30/03/2026
Prihatin… iya,
Terharu… iya,
Apalah daya kalau sudah begini…
Saya sebagai seorang bidan sangat sedih membaca cerita curahan seorang bumil ini 😭
" 39 minggu mengandung. Suami t4mpar 2x Tengah malam, saya ke rumah sakit seorang diri, sudah masuk 39 minggu mengandung, tinggal tunggu hari bersalin "
Tapi dua malam ini , hanya karena satu kata dari mertua, suami saya tampar saya dua kali.
Saya gk nangis.
Gk menjerit.
Gak ribut.
Saya cuma bawa tas utk melahirkan... dan tengah malam tlfn Grab, pergi ke rmh sakit sendirian.
Di ruangan, perawat melihat wajah saya yg bengkak dan perut yang besar. Dia terkejut, dan ambil kursi roda. Di sana gk banyak orang,dan saya mulai termenung.
"status sudah menikah".
Berhenti menulis sejenak... akhirnya saya menulis: " menikah."
Padahal... hati saya waktu itu sudah retak.
hanya terdengar suara mesin pelan.
Saya pegang perut yang keras. Bayi di dalam perut pun tiba² tendang, seperti dy membujuk saya : "Mama, jangan takut."
Tiga hari lalu, dokter bilang bayi sudah masuk bawah, bisa melahirkan kapan saja.
Waktu itu, suami tersenyum, dan bilang mau cuti temani saya.
Sekarang kalo ingat perkataan itu, rasanya kyak kaca yg pecah ddalam jantung. Sudah malam, sejuk. Saya buka tas, ambil jaket tipis.
Baru teringat....
dalam tas itu ada pisau cukur yang saya sediakan untuk dia.
Seminggu lalu saya masukkan - sebab saya pikir, "kalau dia temani saya melahirkan, biarlah dia melihatnya."
Saya tatap pisau itu lama, dan kemudian...
saya buang di tong sampah.
LUCU. Terlalu lucu untuk jadi sedih.
Perawat datang ukur tekanan darah, dengar detak jantung bayi.
Bayi bergerak lagi.
Perawat tersenyum:
"Bayinya aktif, kayak udah gk sabar lihat mamanya." Saya sdikit tersenyum. Tapi dalam hati saya berfikir:
Ayah dia akan ada gk nanti? Setelah itu saya sadar -
eh... mungkin sudah gk penting.
Pukul 4 pagi, handphone bawah bantal bergetar tidak berhenti.
Nama suami muncul.
Saya lihat hampir seminit. Setelah itu saya matikan.
Lima menit kemudian, dia telfon lagi. Saya terus matikan. Dan saya off kan hp.
Ruangan penuh, saya ditempatkan dalam ruangan tiga orang.
Sebelah tempat tidur, seorang kakak baru selesai melahirkan. Bayinya menangis sdikit.
Suara itu tak mengganggu. Sebaliknya, buat saya rasa lebih hidup.Setidaknya... dalam ruangan ini, semua orang masih manusia.
Pagi sekali, perut saya tiba-tiba rasa ditarik kuat. Badan seperti di remas.
Saya lipat kaki, tahan nafas.
ibu di sebelah terus tanya: "Dik, kontraksi yaa?"
Saya angguk.
Dia terus tekan loceng:
"Cepat panggil bidan! Ini dah 39 minggu, mungkin saja sudah mau lahir!"
Perawat datang dgn cepat, pasang alat di perut.
"Kontraksinya cantik. Setiap 5-6 minit. siap masuk ruangan bersalin.Saya usap perut. dan terasa tendangan dari dalam.
Seperti mengatakan:
"Mama, kita bisa."
waktu saya berganti pakaian rmh sakit...
dan dokumen cerai yang saya buat diam² seminggu lalu.
sehabis melahirkan pun bisa digunakan.
Tak banyak harta untuk berebut. Rumah - keluarga dia beli sebelum menikah.
Kereta - nama saya.
tabungan pun masih ada.
Cukup untuk saya dan anak bertahan.Sebelum masuk ruang bersalin, ibu² tadi beri coklat.
"Makan sedikit untuk tenaga."
Saya genggam coklat itu.
Hangat.
Di pintu, cahaya matahari pagi masuk lorong rumah sakit.
Terang sekali.
Saya sentuh p**i kiri. Masih sakit kebas dia tampar saya malam itu.
Aneh...
rasa sakit itu dah gak terlalu sakit krna sdah menerima kenyataan.
Saya nyalakan hp lagi.
Berderet pesan masuk.Suami:
"Maaf."
"Aku salah."
"Baliklah".
Mertua:
"Mamak gak sengaja."
"Jangan memperbesar masalah."
mama kandung saya:
"Mamak beli tiket sekarang. Sore mamak sdh sampai."
Saya balas mama:
"Mamak, jangan cemas. Saya baik² saja mak. Habis melahirkan nanti saya kabari lagi."
Setelah itu... saya simpan telfon dalam tas.
Saya ikut perawat masuk ruang bersalin. Kontraksi datang lagi.
Kali ini...
saya gk menangis.Saya tarik nafas, dalam hati.
Karna akhirnya saya faham satu hal:
Hidup ini saya yang jalani. Anak ini, milik saya.
Tentang status "istri" itu? Kalau perlu rusak... Rusakkan saja.
Gak mati jg kan
Ini adalah cerita dari seorang ibu, masih banyak cerita sedih yang di alami ibu ibu hamil yang lebih sedih yang mereka simpan sendiri.