22/08/2025
Banyak orang mengira nyeri hanya soal tubuh, sementara stres hanya soal pikiran. Padahal, keduanya punya hubungan yang sangat erat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nyeri dan stres bisa membentuk lingkaran setan: nyeri memicu stres, lalu stres memperparah rasa nyeri. Akibatnya, kondisi kesehatan semakin menurun.
Dari sisi tubuh, stres membuat otot menegang, hormon kortisol meningkat, dan sistem imun melemah. Jika berlangsung lama, muncul peradangan dan gangguan tidur yang memperkuat rasa sakit. Dari sisi pikiran, ketakutan berlebihan untuk bergerak (fear avoidance), kewaspadaan tinggi (hypervigilance), hingga pikiran negatif (catastrophizing) membuat nyeri terasa semakin berat. Sementara itu, faktor sosial seperti tekanan pekerjaan, kesepian, atau gaya hidup tidak sehat juga ikut memperburuk keadaan.
Jika siklus nyeri–stres dibiarkan, dampaknya bisa serius: produktivitas menurun, hubungan sosial terganggu, mood memburuk, bahkan risiko penyakit kronis meningkat.
Namun kabar baiknya, siklus ini bisa diputus. Caranya antara lain dengan manajemen stres (relaksasi, meditasi, pernapasan), aktivitas fisik teratur (jalan kaki, senam ringan), dukungan psikologis (konseling atau terapi kognitif), serta gaya hidup sehat (tidur cukup, nutrisi seimbang, menjaga hubungan sosial).
Pesan pentingnya: nyeri dan stres bukan masalah terpisah, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama. Dengan pendekatan menyeluruh, keduanya dapat dikelola sehingga kualitas hidup kembali meningkat.