30/01/2026
๐๐๐ฆ๐๐ ๐๐๐ ๐ก๐ข๐ฅ๐ ๐๐,
๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐๐ก ๐ง๐๐ง๐๐ฃ ๐๐๐ ๐๐ฆ
Ada momen ketika seseorang sudah melakukan semua hal yang โbenarโ.
Cek darah: normal.
Tekanan darah: normal.
Gula, kolesterol, hormon: dalam batas wajar.
Secara medis, tidak ada yang salah.
Namun tubuh tetap terasa berat.
Bangun tidur tidak segar.
Energi cepat habis, bahkan untuk hal-hal kecil.
Banyak orang akhirnya menyimpulkan satu hal:
โIni cuma di pikiranku.โ
Padahal, tidak semua kelelahan terekam dalam pemeriksaan laboratorium.
Dalam bidang psychoneuroendocrinology, dijelaskan bahwa stres emosional kronis dapat memicu respons inflamasi tingkat rendah di dalam tubuh. Inflamasi jenis ini tidak selalu cukup besar untuk muncul di hasil lab standar, tetapi cukup untuk membuat sistem tubuh bekerja tidak efisien.
Akibatnya, tubuh terasa:
-cepat lelah
-sulit pulih
-tidak bertenaga meski istirahat cukup
Masalahnya bukan pada kerusakan organ.
Masalahnya ada pada sistem yang terlalu lama berada dalam mode siaga.
Ketika emosi dipendam terlalu lama โ marah yang tidak diungkap, kecewa yang ditelan, beban yang harus โdipahami sendiriโ โ sistem saraf tidak pernah benar-benar turun ke mode istirahat. Tubuh terus berjaga, meski secara kasat mata tampak sehat.
๐ป๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐
๐๐๐
๐๐ ๐๐๐๐๐๐
๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐.
Sering kali, yang dibutuhkan bukan tambahan suplemen atau dorongan motivasi, tetapi ruang aman bagi tubuh untuk berhenti bertahan.
Pendekatan pemurnian kalbu melihat kondisi ini sebagai sinyal bahwa ada muatan emosional lama yang masih aktif di sistem. Selama muatan itu belum dilepas, tubuh akan terus bekerja ekstra โ walau hasil lab terlihat sempurna.
Karena kesehatan bukan hanya soal angka.
Ia juga soal apakah tubuh merasa aman untuk beristirahat sepenuhnya.
Jika kamu pernah berada di fase ini โ merasa โtidak apa-apaโ, tapi tubuh berkata sebaliknya โ
kamu bisa menghubungi saya untuk berbincang pelan-pelan:
๐ฑ 0821-3668-3131