Terapi Qur'an Tangerang

Terapi Qur'an Tangerang Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Terapi Qur'an Tangerang, Mental Health Service, Jalan Maulana Hasanudin, Tangerang.
(1)

Terapi Qur'an - Solusi Pengobatan & Permasalahan Kehidupan Secara Islami - Pengembangan Metode Ruqyah Syar'iyyah yang Insya Allah Lebih EFEKTIF dan AMAN sesuai syariat - HP. 081316900075

28/03/2026

LURUSKAN MINDSET
AGAR HIDUP BERNILAI

MELURUSKAN KESALAHAN BERPIKIRMenafsirkan ayat Al-Qur’an tidak bisa tidak mesti mengacu pada pakem ulama ahli tafsir. Bil...
28/03/2026

MELURUSKAN KESALAHAN BERPIKIR

Menafsirkan ayat Al-Qur’an tidak bisa tidak mesti mengacu pada pakem ulama ahli tafsir. Bila tidak, potensi salahnya sangat besar, apalagi bila sang penafsir awam tentang kitab-kitab tafsir, ulumul qur’an, dan kaidah tafsir.

Contoh ayat yang kerap dikutip penceramah atau motivator—lalu menafsirkannya—adalah Surat Ar-Ra’d ayat 11 berikut:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS Ar-Ra’d: 11).

Ayat di atas sering dipotong oleh sebagian kalangan dengan hanya mengambil bagian ayat berikut :

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat ini digunakan sebagai ayat motivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.
Tafsiran seperti ini bertentangan dengan realitas lapangan. Berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan membanting tulang, kaki di kepala dan kepala di kaki, demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tapi berapa persen dari mereka yang berhasil?

Ayat Al-Qur’an merupakan sebuah kepastian. Jika diartikan bahwa perubahan nasib menjadi lebih baik di tangan seseorang, tentu tidak akan ada orang gagal dari usahanya. Buktinya tidak demikian. Selain itu, keyakinan bahwa semua kesuksesan dikembalikan kepada pribadi seseorang—baru Allah mengikutinya—merupakan bagian dari doktrin Mu’tazilah. Dalam paham ini, perilaku hamba menentukan segalanya.

Lalu bagaimana tafsir ulama pada ayat di atas?

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِاللهِ

Sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia selalu didampingi oleh malaikat siang–malam yang silih berganti. Malaikat siang datang, pada saat itu juga malaikat malam meninggalkan seseorang. Saat sore, malaikat siang pergi sedangkan malaikat malam mulai datang.
Menurut sebagian ulama, malaikat yang silih berganti ini bernama malaikat hafadzah.

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Masih menurut At-Thabari, maksud ayat ini justru menjelaskan bahwa semua orang itu dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri dengan bersikap zalim dan saling bermusuhan kepada saudaranya sendiri.

يقول تعالى ذكره: (إن الله لا يغير ما بقوم)، من عافية ونعمة، فيزيل ذلك عنهم ويهلكهم = (حتى يغيروا ما بأنفسهم) من ذلك بظلم بعضهم بعضًا، واعتداء بعضهم على بعض،

Artinya: “(Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum) yang berupa sehat sejahtera dan penuh kenikmatan kemudian kenikmatan itu menjadi dibuang dan dirusak oleh Allah, (sampai mereka mengubah sesuatu yang ada para pribadi mereka) yaitu dengan sikap dzalim antar sesama dan permusuhan terhadap orang lain” (Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami’ul Bayan fi ta’wilil Qu’an, [Muassasah ar-Risalah: 2000], juz 16, hlm. 382).

Ayat di atas menunjukkan bahwa hakikat setiap manusia itu sebagai orang yang berhak mendapatkan kenikmatan penuh, karena pada dasarnya mereka adalah suci sebagaimana dalam ayat:
فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Artinya: “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” (QS Ar-Rum: 30).

Dalam hadits, Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ،

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci” (HR Bukhari).

Jika setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tentu dia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan kenikmatan dari Allah. Perubahan status menjadi Majusi, Yahudi, Nasrani adalah andil orang tua atau dirinya sendiri. Berbeda dengan pemahaman jika semua nasib orang itu buruk, untuk mendapatkan nasib yang baik harus mengubahnya. Ini tidak sesuai dengan pemahaman para ulama ahli tafsir.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan:

قَوْلُهُ تَعَالَى: (إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ) أَخْبَرَ اللهُ تَعَالَى فِي هَذِهِ الْآيَةِ أَنَّهُ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يَقَعَ مِنْهُمْ تَغْيِيرٌ، إِمَّا مِنْهُمْ أَوْ مِنَ النَّاظِرِ لَهُمْ، أَوْ مِمَّنْ هُوَ مِنْهُمْ بِسَبَبٍ، كَمَا غَيَّرَ اللهُ بِالْمُنْهَزِمِينَ يَوْمَ أُحُدٍ بِسَبَبِ تَغْيِيرِ الرُّمَاةِ بِأَنْفُسِهِمْ، إِلَى غَيْرِ هَذَا مِنْ أَمْثِلَةِ الشَّرِيعَةِ، فَلَيْسَ مَعْنَى الْآيَةِ أَنَّهُ لَيْسَ يَنْزِلُ بِأَحَدٍ عُقُوبَةٌ إِلَّا بِأَنْ يَتَقَدَّمَ مِنْهُ ذَنْبٌ، بَلْ قَدْ تَنْزِلُ الْمَصَائِبُ بِذُنُوبِ الْغَيْرِ، كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَقَدْ سُئِلَ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ- نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Dalam ayat ini Allah member tahu bahwa Ia tidak mengubah suatu kaum sehingga ada salah satu di antara mereka ada yang mengubahnya. Bisa jadi dari golongan mereka sendiri, pengamat, atau faktor penyebab yang masih mempunyai hubungan sebagaimana para pasukan yang dikalahkan pada saat perang Uhud disebabkan penyelewengan yang dilakukan oleh ahli panah. Demikian p**a contoh-contoh dalam syari’at.

Ayat ini tidak mempunyai arti bahwa kekalahan perang Uhud murni disebabkan perilaku dosa seseorang, tapi terkadang musibah-musibah itu turun disebabkan oleh dosanya orang lain sebagaimana sabda Nabi Muhammad ketika ditanya salah seorang “Wahai Rasul, apakah kita akan mengalami kehancuran sedangkan di antara kita ada yang shalih?”

Jawab Nabi “Ya, jika ada banyak pelaku zinanya” (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, [Darul Kutub al-Mishriyyah: Kairo, 1964], juz 9, hlm. 294).

Kedua tafsir tersebut, baik ath-Thabari maupun al-Qurthubi, sepakat bahwa manusia pada dasarnya menerima anugerah kenikmatan tapi perilaku manusia dapat mengubah kenikmatan itu menjadi keburukan atau musibah. Hanya saja, Imam al-Qurthubi berpendapat, faktor berkurangnya atau hilangnya kenikmatan yang diterima hamba itu tidak tunggal. Menurutnya, faktor itu bisa murni bersumber dari kesalahan hamba itu sendiri, bisa p**a dari kesalahan anggota keluarga atau komunitas sekitarnya, sebagaimana terjadi pada perang Uhud. Pasukan Muslimin pada perang Uhud kalah bukan lantaran kesalahan semua pasukan, tapi ada kesalahan beberapa individu saja tapi orang lain mendapatkan getahnya. Dengan bahasa lain, kesalahan segelintir orang itu berdampak sistemik lalu menggoyahkan kekuatan kelompok secara keseluruhan.

Dalam kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, Imam Baidhawi juga menyatakan:

إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ من العافية والنعمة. حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ من الأحوال الجميلة بالأحوال القبيحة

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengganti sesuatu yang ada pada kamu dari kesehatan dan kenikmatan sampai mereka mengubah dengan individu mereka dari keadaan yang baik dengan keadaan yang buruk. (Al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, [Daru Ihyait Turats al-Arabi: Beirut), juz 3, hal. 183)

Menjadikan ayat tersebut untuk memotivasi orang agar berbuat yang terbaik dan berjuang maksimal merupakan langkah positif. Hanya saja perlu dicatat, perjuangan dalam konteks ayat tersebut bukan mengubah yang buruk menjadi baik, tetapi merawat agar anugerah yang baik-baik dari Allah tak berubah menjadi buruk karena perilaku kita.

Meski sekilas terlihat mirip, kedua sikap di atas sejatinya berangkat dari paradigma yang berbeda. Yang pertama berangkat dari "keangkuhan" akan potensi diri sendiri, sementara yang kedua berlandaskan pada keyakinan bahwa semua yang Allah berikan pada dasarnya baik, dan kita berkewajiban memeliharanya dengan baik. Poin terakhir ini mengandaikan ketergantungan yang kuat kepada Allah subhanahu wata'ala. Wallahu a’lam.

Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Qur’an an-Nasimiyyah, Semarang, Jawa Tengah

Sumber:

Menjadikan ayat tersebut untuk memotivasi orang agar berbuat yang terbaik dan berjuang maksimal merupakan langkah positif. Hanya saja perlu dicatat, perjuangan dalam konteks ayat tersebut bukan mengubah yang buruk menjadi baik

20/03/2026

*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ*

_*Kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H*_

*تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ*
*كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْر*
*اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.*

_*Mohon maaf lahir bathin atas kekhilafan dan kesalahan, semoga ALLah SWT senantiasa memberikan keberkahan bagi kita semua & mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya*_

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
وَبَرَكَاتُه

*MAJELIS TERAPI QUR'AN*

PERBAIKI MINDSET "SUKSES & BAHAGIA" DALAM HIDUPBagi yg masih merasa berat, menyimpan kesedihan atau kekecewaan terhadap ...
20/03/2026

PERBAIKI MINDSET "SUKSES & BAHAGIA" DALAM HIDUP
Bagi yg masih merasa berat, menyimpan kesedihan atau kekecewaan terhadap takdir hidupannya.

Kita tumbuh dengan keyakinan:
Sekolah supaya sukses,
Kerja supaya kaya
Menikah supaya Bahagia,
Punya anak supaya lengkap

Tapi realitasnya..?

Semakin tinggi target kenyamanan, semakin tinggi potensi kecewa.

Masalahnya bukan pada ujiannya.
Masalahnya pada ekspektasi bahwa hidup harus nyaman.

Padahal ALLAH tidak pernah menjanjikan hidup nyaman didunia.
ALLAH menjanjikan hidup bernilai.

Mari kita pelan-pelan turunkan ekspektasi… dan naikkan keimanan

Semoga Bermanfaat

🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰

04/03/2026

PENTINGNYA KEYAKINAN / OPTIMISME

01/03/2026

SEHAT & BAHAGIA DENGAN RAMADHAN
Bagaimana Puasa mampu menyembuhkan penyakit & membahagiakan
pahami caranya agar puasa kali ini benar-benar terasa efeknya untuk jiwa kita

Marhaban Ya Ramadhan
17/02/2026

Marhaban Ya Ramadhan

15/02/2026

MARHABAN YA RAMADHAN

🕋🕋🕋🕋🕋🕋*RENUNGAN MALAM*_Kisah Naufal – Ahli Puasa yang Lupa Hatinya_Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang pe...
06/02/2026

🕋🕋🕋🕋🕋🕋
*RENUNGAN MALAM*
_Kisah Naufal – Ahli Puasa yang Lupa Hatinya_

Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Naufal. Wajahnya teduh, ucapannya lembut, dan ibadahnya membuat banyak orang kagum.
Ia jarang terlihat makan di siang hari.
Senin–Kamis ia berpuasa.
Bulan-bulan haram ia tambah puasanya.
Bahkan kadang ia menjalankan puasa Daud tanpa banyak orang tahu.
Orang-orang berkata,
"Kalau ingin melihat pemuda yang dekat dengan Allah, lihatlah Naufal."

Awalnya, semua itu tak mengubah hatinya. Ia berpuasa karena ingin menundukkan hawa nafsu, ingin hatinya ringan dalam salat malam.
Namun setan tidak pernah menyerang secara terang-terangan.
Ia datang lewat rasa kagum pada diri sendiri.

🌒 *Bisikan yang Halus*
Suatu sore, Naufal duduk di masjid menunggu waktu berbuka. Seorang pemuda lain terlihat minum di sudut halaman.
Bisikan itu datang pelan:
*"Lihat… mereka tak sekuat kamu."*
*Naufal tidak menjawab, tapi ia mengangguk kecil dalam hati.*
*Hari demi hari, perasaan itu tumbuh.*
*Ia mulai memperhatikan siapa yang berpuasa dan siapa yang tidak.*
*Ia mulai merasa berbeda. Lebih tinggi. Lebih disiplin.*
*Tanpa sadar, puasanya tak lagi sekadar menahan lapar* —
*ia juga “menikmati” rasa lebih baik dari orang lain.*

🌒 Ujian Datang dari Rumah
Suatu pagi, ibunya mengetuk pintu kamarnya.
“Naufal, hari ini temani Ibu ke dokter ya. Ibu pusing sejak semalam.”
Naufal terdiam. Hari itu ia sedang puasa sunnah.
“Ibu… boleh besok saja? Hari ini aku puasa.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Tak apa, Nak. Ibu bisa minta tetangga.”
Sepanjang hari, Naufal merasa bangga bisa mempertahankan puasanya. Ia merasa kuat. Taat. Konsisten.
Tapi sore harinya, adiknya p**ang dengan wajah cemas.
“Bang… Ibu hampir pingsan di jalan tadi.”
Kalimat itu seperti batu menghantam dadanya.

🌒 Retakan di Hati
Malam itu Naufal salat, tapi sujudnya terasa berat.
Doanya kering.
Air matanya tak jatuh seperti biasanya.
Ia sadar sesuatu telah bergeser.
Ia berpuasa… tapi menolak kesempatan berbakti.
Ia menahan lapar… tapi memberi makan egonya.
Ia menjaga amal… tapi melukai hati ibunya.
Di tengah malam, ia menangis.
“Ya Allah… aku lebih mencintai puasaku daripada ridha-Mu. Aku lebih takut batal puasa daripada gagal berbuat baik.”
Saat itulah ia mengerti —
setan tidak menyuruhnya berhenti puasa.
Setan hanya membuatnya lupa tujuan puasa.

🌒 Kesadaran yang Menyelamatkan
Sejak hari itu, Naufal tetap berpuasa.
Namun kini ia lebih sering bertanya pada hatinya:
“Apakah ini membuatku lebih dekat kepada Allah… atau hanya membuatku merasa lebih baik dari orang lain?”
Ia jadi lebih lembut pada orang yang tidak berpuasa.
Lebih cepat membantu orang tua.
Lebih banyak menyembunyikan amal.
Karena ia belajar satu pelajaran besar:
*Ibadah yang membuat hati keras adalah tanda ada yang salah di dalam niat.*
Dan sejak itu, Naufal tidak lagi takut lapar.
Ia justru takut jika hatinya kembali dipenuhi rasa lebih suci dari orang lain.

Pesan kisah:
Setan tak selalu menggoda dengan dosa.
Kadang ia membiarkan kita beramal…
lalu mencuri keikhlasan dan kerendahan hati sedikit demi sedikit.

Copas FB Chanel Irfan

01/02/2026

SEHAT & BAHAGIA DENGAN PUASA

31/01/2026

Address

Jalan Maulana Hasanudin
Tangerang
15148

Opening Hours

Saturday 08:00 - 17:00
Sunday 08:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Terapi Qur'an Tangerang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn
Share on Pinterest Share on Reddit Share via Email
Share on WhatsApp Share on Instagram Share on Telegram