26/12/2025
Balas dendam sering terlihat seperti jalan menuju kelegaan.
Saat disakiti, dikhianati, atau dipermalukan, ada dorongan kuat untuk “membalas supaya seimbang”. Tapi setelahnya, banyak orang justru merasa kosong, lelah, dan tetap terikat pada rasa sakit yang sama — hanya dengan bentuk yang berbeda.
Di video ini, Kak Daissy menegaskan satu hal penting: mode perang tidak benar-benar menyembuhkan.
Saat kita hidup dari mode bertahan dan menyerang, sistem saraf tetap berada dalam keadaan siaga. Tubuh dan batin terus mengulang cerita lama, seolah bahaya masih ada, meski peristiwanya sudah lewat. Yang bergerak bukan kesadaran, tapi luka.
Melepaskan balas dendam bukan berarti membenarkan yang salah.
Itu berarti berhenti menjadikan luka sebagai identitas dan arah hidup. Penyembuhan dimulai saat kita memilih keluar dari medan perang batin — dan membangun kekuatan dari keutuhan, bukan dari reaksi. Di situlah damai pelan-pelan kembali.