih serta tak tahu cara menolak keinginan anak selain memenuhinya. Yang tidak disadari adalah pola asuh memanjakan ini, membuat anak menjadi "lumpuh" secara imajiner, sehingga anak tak mampu membantu dirinya sendiri. Ia punya tangan tapi terbiasa disuapi, ia punya kaki tapi terbiasa digendong, ia punya pikiran tapi tak diajak berpikir dan berdiskusi, ia punya hati tapi tak diajak untuk berempati.

Karena "dibuat lumpuh" maka ia menjadi betul-betul tidak berdaya ketika menghadapi kesulitan yang sesungguhnya secara obyektif pada usia tersebut seharusnya sudah bisa ia atasi.

Misalnya, pada usia balita anak sudah perlu melakukan sensory integration atau menyeimbangkan dan mengkoordinasikan seluruh sensori yang dimilikinya. Ia dapat melihat dan membedakan bentuk. Ia dapat mengenali berbagai macam suara/bunyi. Ia dapat mencium beragam bau dan mengecap beragam rasa. Ia dapat menyentuh berjenis tekstur. Ia dapat mengendalikan sendi juga menyeimbangkan tubuhnya.

Kematangan sensori dipengaruhi oleh perkembangan syaraf dan juga sejauh mana ia dilatih untuk mengembangkannya. Oleh karena itu seorang balita perlu diperkenalkan pada sebanyak-banyaknya stimulus sensori. Selain menghadapi stimulus yang biasa ditemuinya sehari-hari, ia juga perlu diperkenalkan pada stimulus yang mungkin jarang ditemuinya. Misalnya, berjalan di lantai kasar berbatu dan di atas tanah yang basah dan licin. Mendengar suara bising stasiun kereta, hiruk pikuk keramaian pasar dan bahkan malam yang hening di sebuah desa. Mencium aroma khas pasar ikan dan pasar tradisional. Melihat gambar geometris yang kaku dan wajah-wajah orang yang asing. Mengunyah makanan yang bertekstur lembek dan sayuran yang dingin serta agak pahit. Berada di tempat yang tinggi dan bergerak seperti lift dan eskalator. Semuanya perlu dirasakan.

Setiap stimulus sensori yang baru akan membuatnya merasa kurang nyaman. Saat itu maka emosinya akan terpicu. Dalam kadar tertentu, anak perlu belajar untuk mengendalikan emosinya. Bila anak menangis, marah, cemas karena kurang nyaman terhadap suatu stimulus sensori, maka menghindari stimulus tersebut bukanlah cara yang bijak, karena anak tidak diberi kesempatan untuk menguatkan kendali dirinya. Cara menghindarkan stimulus yang tidak menyenangkan ini yang kerap dipilih oleh orangtua yang memanjakan anaknya. Daripada anak rewel karena berbelanja di pasar tradisional yang gerah, becek, hiruk pikuk dan bising, orangtua memilih untuk berbelanja di supermarket. Atau daripada anak tidak makan karena sulit menelan daging yang kenyal, maka lebih baik makanan diblender.

Pola menghindari stimulus yang tidak nyaman secara terus menerus akan membuat anak "lumpuh" dan kehilangan kesempatan belajar mengendalikan emosinya. Sementara saat usianya bertambah besar, maka stimulus akan semakin kuat dan boleh jadi ada beberapa situasi di mana ia tidak bisa menghindarkan diri. Perasaan tidak berdaya membuatnya merasa gagal dan bila itu berlangsung terus menerus terutama bila diiringi dengan libatan emosi yang sangat kuat maka dapat menimbulkan kecemasan juga phobia pada stimulus-stimulus tertentu.

Bila memanjakan itu membuat 'lumpuh', tak berdaya, cemas dan bahkan phobia. Masihkah kita tetap akan memanjakan balita kita?

*notes:
- Untuk ABK (anak-anak berkebutuhan khusus) yang biasanya memang memiliki keterbatasan pada beberapa aspek SI (Sensory Integration), maka pengelolaannya membutuhkan pendekatan lebih khusus.

- Phobia bisa dipengaruhi sebab lain selain pola asuh yang kurang tepat. Seperti pengalaman traumatis atau kondisi bawaan (gangguan emosi berat)

*Edited from Yeti Widiati’s Facebook

Humanika Psychology & Therapy Center
menerima:
- Kelas half day/full day Sekolah ABK Humanika
- Terapi wicara, terapi perilaku, terapi okupasi dan terapi sensori integrasi ABK
Untuk info lebih lanjut, ayah bunda bisa menghubungi Humanika di 0822 5777 2221

*Sekolah ABK Humanika*Humanika Psychology Center yang dipimpin oleh ibu Hj. Aida Malikha, M.Si, Psikolog,  membuka sekol...
15/05/2018

*Sekolah ABK Humanika*

Humanika Psychology Center yang dipimpin oleh ibu Hj. Aida Malikha, M.Si, Psikolog, membuka sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Bertempat di lantai dua gedung Humanika yg terletak di jalan arifin ahmad no. 4, Humanika menyediakan fasilitas kelas yang nyaman dan memadai untuk buah hati ibunda dalam membantu mengatasi gangguan perkembangan dan mengoptimalkan potensi diri. Dididik oleh guru profesional yang menguasai bidangnya yang fokus pada pengembangan kebutuhan yang dibutuhkan oleh usia anak. Ada dua jenis program yang tersedia, yaitu program full day dan half day. Ayah/bunda bisa memilih program sesuai dengan kebutuhan.

Sebelum membuka sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Humanika telah menyediakan layanan terapi wicara, terapi perilaku, terapi okupasi dan terapi sensori integrasi bagi ABK sejak awal 2016. Ayah dan bunda bisa mempercayakan sekolah ananda di Sekolah ABK Humanika. Untuk info lebih lanjut, ayah bunda bisa menghubungi Humanika di 0822 5777 2221

INDIKATOR REMAJA DENGAN HARGA DIRI RENDAH - ywsBerdasarkan obserasi klinis yang dilakukan oleh Diana-Lea Baranovich (Psi...
18/10/2017

INDIKATOR REMAJA DENGAN HARGA DIRI RENDAH - yws
Berdasarkan obserasi klinis yang dilakukan oleh Diana-Lea Baranovich (Psikolog-Play Therapist), ia menemukan trait-trait yang diasosiasikan dengan remaja yang memiliki harga diri rendah.
- Merendahkan orang lain dengan mengejek, membuat julukan-julukan dan bergosip (membicarakan keburukan orang di belakang)
Remaja yang harga dirinya rendah tak berani bicara apa adanya dan menerima konsekuensi dari kejujuran. Ia juga cenderung menyerang terlebih dahulu (dengan merendahkan orang lain) sebagai reaksi terhadap hal yang dipandang ancaman.
- Menggunakan gesture/gerak tubuh yang berlebihan dan tidak sesuai konteks atau situasinya (out of context)
Berusaha untuk menunjukkan kelebihan diri sebagai cara menutupi kekurangannya.
- Kebutuhan akan sentuhan yang berlebihan atau bahkan sebaliknya menghindari kontak fisik.
Merupakan kelanjutan dari problem attachment yang berlangsung saat masa bayi hingga masa anak.
- Menyombongkan prestasi, ketrampilan dan penampilan berlebihan
Usaha pertahanan diri untuk menutupi kelemahan
- Merendahkan diri secara verbal (self-depriciation)
Secara berlebihan dan terus-menerus mendegradari kekurangan diri atau sesuatu yang dipersepsi sebagai kekurangan diri.
- Berbicara terlalu keras, kasar dan memaksa
Sama seperti kesombongan, ini juga bentuk reaksi menyerang terhadap hal yang dipandang sebagai ancaman
- Berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain untuk mencari tempat yang paling cocok
Identitas diri belum terbentuk, sehingga masih mencari teman dan tempat yang dianggap sesuai.
- Beresiko menjadi penyendiri dan menghabiskan waktu sepanjang hari di kamarnya
Tak berani mencoba dan mengeksplorasi hal baru, dan takut terhadap konsekuensi dari pertemanan dan kegagalan.
- Beresiko menjadi adiktif di media sosial
Kelanjutan dari menyendiri, namun tetap memiliki kebutuhan berinteraksi. Sehingga akhirnya melakukan stalking dan penjelajahan di dunia maya.
- Riskan untuk bergabung dengan kelompok yang kurang baik
Tidak trampil memilih dan kebutuhan diterima lingkungan yang cukup besar berpeluang membuatnya salah memilih teman dan kelompok.
- Mengubah penampilan dan gaya rambut terlalu sering sebagai usaha untuk mencari jati diri.
*Sumber tulisan: Understanding and Mentoring the Hurt Teenager, Diana Lea Baranovich (terjemahan dengan tambahan penjelasan)

Reposted from Yeti Widiati’s facebook

BERHENTILAH MENGKRITIK....Masih yakin ada kritik yang membangun ?Saya dulu sering mengkritik orang lain, dengan asumsi m...
09/10/2017

BERHENTILAH MENGKRITIK....
Masih yakin ada kritik yang membangun ?
Saya dulu sering mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut saya, saya sendiri sudah merasa benar dan orang yang saya kritik salah.
Mengapa dulu saya sering mengkritik orang lain?
Karena sy percaya dan banyak orang percaya bahwa kritik itu Membangun.
Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak apa asalkan Kritik Membangun.
Setelah usia semakin bertambah, dan saya mulai tertarik untuk belajar tentang buku2 kebijaksanaan, saya terbelalak bahwa sebagian besar buku2 Wisdom mengatakan bahwa sesungguhnya TIDAK ADA kritik yang MEMBANGUN, semua kritik itu bersifat menghancurkan, merusak dan menekan perasaan orang yang dikritiknya.
Sampai suatu ketika saya membaca buku hasil experimen Masaru Emoto dari Jepang, yang melakukan uji coba nasi/beras yang kemudian diletakkan di dalam toples yang berbeda.
Toples yang pertama setiap hari di berikan kritikan terus dan di tempel kertas bertulisan kata yang mengkritik, kemudian toples yang kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.
Dan hasilnya dalam 2-3 minggu, toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman sedangkan toples kedua dengan isi yang sama masih berwarna putih bersih tak membusuk.
Penasaran pada penjelasan di buku ini, akhirnya sy meminta para guru di sekolah kami utuk melakukan experimen ini bersama para murid di sekolah. Ternyata benar hasilnya lebih kurang serupa.
Toples yang setiap hari diberikan keritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk. Dan di sekolah kami mengajarkan para siswa melalui experimen ini agar tidak mengejek, menhujat atau mengkritik sesama teman, dan melatih mereka untuk bicara baik-baik yang tidak mengkritik.
Dan sejak itulah saya belajar untuk tidak mekritik orang lain, terutama anak dan istri saya.
Dan percaya atau tidak hasilnya di luar dugaan, Istri saya jadi jauh lebih perhatian dan wajahnya lebih berbinar dan anak-anak saya jauh lebih baik, ganteng, kooperatif dan sayang pada ayahnya.
Apa yang saya ubah dari diri saya sehingga anak dan istri saya berubah?
Saya ganti kalimat sy yang mengkritik istri dan anak saya dengan ucapan terimakasih padanya setiap kali mereka berbuat kebaikan.
Saya berterimakasih pada istri dan anak saya dan memujinya dan sering kali sambil memeluknya, saat mereka berhasil berhenti dari kebiasaan yang kurang baik.
Yuk mari kita renungkan, malah kalau perlu kita coba melakukan experiment yang sama bersama anak-anak dirumah atau murid-murid kita di sekolah.
So..... masihkah kita percaya bahwa KRITIK ITU MEMBANGUN ?
Masihkah kita percaya ada KRITIK YANG MEMBANGUN?
Masihkah kita mau mengkritik orang lain, terutama istri dan anak-anak kita..?
Tentu saja pilihan itu terserah pada diri kita masing-masing karena hidup ini adalah pilihan bebas berikut konsekuensinya masing-masing.
Tapi coba rasakan dan ingat-ingat lagi apakah dengan sering mengkritik orang lain akan membuat orang yang kita kritik menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya balik mengkritik kita...?
Dan coba lihat apa yang ada rasakan di hati kita pada saat kita sedang dikritik oleh orang lain? Nah perasaan yang sama itulah yang juga akan dirasakan oleh orang lain yang kita kritik.

cipied from ayah edy account

07/10/2017

Psikologi anak angkat

Istilah ANAK PUNGUT, ANAK ANGKAT (Anak Pulung = Sunda) ditemukan dalam kultur Nusantara. Kata PUNGUT menunjukkan bahwa ada benda tercecer di tanah tak jelas siapa pemiliknya lalu oleh orang yang melihatnya dan tertarik lalu diambil. Penggunaan kata ANGKAT dalam anak angkat menjelaskan bahwa si anak tadinya berada di bawah lalu ada gerakan mengambilnya dan menaikkannya ke atas. Baik dalam kata pungut atau angkat, tersirat makna bahwa seseorang naik posisi dari hina menjadi mulya, dari di bawah menjadi unggah.

DI tradisi Nusantara, minimal di daerah dengan budaya Betawi, Baduy, Parahiangan, Jawa, Batak ada ragam bentuk Anak Pungut ini. Pertama ada anak yang oleh kedua orangtuanya karena miskin atau alasan lainnya ditaruh di depan rumah seseorang yang menurut persepsi mereka sedang menginginkan anak dan akan memberikan kasih sayang kepada anak ini. Kedua, ada pasutri yang belum memiliki anak mendatangi seseorang yang dalam keadaan hamil besar atau memiliki anak yang masih bayi dan mengungkapkan keinginannya untuk mengurus anak. Pada kasus kedua waktu saya kanak-kanak ada tradisi anak tersebut diletakkan dalam keranjang oleh orangtua kandungnya, lalu ditinggalkan, dan kemudian orangtua angkatnya mengambilnya. Saat itu saya mencermati istilah "anak pungut" atau "anak angkat" menggambarkan peristiwa yang sebenarnya.

Dari sisi orangtua angkat, ada ragam tipe orangtua angkat. Pertama orangtua angkat yang sangat berharap memperoleh ansk, dan menjadikan anak pungut sebagai anak kandungnya, bahkan memandang sama dengan anak kandungnya. Kedua orangtua angkat yang menjadikan anak pungut hanya sebagai pemancing, sehingga saat memiliki anak kandung, perlakuannya berubah dan berkurang perhatian serta kasih sayangnya kepada anak pungut.

Apa yang terjadi pada diri anak pungut? Hal yang paling rawan di anak pungut adalah tema-tema berkaitan dengan Self Esteem / Self Worth / Harga diri. Meskipun orangtua angkat sangat rapat menutupi asal-usulnya, ada saja pihak lain yang membukanya. Saat anak pertama kali tahu bahwa ia adalah anak pungut, emosi yang seringkali muncul adalah "kecewa, sedih, marah, kesal, malu". Tak mudah bagi mereka mengatasi perasaan ini. Pada masa itu mereka perlu penghargaan, perlu pengasuhan, sentuhan, kepedulian, dan perhatian penuh.

Akan seperti apa harga diri anak pungut terbangun? Tergantung kesiapan ketangguhan kesabaran dan niat dari orangtua angkat. Orangtua angkat yang bersungguh-sungguh ingin memiliki anak, ia berusaha memperlakukan anak angkatnya seperti layaknya anak yang lahir dari rahimnya sendiri, mau menerima keunikan anak tanpa memepermasalahkannya, dan membimbing sang anak untuk menemukan hal yang membuatnya tumbu, berkembang dan mandiri. Meski sedikit saya sempat bertemu dengan orangtua angkat denogan tipe ini.

Di sisi lain ada orangtua angkat yang tidak sepenuh hati saat memiliki anak angkat. Ia memberi dengan syarat. Orangtua angkat tak jarang memandang anak angkat sebagai beban alih-alih sebagai anak yang perlu memperoleh pengasuhan dan kasih sayang. Hubungan orangtua angkat dengan anak angkat tidak begitu baik, sehingga anak angkat memilki harga diri yang rendah, dan sukar untuk me jadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Perjuangan para anak angkat menemukan dirinya , membangkitkan kepercayaan dirinya, sungguh luar biasa. Terlebiih bagi para anak angkat yang dalam perjalanan hidupnya mengetahui orangtua sebenarnya, dan mampu membandingkan kehidupan, kasihi sayang, kepedulian antara orangtua kandung dan orangtua angkatnya. Kurangnya penjelasan, hidupnya sang anak dengan pemikirannya sendiri yang belum tentu benar, pikiran-pkiran diatorsi seputar "betapa mlangnya saya", membuat tak sedikit dari anak angkat menunjukkan gejala-gejala menarik diri dari kehidupan sosial, dan memandang masyarakat tidak aman, dan tidak dapat dipercaya.

Dari pergaulan dengan teman-teman yang menjadi anak angkat, saya menemukan sungguh perjuangan mereka untuk menemukan jati diri, nyaman dengan diri sendiri dan mampu menemukan hal yang terbaik untuk diri sendiri tidaklah mudah. Sebagian perjuangan para sahabat ini adalah dengan ragam "unfinished business" di masa lalu, khususnya pada masa kanak dan remaja. Ada p**a yang perjuangannya hingga usia dewasa, khususnya ketika sang orangtua angkat dan atau orangtua kandung meninggal dunia. Tak jarang mereka ini mendapatkan perlakuan yang tak adil, kehilangan hak waris dari orangtua kandung, dan tersisihkan dari hak pewarisan dari keluarga orangtua angkat.

Memang tidak mudah menjadi anak angkat, dan sungguh tidak mudah menjadi orangtua angkat yang dapat memberikan pengasuhan sehingga anak angkatnya menjadi anak yang mandiri, percaya diri, dan berbakti.

Pun sapun ampun paralun
Asep Haerul Gani
Copied from Yeti Widiati's post

PERTAHANAN DIRI YANG MATANG DAN ADAPTIF - yws(Konteks berespon terhadap stress)Setiap makhluk hidup akan berusaha memper...
27/09/2017

PERTAHANAN DIRI YANG MATANG DAN ADAPTIF - yws
(Konteks berespon terhadap stress)

Setiap makhluk hidup akan berusaha mempertahankan dirinya dari kehancuran. Ini adalah mekanisme alamiah yang dilakukan nyaris tanpa proses berpikir. Secara biologis, ketika orang makan, minum dan berhubungan seks, itu pun juga adalah upaya untuk mempertahankan diri. Orang lari menghindar dari bahaya atau sebaliknya balas menyerang untuk membela diri, semuanya pun juga dimaksudkan untuk mempertahankan diri. Bayi dilengkapi dengan refleks "grasp" (tangan mencengkeram) itu pun adalah dasar dari pertahanan diri.

Dalam psikologi, ketika seseorang menghayati serangan kepada dirinya, misalnya berupa ejekan, yang dihayati sebagai ancaman untuk menghancurkan harga diri, maka orang pun otomatis akan melakukan mekanisme pertahanan diri, misalnya dengan menarik diri atau menjauh dari orang yang mengejek, atau sebaliknya membalas mengejek yang seringkali dengan konten yang lebih tajam. Bisa juga membalas dengan cara pasif agresif, menghancurkan tapi dari belakang. Membicarakan dan menyebar keburukannya "di belakang" adalah cara-cara pasif agresif karena tidak berani berhadapan langsung tapi begitu ingin membalas. Cara-cara seperti ini tidak menimbulkan kenyamanan pada diri, kenyamanan pada orang lain dan sekaligus tidak produktif dalam penyelesaian masalah.

Oleh karena itu selama mekanisme pertahanan diri (Defense Mechanism) menimbulkan emosi negatif yang membuat tidak nyaman pada semua pihak, dan malah memperburuk serta mempersulit penyelesaian masalah, maka saya menganggapnya cara tersebut kurang adaptif atau bahkan maladaptif.

Valliant, seorang psikiater, menyatakan, setidaknya ada 19 mekanisme pertahanan diri yang dapat mengindikasikan kematangan emosional seseorang. Paling tidak pemahaman kita mengenai mekanisme pertahanan diri yang matang ini bisa menunjukkan pada kita hal apa yang masih perlu kita kembangkan dan perkuat dalam diri.

1. Acceptance, atau penerimaan terhadap situasi tidak menyenangkan yang tidak dapat diubah. Dalam bahasa agama disebut "ikhlas".

2. Altruism. Berupa pelayanan sosial yang konstruktif dan menimbulkan rasa senang dan puas.

3. Antisipasi. Perencanaan realistis terhadap ketidaknyamanan yang mungkin dihadapi.

4. Keberanian, kesediaan dan kesiapan mental untuk menghadapi konflik, rasa takut, rasa sakit, ahaya, ketidak-jelasan, keputus-asaan, hambatan, perubahan dan tekanan.

5. Emosi yang terkendali. Kemampuan berespon terhadap tuntutan dengan ekspresi emosi yang santun dan diterima lingkungan.

6. Emosi yang tercukupi. Tidak bergantung pada persetujuan dan penolakan orang lain.

7. Forgiveness atau memaafkan. Hilangnya kebencian atau kemarahan terhadap sesuatu yang mengancam atau dipersepsi sebagai ancaman, ketidaksetujuan, kesalahan atau penolakan untuk berdamai.

8. Bersyukur. Perasaan berterima kasih atau apresiasi terhadap pencapaian orang lain. Bersyukur akan meningkatkan level kebahagiaan dan menurunkan tinggkat depresi dan stres.

9. Rendah hati. Adalah kesadaran seseorang untuk menghargai pendapat atau pikirannya sendiri tanpa merendahkan pikiran dan pendapat orang lain.

10. Humor. Ekspresi terbuka terhadap ide atau pemikiran (terutama yang tidak menyenangkan untuk dihadapi atau dibicarakan) yang memberikan kesenangan pada orang lain.

11. Identifikasi. Suatu cara untuk mencontoh/memodel seseorang baik dari sisi karakter maupun perilaku.

12. Rasa kasihan atau iba kepada orang lain.

13. Mindfulness. Fokus dan orientasi terhadap kondisi saat ini dengan penuh rasa ingin tahu, keterbukaan dan penerimaan.

14. Kesederhanaan. Proses menghilangkan hal yang berlebih-lebihan dan tetap berada dalam batasan yang masuk akal.

15. Sabar. Usaha untuk menghadapi situasi sulit (penundaan, provokasi, kritik, serangan) dengan menghindari berespon negatif.

16. Respek/menghormati. Keinginan dan kesediaan memperlihatkan penghargaan terhadap kualitas seseorang dan menunjukkan tindakan spesifik yang meningkatkan harga diri. Relasi yang didasari respek akan bertahan lebih lama.

17. Sublimasi. Transformasi atau mengubah emosi negatif, keinginan atau dorongan-dorongan ke dalam tindakan yang sehat dan dapat diterima. Misalnya, mengubah energi agresi ke dalam olah raga.

18. Suppresi. Suatu keputusan sadar untuk menunda memberikan perhatian terhadap pikiran, emosi atau kebutuhan dan memilih berfokus pada hal yang terjadi sekarang.

19. Toleransi. Kesediaan memberikan izin kepada suatu hal yang kurang disetujui.

Dikopi dari akun Yeti Widiati 270916

*Defense (Inggris Amerika), Defence (Inggris British)
*Diterjemahkan bebas dan dilengkapi dari https://en.wikipedia.org/wiki/Defence_mechanisms

22/09/2017

Bagaimana Menghadapi Anak Tantrum?

Salah satu kecenderunga perilaku pada anak yaitu kecenderungan anak untuk menampilkan temper tantrum. Temper tantrum adalah kump**an perilaku marah anak yang ditampilkan karena keinginannya tidak terpenuhi, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di tanah bahkan sampai menjatuhkan barang-barang. Biasanya perilaku tersebut akan dipertahankan oleh anak, sampai keinginannya terpenuhi.

Tidak ingin dihakimi secara sosial, biasanya orangtua terpaksa “menyerah” dan memenuhi keinginan anak. Nah, bila hal ini terus dipenuhi, maka anak akan belajar dan paham kalau mau keinginannya terpenuhi, maka anak harus menampilkan perilaku-perilaku tersebut. Sehingga, perilaku tantrum tersebut akan dipertahankan dan menjadi senjata ampuh anak untuk menyerang orangtua. Berbahayakan perilaku tantrum tersebut?

Sebenarnya, pada usia balita, perilaku tantrum merupakan perilaku yang wajar diperlihatkan oleh anak. Tetapi, orangtua harus berhati-hati apabila perilaku tersebut terus dipertahankan sampai anak menginjak usia sekolah, atau usia 6-12 tahun. Karena, bila tantrum masih terlihat sampai rentang usia tersebut, ada kemungkinan anak mengalami masalah jiwa yang disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Sebaiknya, apa yang seharusnya dilakukan oleh orangtua?

Untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, agar baik orangtua dan anak, sama-sama belajar terhadap situasi yang sedang dialami oleh si anak. Pertama, biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Orangtua sebaiknya menanggapi wajar perilaku anak tersebut. Diamkan saja, sambil pantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.

Kedua, jangan marah apalagi memukuli anak. Karena marah tidak akan menghentikan tantrum anak, bahkan anak cenderung meningkatkan perilaku tersebut. Kunci menghadapi anak yang tantrum adalah sabar. Sabar merupakan salah satu bentuk komunikasi orangtua dengan anak, bentuk komunikasi ini akan lebih efektif dibanding marah maupun memberikan hukuman fisik. Anak belajar sabar melalui perilaku sabar yang ditampilkan orangtua.

Ketiga, jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum. Ingat, anda sedang “berperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Beri penjelasan sederhana, misalnya dengan mengatakan bahwa mainan jenis tersebut sudah dimiliki atau sebaiknya main dengan mainan yang sudah ada. Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.

Keempat, komunikasi antar orangtua penting. Sebelum menangani anak dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai “pahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai “musuh” karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.

Kelima, beri pengertian orang sekitar, terutama kakek dan nenek. Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah tentangan dari kakek nenek, biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus dilakukan. Beri penjelasan kepada orang tua, alasan mengapa kita membiarkan anak tantrum. Bila perlu, diskusikan mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dimengerti :)

smoga bermanfaat 😊

source: afrakids

Address

Jalan Arifin Ahmad No 4 Pekanbaru
Pekanbaru
28125

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00
Saturday 08:00 - 12:00

Telephone

+6282257772221

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Humanika posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Humanika:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram

Category