06/02/2026
๐๐๐๐๐๐
*RENUNGAN MALAM*
_Kisah Naufal โ Ahli Puasa yang Lupa Hatinya_
Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Naufal. Wajahnya teduh, ucapannya lembut, dan ibadahnya membuat banyak orang kagum.
Ia jarang terlihat makan di siang hari.
SeninโKamis ia berpuasa.
Bulan-bulan haram ia tambah puasanya.
Bahkan kadang ia menjalankan puasa Daud tanpa banyak orang tahu.
Orang-orang berkata,
"Kalau ingin melihat pemuda yang dekat dengan Allah, lihatlah Naufal."
Awalnya, semua itu tak mengubah hatinya. Ia berpuasa karena ingin menundukkan hawa nafsu, ingin hatinya ringan dalam salat malam.
Namun setan tidak pernah menyerang secara terang-terangan.
Ia datang lewat rasa kagum pada diri sendiri.
๐ *Bisikan yang Halus*
Suatu sore, Naufal duduk di masjid menunggu waktu berbuka. Seorang pemuda lain terlihat minum di sudut halaman.
Bisikan itu datang pelan:
*"Lihatโฆ mereka tak sekuat kamu."*
*Naufal tidak menjawab, tapi ia mengangguk kecil dalam hati.*
*Hari demi hari, perasaan itu tumbuh.*
*Ia mulai memperhatikan siapa yang berpuasa dan siapa yang tidak.*
*Ia mulai merasa berbeda. Lebih tinggi. Lebih disiplin.*
*Tanpa sadar, puasanya tak lagi sekadar menahan lapar* โ
*ia juga โmenikmatiโ rasa lebih baik dari orang lain.*
๐ Ujian Datang dari Rumah
Suatu pagi, ibunya mengetuk pintu kamarnya.
โNaufal, hari ini temani Ibu ke dokter ya. Ibu pusing sejak semalam.โ
Naufal terdiam. Hari itu ia sedang puasa sunnah.
โIbuโฆ boleh besok saja? Hari ini aku puasa.โ
Ibunya tersenyum kecil.
โTak apa, Nak. Ibu bisa minta tetangga.โ
Sepanjang hari, Naufal merasa bangga bisa mempertahankan puasanya. Ia merasa kuat. Taat. Konsisten.
Tapi sore harinya, adiknya pulang dengan wajah cemas.
โBangโฆ Ibu hampir pingsan di jalan tadi.โ
Kalimat itu seperti batu menghantam dadanya.
๐ Retakan di Hati
Malam itu Naufal salat, tapi sujudnya terasa berat.
Doanya kering.
Air matanya tak jatuh seperti biasanya.
Ia sadar sesuatu telah bergeser.
Ia berpuasaโฆ tapi menolak kesempatan berbakti.
Ia menahan laparโฆ tapi memberi makan egonya.
Ia menjaga amalโฆ tapi melukai hati ibunya.
Di tengah malam, ia menangis.
โYa Allahโฆ aku lebih mencintai puasaku daripada ridha-Mu. Aku lebih takut batal puasa daripada gagal berbuat baik.โ
Saat itulah ia mengerti โ
setan tidak menyuruhnya berhenti puasa.
Setan hanya membuatnya lupa tujuan puasa.
๐ Kesadaran yang Menyelamatkan
Sejak hari itu, Naufal tetap berpuasa.
Namun kini ia lebih sering bertanya pada hatinya:
โApakah ini membuatku lebih dekat kepada Allahโฆ atau hanya membuatku merasa lebih baik dari orang lain?โ
Ia jadi lebih lembut pada orang yang tidak berpuasa.
Lebih cepat membantu orang tua.
Lebih banyak menyembunyikan amal.
Karena ia belajar satu pelajaran besar:
*Ibadah yang membuat hati keras adalah tanda ada yang salah di dalam niat.*
Dan sejak itu, Naufal tidak lagi takut lapar.
Ia justru takut jika hatinya kembali dipenuhi rasa lebih suci dari orang lain.
Pesan kisah:
Setan tak selalu menggoda dengan dosa.
Kadang ia membiarkan kita beramalโฆ
lalu mencuri keikhlasan dan kerendahan hati sedikit demi sedikit.
Copas FB Chanel Irfan