13/06/2013
MEMAHAMI ANNE AVANTIE
Ketika seorang seniman menyerahkan segenap hatinya untuk berkarya, maka kreasinya adalah titisan jiwa. Tak ada yang mengalahkan nilai terbanyak pada hasil karya itu, selain cinta yang otentik dan kejujuran berekspresi. Memahami Anne Avantie, memerlukan hati. Ia, pikirannya, karyanya, serangkaian aksi sosialnya, emosinya, harapan-harapannya, adalah sekumpulan energi yang perlu dilihat secara holistik. Sekian puluh tahun berlalu, Anne telah memandang kehidupan sebagai getaran yang tiada henti membentuk dirinya. “ Ia memasrahkan diri secara total dan menguatkannya sekaligus untuk menghadapi riuh rendah dunia. Perjalanan naik turun, jatuh bangun, gelap terang, pahit dan manis, telah memercikkan cahaya yang pada pikiran dan nalurinya. Mengantarnya untuk semakin memahami bahwa hidup, karya, dan cinta kasih adalah elemen-elemen yang tak bisa terpisahkan. Lahir di Solo, masa kecil Anne telah bersentuhan dengan seni kewanitaan. Ibunya adalah sosok pertama yang mengantarkan sebuah dunia dengan keindahan sebagai wacana utama. Sang Ibu membuat “ruang lembut” dalam kehidupan masa kecil Anne, melalui banyak pekerjaan-pekerjaan kewanitaan, kecantikan, seni kriya, penciptaan busana. Begitu meresapnya ajaran seni sang Ibu ke dalam nuraninya, hingga Anne tanpa sadar telah menyematkan satu keyakinan, bahwa hidup seberat dan serumit apapun juga, mampu diurai ketika seseorang memiliki naluri keindahan dalam hatinya. Kehidupan Anne mengalami banyak ujian, tapi ia telah memiliki antibody sendiri pada bilur kesulitan hidup. Berkarya, mencipta keindahan, menyerahkan pikiran dan hati pada kreasi, adalah cara Anne mensyukuri hidup, apapun warna dan siluetnya. Didampingi inspirasi dari sang Ibu yang tiada henti mengalirkan energi, Anne melewati masa remaja dan masa muda dengan karya seni sebagai “kulit kedua”. Ia membungkus hidupnya dengan spirit berkarya. Melalui temuan-temuan baru dari langkah kreasi yang ia lakukan, Anne seolah mendapatkan melodi kehidupan dengan keindahan tiada batas. Sungguhpun realita kehidupan telak-telak membawa berbagai ujian konkrit, tapi melalui proses berkarya Anne bisa menghembuskan dan menghirup damai.
Ia mengolah banyak jenis kain melalui rongga pikiran kreatifnya.......... Menjadi pembuat kostum tari adalah pekerjaan awal yang membawa Anne pada belantara kreasi tanpa bingkai. Seperti seorang pengembara yang haus akan perjalanan...... Anne membiarkan dirinya larut ke dalam pengenalan material rancangan tiada batas. Katun, chiffon, kulit, satin, sutra, bahkan belacu, menjadi elemen-elemen yang menghidupkan jemarinya. Ia menemukan surga di sana. Dari olah kain dan proses produksi ia mendapatkan banyak pembelajaran tentang bagaimana membuat jembatan untuk menghubungkan ide dengan teknik pembuatan konkrit. Bagaimana merealisasikan hasrat menjadi karya nyata. Bergumullah Anne dengan berbagai eksperimen, dari cara yang terbodoh sampai mutakhir. Sungguh pun ia menyadari banyak kebodohan di awal kariernya, baginya itu tetaplah sebuah pembelajaran tak ternilai. Spirit berkaryanya yang terus menyala membuat Anne terus dihidupkan oleh tradisi penciptaan. Didekade 90-an langkahnya diperkuat dengan keputusannya bergabung dengan PPMJ (Persatuan Perancang Mode Jawa Tengah) , organisasi perancang daerah yang kemudian makin membuatnya sadar tentang hakekat peragaan busana. Bagaimana “roh” rancangan menemukan panggungnya dan menantang ratusan mata. Wacana karya kemudian menjadi tidak sederhana, karena nurani kreasi Anne kemudian harus bersentuhan dengan publik, bukan komunitas kecil belaka. Dari hati sederhana seorang remaja puteri, Anne perlahan berkembang menjadi seorang perancang profesional yang harus memahami hakekat busana dengan sepenuh jiwa. Melalui pengalaman-pengalamannya, kepekaan Anne berkarya semakin dipertajam. Ditambah dengan spirit eksperimennya yang tiada henti, metamorfosa karya Anne bergulir dengan sangat dinamis. Kebaya kemudian menjadi pilihannya, dan semakin menjadi cirinya ketika memasuki abad millennium. Pada akhirnya Tuhan melabuhkannya pada dataran yang semakin jelas. Setelah melalui perantauan panjang untuk menemukan jati diri, Anne kemudian memantapkan hati untuk memilih kebaya sebagai inspirasi rancangannya dengan eksplorasi yang terus lahir hingga hari ini.