25/02/2015
Dokter: Deteksi Dini Kanker Serviks Bisa Dilakukan Sendiri
Data World Health Organization (WHO) mengungkap, kanker mulut rahim atau kanker serviks berada pada peringkat kedua penyebab kematian wanita. Lebih lanjut, Kementerian Kesehatan (Kemkes) dan Yayasan Kanker Indonesia pada tahun 2012 menyatakan, setiap tahunnya sekitar 15.000 perempuan Indonesia terdeteksi kanker serviks dan 8.000 perempuan meninggal karena terjangkit kanker serviks.
“Sekitar 70-80 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 yang bersifat onkogenik atau memiliki kemungkinan kanker paling tinggi. Penyebaran HPV seringkali terjadi tanpa disadari mulai dari hubungan seksual yang aktif, hingga gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan tidak memperhatikan pola makanan yang dikonsumsi setiap hari,” ungkap dr. Ricky Susanto, M.Kes, Sp.OG, Spesialis Obgyn Bethsaida Hospitals, dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (14/2).
Salah satu kendala dalam memerangi kanker serviks di Indonesia adalah rendahnya kesadaran serta pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya ditemukan penderita kanker yang masih berada pada tahap awal. Sehingga, 70 persen penderita kanker di Indonesia sudah berada pada stadium lanjut. Dr Ricky Susanto menyayangkan mitos yang mengatakan kanker serviks merupakan penyakit yang tidak dapat dideteksi.
“Para wanita dapat lebih memperhatikan apabila terdapat gejala seperti keputihan yang lama, pendarahan, serta timbul rasa nyeri. Karena hal-hal tersebut menunjukkan gejala awal kanker serviks. Apabila Anda mulai merasakan rasa sakit ketika buang air kecil, susah Buang Air Besar (BAB), batuk darah, dan mengalami kelumpuhan, maka menunjukkan Anda telah berada pada stadium lanjut, ” tambah dr Ricky Susanto.
Apabila sel kanker telah menyebar, tentunya pasien dapat segera mengambil salah satu dari program penyembuhan berikut: destruksi, yaitu metode pengobatan kanker serviks dengan cara dirusak secara lokal melalui pemanasan atau pendinginan; pembedahan cone biopsy, yaitu dengan memotong leher rahim; pengangkatan rahim dan sekitarnya; kemoterapi; serta radioterapi, yaitu terapi radiasi/sinar.
“Dengan semakin majunya teknologi kedokteran, selain metode pengobatan kanker serviks yang telah ada saat ini, saya optimis nantinya akan ditemukan pengobatan kanker serviks yang lebih baik lagi bagi pasien. Namun, tahap pencegahan akan selalu lebih baik daripada pengobatan. Meskipun merupakan penyakit pembunuh wanita nomor dua di Indonesia, kanker serviks merupakan jenis penyakit yang mudah untuk dideteksi. Saat ini hampir semua rumah sakit telah memiliki pelayanan untuk pendeteksian dini, melalui papsmear, kolposkopi, dan vaksinasi. Pendeteksian dengan papsmear dilakukan pada sel-sel mulut rahim di bawah mikroskop. Selain sederhana dan mudah, tingkat kepekaannya mencapai 60-95 persen,” lanjut dr. Ricky Susanto.
Sedangkan bagi wanita muda yang belum aktif secara seksual, sangat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi kanker serviks. Vaksin HPV ini dilakukan dalam tiga tahap penyuntikan yang dilakukan dalam kurun waktu enam bulan. Berbagai pilihan untuk pencegahan kanker serviks yang ada saat ini merupakan pilihan yang pantas untuk dipertimbangkan mengingat risiko yang dapat ditimbulkan dari kanker serviks. Beberapa pilihan pengobatan seperti kemoterapi dan radiasi tidak hanya meninggalkan rasa sakit pada tubuh, tetapi juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dalam proses penyembuhannya. Dengan biaya pengobatan yang tidak sedikit, tentunya perlawanan kanker serviks dengan cara pendeteksian sedini mungkin merupakan pilihan yang cukup bijaksana.
Cara Mengobati Kanker Serviks : http://obathipertensitradisional.jellygamatluxor.biz/obat-herbal-kanker-serviks/