Mencari SUNYI

Mencari SUNYI Segala hal tentang Buku dan Science, penerbitan, kepenulisan, resensi, dan hal-hal yang berhubungan dengan wacana-wacana Kebebasan Berfikir. Tentang apa saja.

-Segala hal tentang Buku dan berbagai cabang Ilmu pengetahuan: Penerbitan, Penulisan, Toko Buku online, Theory terjemahan, Resensi, Plus Yogya Handicraft & Silver.
-Diskusi tentang Wacana atau Pemikiran-pemikiran out of mainstream..
-Sahabat dan PELAYAN bagi para penulis yang ingin menerbitkan buku sendiri, yang sudah bosan diperas Indie/Self-Publishing mainstream.
-Teman belajar bersama yang paling asik tentang berbagai cabang Ilmu Pengetahuan.
- Konsultan yang sangat berpengalaman dalam segala masalah ke-gilaan, yang aneh dan konyol. Mulai dari Filsafat, Psikologi, Tarikat, Yoga, Anak bandel, Rei Ki Tibet dan Jepang, Bela Diri, Catur, Seni dan Budaya, Literatur, Spiritualitas Lintas Agama, Diskusi Antar Mazhab, Tentang Kucing, Burung, Anjing. Bisnis/Marketing, Humor, Tahayul...dst.

BLUES: Maafkan aku, anakku ....
27/02/2026

BLUES: Maafkan aku, anakku ....

Lagu Blues Terbaik šŸŽøNikmati lagu blues dengan nuansa full feel, santai, dan enak didengar. Musik blues selalu menghadirkan karakter gitar yang kuat, groove ...

INTELLECTUAL REBEL - EXPLORING THE EDGE OF CERTAINTYI am drawn to conversations that most people avoid: Dogma, tradition...
27/02/2026

INTELLECTUAL REBEL - EXPLORING THE EDGE OF CERTAINTY

I am drawn to conversations that most people avoid: Dogma, tradition, culture, ideology, s*x, gender, politics, spirituality, secularism, atheism, agnosticism, etc — the territories often marked as sensitive or forbidden — are precisely where honest dialogue becomes most necessary.

I value open exchange, especially with young minds courageous enough to think independently and critically.

I consider myself an intellectual rebel — not in opposition to society, but in resistance to mental confinement. A free thinker, perhaps in its most unsettling sense. I question assumptions, inherited beliefs, and even the comfort of consensus.

As a lifelong learner, I remain cautious of anything that claims to be absolute truth. If there is one conviction I tentatively hold, it is this: none of us are fully immune — and perhaps 99% of humanity lives in some form of delusion. Even the most brilliant intellect cannot entirely escape confirmation bias. To believe oneself free from cherry-picking may simply be hypocrisy in a more sophisticated costume.

To me, life unfolds within probabilities, not certainties. It is intellectually reckless to rush toward rigid conclusions or definitive claims. Every assertion deserves humility.

While I tend to view the world through the lens of science rather than dogma, I do not worship science as infallible. Science evolves. It revises itself. It admits error. And so must we. As someone who values intellectual sovereignty, I resist simplistic binaries — the urge to declare something definitively ā€œthis is scienceā€ or permanently ā€œthat is pseudoscience.ā€

Though I hold no formal certification, I often find myself invited into conversations about various forms of human ā€œmadness.ā€ So far, these dialogues have been offered freely — perhaps because the pursuit of clarity should never be transactional.

22/02/2026

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.

20/02/2026

Kirim Chat iseng kepada seorang sobat lama yang ahli riset di BRIN:

Kl cerita di bawah ini, sebenarnya sdh usang, tp kok rasanya msh relevan ya:

Ada sebuah pulau terpencil, yang jauh dr sentuhan peradaban modern, bahkan cenderung msh purba.

Sementara itu, di sebuah sudut dunia yg alamnya plg kaya, ada seorang tokoh agama, yg sgt pandai dlm hal matematika. Dia tahu hitungan jarak antara pintu sorga yg 1 dg pintu yg lainnya. Dia th brp thn hukuman di neraka yg menyala-nyala jika rambut seorang wanita kelihatan oleh bukan suaminya, dst dst. Si tukang omong agama ini mendengar ttg manusia purba di sebuah pulau terpencil itu.

Di dorong oleh semangat suci menyelamatkan sesama dari azab kekal neraka, dia datang ke pulau tsb dan bertemu dg pimpinan suku.

Si ahli matematika sholeh menjabarkan ttg aturan dan pandangan2 ilahiah agar hidup diridhoi, dan selamat di kehidupan kelak, dan tentunya, tak lupa ttg horrornya azab neraka dan asyiknya pesta s*x di surga.

Gambaran yg serba horror itu (dg sedikit selingan cerita paha mulus para perawan di sorga), ckp menggetarkan kepala suku. Dia lantas bertanya pd matematikawan sholeh dg nada dering:

"Bagaimana dg generasi2 sebelumnya yg TIDAK TAHU ttg hal2 yg tuan jabarkan tadi? Apakah mrk juga akan dipanggang di neraka?"

Sang matematikawan sholeh menjawab:

"Oh, tentu saja mrk tidak dihukum, krn mereka kan belum tahu. Tuhan maha kasih, Dia tdk pernah menghukum hamba-NYA yg tdk tahu"

Sang kepala suku agak bingung, dan mengajukan sebuah pertanyaan polos yg bahkan para ahli riset di BRIN pasti tahu isi pertanyaan tsb:

"Kalau begitu, knp anda memberi TAHU kami ttg semua ajaran tadi???!!!" (bertanya dg nada pilu)

🤣🤣🤣

CARA BERFIKIR LUGU SEORANG LANSIA DUSUNSejak dahulu kala, sebelum permainan catur tercipta (lupa usiaku berapa saat itu)...
19/02/2026

CARA BERFIKIR LUGU SEORANG LANSIA DUSUN

Sejak dahulu kala, sebelum permainan catur tercipta (lupa usiaku berapa saat itu), aku sudah terbiasa berfikir simpel dan menghindari kalimat-kalimat akrobatik filsafat mengawang yang memberikan sebuah kesan megah dan penuh gaya.

Begitu juga ketika menghadapi sebuah perbedaan pendapat. Misalnya perbedaan penetapan jadwal puasa atau lebaran, antara NU dan Muhammadiyah. Kesatuan pendapat di antara 2 organisasi sosial keagamaan yang sangat kuhormati ini, insya Allah akan selesai tak lama lagi. Paling-paling hanya memakan waktu 3 kali kiamat lagi.

Aku cenderung memihak keduanya. Gak pernah memihak salah 1 dan mengabaikan yang lain. Ini semua didorong oleh rasa takzim kepada pengabdian dan kepintaran orang-orang di dalamnya.

"Lalu, gimana sikap ente terhadap penetapan jawal puasa dan lebaran di antara keduanya, wahai lansia lugu bin buntu?"

Simpel:

āœļøUntuk memulai puasa, aku mengikuti penetapan NU. Untuk lebaran, aku mengikuti penetapan Muhammadiyah. Dua-duanya harus kurangkul, dua-duanya harus kuhormati.

SLOOOW .... šŸ™šŸŒ¹šŸ’“

(Contoh karangan bebas šŸ‘†šŸ‘†šŸ‘†)

Bagaimana Jepang Berbalik Menentang IslamOleh Haruka Suzumori•Mungkin terdengar mengejutkan bagi banyak orang, tetapi Je...
13/02/2026

Bagaimana Jepang Berbalik Menentang Islam

Oleh Haruka Suzumori

•

Mungkin terdengar mengejutkan bagi banyak orang, tetapi Jepang tidak selalu bersikap menentang Islam. Pada era Meiji, banyak orang Jepang terpelajar justru terpesona oleh Kekaisaran Utsmaniyah, Persia, dan dunia Islam secara umum. Misalnya, kisah Seribu Satu Malam (Arabian Nights), yang diperkenalkan melalui terjemahan-terjemahan Eropa pada abad ke-19, memiliki banyak penggemar di Jepang karena lampu ajaib, jin, dan istananya. Kisah-kisah ini kemudian diadaptasi menjadi buku anak-anak, teater, dan belakangan anime, yang semuanya menggambarkan dunia yang terinspirasi Islam sebagai sesuatu yang memikat, eksotis, dan tidak mengancam.

Bahkan ikon budaya dan nasionalis seperti Mishima Yukio, yang hingga kini masih dicintai dan dihormati banyak orang di seluruh dunia, tidak memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Ia memandangnya sebagai ā€œagama yang jantanā€ dan mengkritik Jepang pascaperang sebagai ā€œfemininā€. Karena Mishima dan sebagian besar masyarakat Jepang kala itu belum benar-benar berinteraksi dengan Muslim, pandangan mereka lebih didasarkan pada semacam ā€œorientalismeā€ dan bukan pada apa yang oleh kalangan kiri saat ini disebut sebagai ā€œpengalaman langsungā€.

Berkat pemulihan Jepang yang luar biasa setelah Perang Dunia II, gelombang pertama migran Muslim mulai datang dari negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, dan beberapa bagian dunia Arab. Apa yang bermula sebagai komunitas kecil yang tersebar akhirnya menimbulkan konflik budaya terkait halal, hukum syariah, pemakaman Islam, dan salat di ruang publik. Pada saat itu, hal ini mudah diabaikan karena jumlahnya kurang dari 0,1% populasi. Namun, situasi ini berubah drastis setelah serangan teroris 11 September (9/11).

Pada awal 2000-an, para pelancong Jepang di luar negeri melaporkan pengalaman yang dianggap menindas, seperti peran gender yang ketat dan intoleransi beragama, yang menghapus citra ā€œeksotisā€ tentang Islam. Jumlah Muslim meningkat hingga lebih dari 150.000 orang, dan mulai bermunculan cerita tentang kekerasan terhadap perempuan oleh pria Muslim, pemaksaan pindah agama terhadap istri, salat di ruang publik, dan sebagainya. Hal ini mengganggu konsep wa (和 – harmoni) kami. Tiba-tiba, ini tidak bisa lagi diabaikan karena sudah hadir di ruang publik. Survei sejak 9/11 hingga munculnya ISIS menunjukkan lebih dari 60% orang Jepang menganggap Islam ā€œterbelakangā€ dan ā€œradikalā€, dan hanya 5% yang setuju untuk menerima lebih banyak Muslim.

Kini, pada dekade 2020-an, masyarakat Jepang sepenuhnya berbalik menentang Islam. Sementara dahulu kita semua diberi tahu bahwa internet akan mendekatkan kita, kenyataannya justru sebaliknya. Pengalaman langsung orang Jepang, baik daring maupun luring, disebut-sebut sangat merusak hubungan Jepang–Muslim. Gelombang kejahatan besar yang dikaitkan dengan populasi Kurdi Muslim. Sopir taksi ilegal dari Pakistan. Upaya pemaksaan pemakaman dengan penguburan tanah oleh orang Arab dan Muslim lainnya. Daftarnya terus berlanjut, dan bukti-buktinya, baik berupa laporan polisi maupun video yang dibuat warga Jepang, disebut berlimpah.

Meskipun tidak semua orang Jepang pernah berinteraksi langsung dengan Muslim, mereka menyadari berbagai masalah yang muncul di sejumlah negara Eropa. Masalah-masalah ini dianggap tidak terisolasi karena gejalanya juga terlihat dalam komunitas Muslim di Jepang. Ada ketakutan mendalam di kalangan masyarakat Jepang bahwa hal itu bisa terjadi di sini. Jika bukan hari ini, maka besok. Hal lain yang dicatat adalah kurangnya empati dari komunitas Muslim di Jepang maupun di luar negeri. Ketika ada laporan luas tentang pelanggaran oleh Muslim di Jepang, tidak ada permintaan maaf atau pemahaman. Sebaliknya, yang terlihat adalah upaya menyalahkan masyarakat tuan rumah (orang Jepang) atau mengalihkan kesalahan kepada pihak lain.

Tak satu pun taktik pengalihan tersebut dianggap berhasil. Itu tidak berhasil karena orang-orang merasa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ketika menonton berita, mendengar cerita, atau menyaksikan perilaku yang mengganggu, mereka merasa tahu siapa yang bertanggung jawab. Tidak ada upaya menyalahkan kelompok lain yang akan memengaruhi pandangan tersebut, betapapun menggoda untuk melakukannya.

Jepang adalah negara yang toleran dan damai. Kami mempraktikkan kebebasan beragama seperti kebanyakan negara maju di dunia. Secara realistis, pelarangan total terhadap Islam (atau agama lain mana pun) tampaknya kecil kemungkinannya. Namun, yang sepenuhnya mungkin adalah mengikuti langkah negara-negara seperti Polandia dan Hungaria: tidak menerima migran Muslim dan secara besar-besaran mengurangi imigrasi Muslim. Ini jauh dari mustahil, dan mayoritas besar masyarakat Jepang dikatakan setuju dengan sentimen ini.

Dalam pemilihan terakhir, masyarakat Jepang disebut telah berbicara dengan jelas. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah: kapan para pemimpin kita akhirnya akan bertindak berdasarkan konsensus yang sangat kuat ini?

"Bahkan Tuhan, yg telah sjk lama sy cari, agaknya sekedar produk akal yg rusak, penyimpangan neurologis"(Keren Amstrong)
09/02/2026

"Bahkan Tuhan, yg telah sjk lama sy cari, agaknya sekedar produk akal yg rusak, penyimpangan neurologis"
(Keren Amstrong)

KEBANGGAAN DALAM JUBAH KEARIFAN PALSUUrutan ke 4 dalam hierarki Maslow adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem need). ...
03/02/2026

KEBANGGAAN DALAM JUBAH KEARIFAN PALSU

Urutan ke 4 dalam hierarki Maslow adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem need). Dalam konotasi yang agak negatif, kau boleh saja menyebutnya kebutuhan validasi. Dalam istilahku yang jauh dari benar, dan kasar, kebutuhan bergaya dan jual lagak. Tetapi ini anggap saja tidak ada.

Ada banyak cara bagi seseorang untuk memenuhi kebutuhan tsb. Lewat prestasi, lewat kekayaan, lewat "bibit, bobot, bebet", bahkan lewat apa yang dikenakannya (arloji mahal, baju-baju mahal dan branded), lewat buku-buku yang dibacanya, lewat hewan langka peliharaannya...

Kebutuhan untuk digargai itu adalah salah 1 kebutuhan dasar. Dan orang berhak merasa bangga jika kebutuhan tsb telah dipenuhi.

Ada banyak cara untuk memeroleh validasi agar kebutuhan dasar tsb terpenuhi. Yang paling kekinian adalah pamer-pamer (tulisan, mobil mewah, buku-buku bermutu, wisata ke luar negeri ...) di sosial media. Kalau dalam bisnis online, bolehlah kita sebut sebagai personal branding:

Ada dengan cara halus. Ada yang dengan lugas dan terus terang. Ada dengan cara nyinyir dan menjadi Si Paling Arif dan seolah gak butuh pengakuan, tapi sibuk "meresensi" tiap status orang lain. Ada yang menunjukkan karya-karyanya berupa novel, ada yang memamerkan buku-buku yang dia cintai dan baru selesai dibacanya dst dst.

Ada juga yang menjadi Si Paling Beghawan, dengan kesibukan menilai orang lain, seperti misalnya nyinyiran ala nenek melarat "kok bangga sih mamerin buku-buku berat di sosmed", disertai "pesan sponsor"" halus tentang DIRI-nya seperti misalnya "sebagai seorang novelis..." atau, "... sempat kuliah S3 di MIT, meski tidak summa cm laude...".

Kebanggaan yang disembunyikan dalam jubah kearifan palsu demikian biasanya sering tercermin dari para pengidap megalomania (rasa DIRI agung), atau seseorang yang hidup dalam delusi akut sebagai Si Paling Bijak yang langka dan elitis, delusi sebagai Sang Guru Sabda, Sang Hakekat Terdalam, Lautan Kebijaksanaan 🤣🤣🤣

Pertanyaan paling sederhana yang sulit dijawab oleh orang-orang palsu dan miskin tetapi penuh gaya dan jual lagak seperti itu adalah :"Apakah kau sungguh-sungguh bahagia?"

(Gambar hanya ilustrasi pemanis)

Kalau dalam kalimatku, yang beberapa kali kuucapkan pada Putriku Tercinta:"Gelar akademis adalah 1 hal, intelektualitas ...
03/02/2026

Kalau dalam kalimatku, yang beberapa kali kuucapkan pada Putriku Tercinta:

"Gelar akademis adalah 1 hal, intelektualitas adalah hal lain"

Kalau versi Guru Besar dalam video, kurang lebih:

" Seorang Guru Besar boleh saja lebih pintar, tetapi belum tentu bijaksana"

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.

BASA-BASIMU ADALAH CERMIN KWALITAS DIRIMUJauuuh sebelum tahu tentang dr Tirta, jauuuh sebelum tahu tentang quote dari do...
02/02/2026

BASA-BASIMU ADALAH CERMIN KWALITAS DIRIMU

Jauuuh sebelum tahu tentang dr Tirta, jauuuh sebelum tahu tentang quote dari dokter nyleneh tapi pinter ini, bahkan sejak setengah abad lalu, aku sudah kesal bukan kepalang dengan basa-basi yang kudengar di sepanjang lorong kehidupan.

Yang paling umum adalah basa-basi Si Paling Petugas Sensus Penduduk:

"Aslinya mana, mas?"

"Dulu kuliah di mana?"

"Kerjanya apa?"

"Sudah nikah, mas? "

"Putranya berapa?"

Hadew...! 😰😰😰

FILSUF JALANAN, FILSUF STUDIO(Oleh: Supriyanto Martosuwito) Setiap zaman punya sofisnya sendiri. Yunani Kuno memilikinya...
02/02/2026

FILSUF JALANAN, FILSUF STUDIO

(Oleh: Supriyanto Martosuwito)

Setiap zaman punya sofisnya sendiri. Yunani Kuno memilikinya dalam wujud guru keliling yang piawai bicara, memukau massa, dan sanggup memenangkan debat apa pun — bahkan tanpa kepedulian pada kebenaran. Zaman kita, yang serba televisual dan viral, tak kalah suburnya. Bedanya, sofis hari ini tidak datang ke alun-alun kota, melainkan ke studio, kanal YouTube, dan potongan video berdurasi satu menit.

Maka ketika seseorang menyamakan Rocky Gerung dengan sofis, yang perlu dibicarakan bukanlah nama itu sendiri, melainkan apa yang sedang kita rayakan sebagai ā€œkecerdasanā€ di ruang publik.

Masalah utamanya bukan Rocky. Masalahnya adalah publik yang makin terbiasa menyamakan kefasihan dengan kebenaran.

Sofis negatif — seperti yang dikritik Plato — tidak dicirikan oleh kebodohan. Justru sebaliknya: mereka cerdas, cepat, atraktif, dan menguasai bahasa.

Bahaya sofisme terletak pada satu hal mendasar: retorika diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat menuju kebenaran. Debat menjadi ajang menang-kalah, bukan proses memahami.

Di titik inilah publik kita mulai tersesat.

Dalam banyak perdebatan politik dan sosial, kita menyaksikan figur-figur yang berbicara tentang hampir semua hal: hukum, ekonomi, etika, sains, psikologi massa, geopolitik. Semuanya terdengar meyakinkan. Semuanya dibungkus metafora. Semuanya ditutup dengan tawa atau tepuk tangan.

Tetapi ketika pernyataan-pernyataan itu ditelusuri ulang oleh para ahli di bidangnya masing-masing, tak jarang ditemukan kekeliruan, penyederhanaan berlebihan, bahkan kesesatan logika.

Namun koreksi jarang viral. Yang viral adalah potongan retorika. Di sinilah sofisme modern bekerja efektif: ia tidak membutuhkan kebenaran yang tahan uji, cukup kesan cerdas yang memukau sesaat. Ia tidak hidup dari akurasi, melainkan dari atensi. Dan demokrasi media hari ini adalah ekosistem yang sangat ramah bagi tipe intelektual seperti itu.

Sofis Athena dahulu mengajarkan cara berbicara agar muridnya menang di majelis rakyat dan pengadilan. Sofis hari ini mengajarkan—secara implisit—cara berbicara agar menang di ruang opini. Bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi untuk menguasai narasi.

Masalah berikutnya adalah hilangnya kesadaran batas. Filsuf sejati tahu kapan harus berhenti dan berkata, ā€œSaya tidak tahu.ā€ Akademisi sejati tunduk pada disiplin, metode, dan koreksi sejawat. Sofis negatif tidak berhenti—karena berhenti berarti kehilangan panggung. Ia akan terus berbicara, bahkan ketika persoalan sudah jauh melampaui kompetensinya.

Dan publik sering tidak peduli. Yang penting terdengar pintar.
Ironi paling tajam dari sofisme modern adalah sikapnya terhadap kekuasaan. Ia gemar mengaku anti-kuasa, kritis, bahkan oposisi moral.

Tetapi pada saat yang sama, ia hidup dari ekosistem konflik yang diciptakan kekuasaan dan dilipatgandakan media. Tanpa polarisasi, tanpa kemarahan, tanpa drama, sofisme kehilangan pasar.

Karena itu, sofis bukan musuh kekuasaan. Ia justru pasangan simbiosisnya.

Di sinilah masyarakat perlu diingatkan: kerusakan nalar publik tidak terjadi karena satu tokoh, melainkan karena kebiasaan kolektif memuja retorika dan melupakan verifikasi.

Kita terlalu mudah terpesona oleh kalimat tajam, terlalu cepat menyimpulkan dari analogi, terlalu malas memeriksa data.

Kita sedang menghadapi krisis yang lebih dalam dari sekadar perdebatan politik: krisis epistemik. Krisis tentang bagaimana kebenaran dibentuk, diuji, dan dipercayai.

Sofisme negatif berbahaya bukan karena ia selalu salah, melainkan karena ia membuat orang merasa sudah berpikir, padahal baru menikmati pertunjukan. Ia memberi kepuasan emosional, bukan kejernihan intelektual. Dan dalam jangka panjang, itu merusak demokrasi—karena demokrasi membutuhkan warga yang berpikir, bukan sekadar bertepuk tangan.

Jika hari ini kita ingin jujur, maka yang perlu dikritik bukanlah satu sosok, melainkan budaya intelektual yang membiarkan retorika berdiri di atas kebenaran.

Selama kita terus menganggap kefasihan sebagai kebijaksanaan, sofis — dengan atau tanpa nama —akan selalu punya panggung.
Dan publik, sekali lagi, akan terpesona.

***

WALK FOR PEACE .... šŸ™šŸ™šŸ™šŸ’“šŸ’“šŸ’“
02/02/2026

WALK FOR PEACE .... šŸ™šŸ™šŸ™šŸ’“šŸ’“šŸ’“

Di dunia yang ribut oleh ketakutan dan ego,sekelompok bhikkhu memilih berjalan…bukan untuk berdebat,tapi untuk mengingatkan.Tanpa teriak.Tanpa tuntutan.Hanya...

Address

Jalan Sidokarto
Sleman
55264

Telephone

+6285866443687

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mencari SUNYI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Mencari SUNYI:

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram