28/03/2026
MELURUSKAN KESALAHAN BERPIKIR
Menafsirkan ayat Al-Qurโan tidak bisa tidak mesti mengacu pada pakem ulama ahli tafsir. Bila tidak, potensi salahnya sangat besar, apalagi bila sang penafsir awam tentang kitab-kitab tafsir, ulumul qurโan, dan kaidah tafsir.
Contoh ayat yang kerap dikutip penceramah atau motivatorโlalu menafsirkannyaโadalah Surat Ar-Raโd ayat 11 berikut:
ูููู ู
ูุนููููุจูุงุชู ู
ููู ุจููููู ููุฏููููู ููู
ููู ุฎููููููู ููุญูููุธูููููู ู
ููู ุฃูู
ูุฑู ุงูููู ุฅูููู ุงูููู ููุง ููุบููููุฑู ู
ูุง ุจูููููู
ู ุญูุชููู ููุบููููุฑููุง ู
ูุง ุจูุฃูููููุณูููู
ู ููุฅูุฐูุง ุฃูุฑูุงุฏู ุงูููู ุจูููููู
ู ุณููุกูุง ููููุง ู
ูุฑูุฏูู ูููู ููู
ูุง ููููู
ู ู
ููู ุฏูููููู ู
ููู ููุงูู
Artinya: โBagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Diaโ (QS Ar-Raโd: 11).
Ayat di atas sering dipotong oleh sebagian kalangan dengan hanya mengambil bagian ayat berikut :
ุฅูููู ุงูููู ููุง ููุบููููุฑู ู
ูุง ุจูููููู
ู ุญูุชููู ููุบููููุฑููุง ู
ูุง ุจูุฃูููููุณูููู
ู
Artinya: โSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.โ
Ayat ini digunakan sebagai ayat motivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.
Tafsiran seperti ini bertentangan dengan realitas lapangan. Berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan membanting tulang, kaki di kepala dan kepala di kaki, demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tapi berapa persen dari mereka yang berhasil?
Ayat Al-Qurโan merupakan sebuah kepastian. Jika diartikan bahwa perubahan nasib menjadi lebih baik di tangan seseorang, tentu tidak akan ada orang gagal dari usahanya. Buktinya tidak demikian. Selain itu, keyakinan bahwa semua kesuksesan dikembalikan kepada pribadi seseorangโbaru Allah mengikutinyaโmerupakan bagian dari doktrin Muโtazilah. Dalam paham ini, perilaku hamba menentukan segalanya.
Lalu bagaimana tafsir ulama pada ayat di atas?
ูููู ู
ูุนููููุจูุงุชู ู
ููู ุจููููู ููุฏููููู ููู
ููู ุฎููููููู ููุญูููุธูููููู ู
ููู ุฃูู
ูุฑูุงูููู
Sebagian ulama, sebagaimana dikutip oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia selalu didampingi oleh malaikat siangโmalam yang silih berganti. Malaikat siang datang, pada saat itu juga malaikat malam meninggalkan seseorang. Saat sore, malaikat siang pergi sedangkan malaikat malam mulai datang.
Menurut sebagian ulama, malaikat yang silih berganti ini bernama malaikat hafadzah.
ุฅูููู ุงูููู ููุง ููุบููููุฑู ู
ูุง ุจูููููู
ู ุญูุชููู ููุบููููุฑููุง ู
ูุง ุจูุฃูููููุณูููู
ู
Masih menurut At-Thabari, maksud ayat ini justru menjelaskan bahwa semua orang itu dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri dengan bersikap zalim dan saling bermusuhan kepada saudaranya sendiri.
ูููู ุชุนุงูู ุฐูุฑู: (ุฅู ุงููู ูุง ูุบูุฑ ู
ุง ุจููู
)ุ ู
ู ุนุงููุฉ ููุนู
ุฉุ ููุฒูู ุฐูู ุนููู
ููููููู
= (ุญุชู ูุบูุฑูุง ู
ุง ุจุฃููุณูู
) ู
ู ุฐูู ุจุธูู
ุจุนุถูู
ุจุนุถูุงุ ูุงุนุชุฏุงุก ุจุนุถูู
ุนูู ุจุนุถุ
Artinya: โ(Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum) yang berupa sehat sejahtera dan penuh kenikmatan kemudian kenikmatan itu menjadi dibuang dan dirusak oleh Allah, (sampai mereka mengubah sesuatu yang ada para pribadi mereka) yaitu dengan sikap dzalim antar sesama dan permusuhan terhadap orang lainโ (Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jamiโul Bayan fi taโwilil Quโan, [Muassasah ar-Risalah: 2000], juz 16, hlm. 382).
Ayat di atas menunjukkan bahwa hakikat setiap manusia itu sebagai orang yang berhak mendapatkan kenikmatan penuh, karena pada dasarnya mereka adalah suci sebagaimana dalam ayat:
ููุทูุฑูุฉู ุงูููู ุงูููุชูู ููุทูุฑู ุงููููุงุณู ุนูููููููุง
Artinya: โ(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah ituโ (QS Ar-Rum: 30).
Dalam hadits, Rasulullah bersabda:
ููููู ู
ููููููุฏู ูููููุฏู ุนูููู ุงูููุทูุฑูุฉูุ
Artinya: โSetiap anak dilahirkan dalam keadaan suciโ (HR Bukhari).
Jika setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tentu dia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan kenikmatan dari Allah. Perubahan status menjadi Majusi, Yahudi, Nasrani adalah andil orang tua atau dirinya sendiri. Berbeda dengan pemahaman jika semua nasib orang itu buruk, untuk mendapatkan nasib yang baik harus mengubahnya. Ini tidak sesuai dengan pemahaman para ulama ahli tafsir.
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan:
ูููููููู ุชูุนูุงููู: (ุฅูููู ุงูููู ููุง ููุบููููุฑู ู
ูุง ุจูููููู
ู ุญูุชููู ููุบููููุฑููุง ู
ูุง ุจูุฃูููููุณูููู
ู) ุฃูุฎูุจูุฑู ุงูููู ุชูุนูุงููู ููู ููุฐููู ุงููุขููุฉู ุฃูููููู ููุง ููุบููููุฑู ู
ูุง ุจูููููู
ู ุญูุชููู ููููุนู ู
ูููููู
ู ุชูุบููููุฑูุ ุฅูู
ููุง ู
ูููููู
ู ุฃููู ู
ููู ุงููููุงุธูุฑู ููููู
ูุ ุฃููู ู
ูู
ูููู ูููู ู
ูููููู
ู ุจูุณูุจูุจูุ ููู
ูุง ุบููููุฑู ุงูููู ุจูุงููู
ูููููุฒูู
ูููู ููููู
ู ุฃูุญูุฏู ุจูุณูุจูุจู ุชูุบููููุฑู ุงูุฑููู
ูุงุฉู ุจูุฃูููููุณูููู
ูุ ุฅูููู ุบูููุฑู ููุฐูุง ู
ููู ุฃูู
ูุซูููุฉู ุงูุดููุฑููุนูุฉูุ ููููููุณู ู
ูุนูููู ุงููุขููุฉู ุฃูููููู ููููุณู ููููุฒููู ุจูุฃูุญูุฏู ุนููููุจูุฉู ุฅููููุง ุจูุฃููู ููุชูููุฏููู
ู ู
ููููู ุฐูููุจูุ ุจููู ููุฏู ุชูููุฒููู ุงููู
ูุตูุงุฆูุจู ุจูุฐููููุจู ุงููุบูููุฑูุ ููู
ูุง ููุงูู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู- ููููุฏู ุณูุฆููู ุฃููููููููู ูููููููุง ุงูุตููุงููุญููููุ ููุงูู- ููุนูู
ู ุฅูุฐูุง ููุซูุฑู ุงููุฎูุจูุซู
Artinya: โSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.โ Dalam ayat ini Allah member tahu bahwa Ia tidak mengubah suatu kaum sehingga ada salah satu di antara mereka ada yang mengubahnya. Bisa jadi dari golongan mereka sendiri, pengamat, atau faktor penyebab yang masih mempunyai hubungan sebagaimana para pas**an yang dikalahkan pada saat perang Uhud disebabkan penyelewengan yang dilakukan oleh ahli panah. Demikian p**a contoh-contoh dalam syariโat.
Ayat ini tidak mempunyai arti bahwa kekalahan perang Uhud murni disebabkan perilaku dosa seseorang, tapi terkadang musibah-musibah itu turun disebabkan oleh dosanya orang lain sebagaimana sabda Nabi Muhammad ketika ditanya salah seorang โWahai Rasul, apakah kita akan mengalami kehancuran sedangkan di antara kita ada yang shalih?โ
Jawab Nabi โYa, jika ada banyak pelaku zinanyaโ (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, [Darul Kutub al-Mishriyyah: Kairo, 1964], juz 9, hlm. 294).
Kedua tafsir tersebut, baik ath-Thabari maupun al-Qurthubi, sepakat bahwa manusia pada dasarnya menerima anugerah kenikmatan tapi perilaku manusia dapat mengubah kenikmatan itu menjadi keburukan atau musibah. Hanya saja, Imam al-Qurthubi berpendapat, faktor berkurangnya atau hilangnya kenikmatan yang diterima hamba itu tidak tunggal. Menurutnya, faktor itu bisa murni bersumber dari kesalahan hamba itu sendiri, bisa p**a dari kesalahan anggota keluarga atau komunitas sekitarnya, sebagaimana terjadi pada perang Uhud. Pas**an Muslimin pada perang Uhud kalah bukan lantaran kesalahan semua pas**an, tapi ada kesalahan beberapa individu saja tapi orang lain mendapatkan getahnya. Dengan bahasa lain, kesalahan segelintir orang itu berdampak sistemik lalu menggoyahkan kekuatan kelompok secara keseluruhan.
Dalam kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Taโwil, Imam Baidhawi juga menyatakan:
ุฅูููู ุงูููู ูุงู ููุบููููุฑู ู
ูุง ุจูููููู
ู ู
ู ุงูุนุงููุฉ ูุงููุนู
ุฉ. ุญูุชููู ููุบููููุฑููุง ู
ูุง ุจูุฃูููููุณูููู
ู ู
ู ุงูุฃุญูุงู ุงูุฌู
ููุฉ ุจุงูุฃุญูุงู ุงููุจูุญุฉ
Artinya: โSesungguhnya Allah tidak mengganti sesuatu yang ada pada kamu dari kesehatan dan kenikmatan sampai mereka mengubah dengan individu mereka dari keadaan yang baik dengan keadaan yang buruk. (Al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Taโwil, [Daru Ihyait Turats al-Arabi: Beirut), juz 3, hal. 183)
Menjadikan ayat tersebut untuk memotivasi orang agar berbuat yang terbaik dan berjuang maksimal merupakan langkah positif. Hanya saja perlu dicatat, perjuangan dalam konteks ayat tersebut bukan mengubah yang buruk menjadi baik, tetapi merawat agar anugerah yang baik-baik dari Allah tak berubah menjadi buruk karena perilaku kita.
Meski sekilas terlihat mirip, kedua sikap di atas sejatinya berangkat dari paradigma yang berbeda. Yang pertama berangkat dari "keangkuhan" akan potensi diri sendiri, sementara yang kedua berlandaskan pada keyakinan bahwa semua yang Allah berikan pada dasarnya baik, dan kita berkewajiban memeliharanya dengan baik. Poin terakhir ini mengandaikan ketergantungan yang kuat kepada Allah subhanahu wata'ala. Wallahu aโlam.
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Qurโan an-Nasimiyyah, Semarang, Jawa Tengah
Sumber:
Menjadikan ayat tersebut untuk memotivasi orang agar berbuat yang terbaik dan berjuang maksimal merupakan langkah positif. Hanya saja perlu dicatat, perjuangan dalam konteks ayat tersebut bukan mengubah yang buruk menjadi baik