10/04/2021
HARGA TEMAN
Pagi ini aku melirik tempat beras, hampir kosong. Sungkan rasanya mau berhutang ke warung, karena baru kemarin sudah hutang buat beli sabun cuci sasetan dan kental manis.
Jadi kuputuskan berasnya dimasak bubur, lauk telor dadar yang dicampur tepung dan dipotong kecil-kecil. Dalam hati aku terus berdoa semoga dagangan banyak yang laku.
Kuabaikan suara nit nit nit dari meteran listrik yang berbunyi. Biarlah. Anggap saja musik jenis baru, nat nit nit nut.
“Ibuuu, aku lapar….”
“Iya nak, buburnya sebentar lagi matang.”
“Kok bubur bu? Memangnya ada yang sakit sekarang?”
“Lho, ini bubur istimewa, spesial buat Rita loh.”
Anakku tersenyum girang, kedua tangannya bertepuk-tepuk semangat.
“Hmmm baunya enak, aku bangunin dik Ami sama dik Dani ya bu!”
Bubur hangat dengan telor dadar ekstra tepung -satu-satunya telur yang kami punya pagi itu- tersaji di meja.
Tak lupa kental manis yang satu sasetnya dibagi dua.
Anak-anak berkumpul, mereka tersenyum riang. Padahal yang tersaji adalah kental manis, bukannya susu segar atau susu bubuk yang lebih layak. Telur yang mengandung gluten, bubur yang dibuat karena kekurangan beras.
“Alhamdulillah, hari ini kita bisa makan enak. Ini enak banget buburnya bu!” Anak sulungku berteriak gembira dan menghabiskan buburnya dengan lahap.
Aku tertawa melihat mereka, kami makan bersama-sama seadanya. Benar-benar seadanya. Tapi meski begitu, semua terasa ringan dan menyenangkan.
Bermula dari uang kiriman suamiku dari hasil kuli mulai macet, ditambah perusahaan tempat aku bekerja bangkrut, keuangan rumah tanggaku menurun drastis.
Aku mencoba berjualan online, mengandalkan wifi tetangga. Iya, jangankan beli beras dengan cukup, bahkan buat membeli kuota saja aku tak sanggup.
Padahal saat aku dan suami masih bekerja, kami sempat merasakan langganan tivi berbayar, mandi pun pakai sabun cair. Sekarang ini, sampo sasetan dan sabun batangan jadi langganan. Itupun sabunnya dipotong jadi dua, saking ngiritnya. Hahaha!
Untunglah tetangga yang baik hati memberiku izin untuk numpang koneksi internet. Tiap daganganku laku, tak lupa kuberi sedikit bingkisan atau kue buatan sendiri.
(lanjut di komen)